11. Bertemu Lagi

4.6K 267 4
                                        

Byan merebahkan badannya di bawah pohon rindang, kebetulan sekali taman rumah sakit memiliki satu pohon besar yang sengaja tidak ditebang. Belum lagi alasnya yang merupakan rerumputan hijau, membuat Byan tergiur untuk tidur di atasnya.

Perlahan mata Byan terasa berat, ingin menyusuri alam mimpi lebih jauh lagi, tapi seseorang malah menepuk pipinya tanpa belas kasihan.

Byan mengeram kesal, ingin memukul orang itu dengan kekuatan penuh. Namun, dilihatnya itu adalah Dhafin, Byan urung. Karena Byan masih banyak hutang budi kepada Dhafin terutama kepada dokter Laka.

"Kenapa ke sini, bukannya cuci darah jam satu siang, ya? Jadwal kerjanya gimana?"

Byan memandang Dhafin yang sedang menyiapkan dua bungkus nasi di hadapan Byan. Karena itu Byan merubah posisinya menjadi duduk bersila. "Izin, lagi nggak mood nyanyi," jawab Byan seadanya.

Tapi tentu Dhafin tidak mudah percaya. "Perasaan mood kamu bagus kalau diajak nyanyi. Bohongin Kak Dhafin dosanya besar, loh," balas Dhafin.

Byan mendegus sebal, memandang Dhafin yang pekanya idaman sekali. Tapi walaupun begitu Dhafin tempat. ceritanya, jadi dengan begitu Byan tidak pernah ragu untuk cerita.

"Sebenarnya aku ngeliat mereka ada di kota ini, lebih tepatnya ke kafe. Untungnya aku belum masuk ke sana buat mulai kerja."

Dhafin mengakat sebelah alisnya, tentu dirinya paham dengan kata 'mereka' yang Byan ucapkan.

Sambil menunggu Byan menyelesaikan cerita, Dhafin memberikan nasi bungkus yang dibelinya di kanti rumah sakit kepada  Byan.

"Kayaknya mereka ngejar-ngejar aku karena jual apartemen, deh," celetuk Byan, seketika membuat Dhafin menoleh panik.

Kepalanya langsung pusing, memikirkan nasib sang ayah. "Kalo kamu ketangkep, Papa kena dong," panik Dhafin mengaruk kepalanya yang tidak gatal.

Tapi respon Dhafin itu lebay, tidak mungkin juga Byan akan membuka rahasia kalau tertangkap.

Mata Byan menatap jengah Dhafin. "Makannya siap-siap jadi tulang punggung keluarga, bukannya jam kerja malah kelayapan. Lagian tahu dari mana aku ada di sini?" jawab Byan kesal.

Tapi sekarang giliran Dhafin yang mendegus sebal, ia mengacak-ngacak rambut Byan hingga puas.

Sang korban tentu tidak terima, ia mengambil tangan Dhafin lalu megigitnya tanpa ampun.

"Aduh!" pekik Dhafin, yang tidak Byan hiraukan. Lebih baik makan hingga perutnya kenyang.

"Lagian Kakak kerjanya jam satu siang, ya," jelaskan Dhafin sambil mengusap tangannya yang kena gigit. "Satu rumah sakit juga tahu kamu siapa, masak nggak lapor ke Kakak."

Byan melirik Dhafin sebentar, lalu lanjut makan lagi. Tidak peduli pada wajah kesal kakaknya yang kalah bertarung melawannya.

Biarkan saja Byan menjadi orang tidak peka, karena karakter mereka memang bertolak belakang.

***
Byan berjalan di lorong rumah sakit mengenakan masker dan topi dari baju hoodienya. Byan berjalan sendiri, karena Dhafin ada pekerjaan mendadak. Sebagai anak pemilik rumah sakit, Dhafin bertanggung jawab untuk banyak hal.

Jalan Byan sangat santai, menuju ruangan cuci darah yang telah biasa Byan masuki. Tapi tetap saja, seseorang malah menabraknya membuat Byan sedikit terdorong.

"Maaf. Saya tidak lihat karena panik," ucapnya yang sambil memperhatikan wajah Byan yang meringis kesakitan di balik masker.

Byan mengangguk saja, kepalanya yang sedikit menunduk diangkat, tapi saat mendapati wajah orang di depannya, mata Byan langsung membelalak kaget.

Dari pandangan matanya, Byan melihat ada bercak darah di baju si penabrak, yang tidak lain adalah Alfa.

"Kenapa dunia sempit sekali, si?" batin Byan.

Karena melihat orang di depannya hanya diam, Alfa menyetuh bahu Byan. "Byan?" panggil Alfa ragu.

Reflek Byan menepis tangan Alfa dari bahunya, ia mundur beberapa langkah guna membuat jarak yang lebih besar. Sama seperti kehidupan mereka selama ini, berjarak dengan tebing yang curam.

"Kamu mau pake masker, topi, ataupun nindik telinga, sampai ubah warnau rambut, Kakak tetap tahu itu kamu." Kali ini Alfa berkata lebih yakin.

Ia mendekati Byan dengan melangkah maju, tapi sebaliknya yang didekati malah melangkah mundur.

"Kenapa kamu pergi, kamu kabur ke kota yang jauh begini?"

"Masih mau bertanya alasannya apa?" jawab Byan dalam hati. Kalau dijawab langsung, bisa ketahuan penyamarannya.

Namun, semakin Byan mundur, semakin Alfa membuat langkah lebih lebar. Alfa benar-benar hampir bisa menyetuh Byan kalau tidak Dhafin tiba-tiba muncul untuk menjadi tameng.

Alfa berhenti berjalan, ia memasukkan kembali tangannya ke dalam saku celana. "Keluarga dari pasien bernama Alfan?"

Dengan mata terus mengamati Byan yang ada di belakang Dhafin, Alfa mengangguk. "Saya Kakaknya."

"Lukanya tidak serius, tangannya hanya mendapat dua jahitan. Hari ini sudah bisa pulang," jelaskan Dhafin yang langsung menarik Byan untuk berdiri di sisinya. "Ouh iya, maaf kalau adik saya membuat masalah."

"Adik?" kaget Alfa, tapi Dhafin hanya mengangguk tipis, mengajak Byan untuk pergi ke ruang cuci darah segera.






Lilin Kecil (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang