"Kamu kalau mau setuju untuk tidak terluka, berhenti begadang, mau makan sehat, dan minum obat teratur, Kak Dhafin akan membiarkan kamu cuci darah sekali seminggu. Kebetulan Kakak sudan konsultasi dengan dokter di rumah sakit."
Satu anggota keluarga Praja hanya menyimak nasehat Dhafin. Kebetulan anak dokter Laka itu sedang menginap di rumah mereka, tentunya untuk menemani Byan.
Walaupun sang kakak kembar iri, mereka tetap mengizinkan. Selama itu yang menginap Dhafin, dan keromantisan saudara kandung malah terletak pada mereka berdua, ditamabah Bimo yang sering main ke sini.
Alfan dan Alfa selalu berkata tidak apa-apa, yang penting Byan bahagia.
Sementara Byan yang mendengar itu sedikit bimbang, ia memandang Brayen yang tampak menunggu keputusannya.
"Kalau Byan berhenti nyanyi di kafe masih bisa, cuma kalah job ...." Byan ragu-ragu untuk menyampaikannya.
Tapi Brayen selalu paham, dia mengangguk mantap. "Boleh, asal itu masih dikontrol sama kak Alfa." Brayen akhirnya memutuskan.
Kenapa Alfa yang dipilih? Jelas karena Brayen tahu, kalau hanya Alfa yang Byan paling ditakuti. Si sulung dari keluarga ini selalu mengandalkan perbuatan bukan kata-katanya. Jadi sudah pasti semua tunduk kepada Alfa.
Dhafin yang juga telah mendapatkan keputusan final merasa lega. Ia mengambil tasnya yang ada di kursi meja makan.
"Kamu tidak sarapan dulu?" tanya Daniara, yang sudah siap memulai sarapan.
Tapi Dhafin langsung menggeleng sambil tersenyum lembut. "Lagi buru-buru Tante. Mau ada rapat pagi," jawab Dhafin, yang setelahnya langsung memandang Byan.
Dhafin yang sayang dengan Byan melebihi segalanya mengelus rambuta anak itu. Sebetulnya masih ada Bimo di atas Byan, tapi Dhafin juga tidak bohong kalau sayang menyayangi Byan.
"Inget jaga diri, Kak Dhafin nggak mau denger kamu kenapa-kenapa," peringatkan Dhafin.
Pria itu langsung berpamitan pergi setelahnya. Karena memang sangat jarang ia bisa bebas sepanjang waktu, rumah sakit sedang ada perbaikan besar-besaran. Untuk membangun rumah sakit lebih maju.
***
Setelah jam delapan semua selesai sarapan, Alfa dan Alfan tampak siap berangkat bekerja dengan map di tangannya, sementara sang ayah sudah sibuk menelpon klien, dan jangan tanyakan ibunya. Terdengar dia sedang merencanakan sebuah arisan.
Hanya Byan yang tidak punya kegiatan, dia menatap orang-orang dengan malas. Matanya menelisik setiap orang yang terlalu fokus, hingga suara geretan koper mengalihkan perhatian mereka.
Brayen adalah orang pertama yang sangat terkejut, dia merasa tidak percaya kalau Mentari akan kembali ke Indonesia.
"Kenapa kamu pulang?" tanya Brayen tidak percaya dengan kedatangan sang adik.
Mentari hanya tersenyum, ia memandang Byan diantara banyaknya orang dengan tatapan yang sulit diartikan.
Daniara sampai menaruh ponselnya di atas meja, memandang Mentari yang terlihat lelah. Perjalanan dari Singapura ke Bandung pasti sangat melelahkan.
"Apa ada hal mendesak?" Brayen menyuruh pelayan untuk mengambil tas Mentari. Takut adiknya itu kelelahan padahal belum sembuh.
"Kalian sudah tahu, kan?" tanya Mentari dengan perasaan bersalah. "Maafkan Nara, ini salahku," ucap Mentari lagi.
Semua orang saling pandang, mereka memikirkan satu hal yang sama. Namun, tidak ada diantara mereka berani menjawab ataupun mengeluarkan pernyataan.
"Nara banyak salah, tapi kalian memaafkannya. Nara sudah cerita lewat telepon. Katanya kalian tidak pernah berubah. Terima kasih banyak, karena kalian tetap memberikan perlindungan." Mentari merasa haru, ia tidak segan menangis di hadapan mereka.
Mentari berjalan mendekati Byan, menggegam kedua tangannya. Tapi sikap anak itu terlalu waspada, dia amat tahu siapa sebenarnya dalang dari masalah ini.
Namun, Mentari malah menangis keras di hadapan Byan. "Maaf, Tante benar-benar minta maaf. Kamu harusnya tidak mengalami hal seperti sekarang gara-gara Nara."
Byan dengan gerakan lembut melepaskan tangan tantenya. Bukan karena kasihan, dia hanya tidak ingin memperpanjang masalah.
Karena semuanya sempat larut dalam pemikiran sendiri, Byan memutuskan angkat suara.
"Bukan masalah, semua sudah berjalan sejauh ini," jawab Byan dengan hati dongkol.
Dirinya sudah berpikir banyak, tentang masalah apa yang akan timbul lagi setelah ini.
Mentari tampak senang dengan pernyataan Byan, memeluknya dengan sedikit penolakan. Tapi Mentari tetap mamaksa tubuh lemah Byan.
"Setelah ini Tante ingin bicara berdua dengan kamu, ya." Mentari tersenyum kecil dengan air mata di sudut matanya.
Byan hanya mengangguk saja, lebih baik mengkahiri dengan cepat.
"Nara kebetulan sudah seminggu menginap di rumah temannya. Nanti Alfa akan kirim sms kalau Tante di rumah." Alfa angkat suara, ia baru ingat kalau seminggu lalu Nara mengatakan sangat sibuk kuliah, dan temannya sakit butuh teman. Nara menemani di sana sampai kedua orang tua teman Nara kembali. Dan mereka semua tidak ada masalah.
Mentari yang seakan sudah tahu mengangguk paham.
"Kalau begitu aku ingin langsung istirahat. Nanti Byan kalau sudah tidak sibuk ke kamar Tante, ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Lilin Kecil (END)
Fiksi UmumByan memutuskan kabur dari rumah dengan sebutan anak pembunuh tidak bertanggung jawab dari keluarganya. Namun, setelah Byan lari sejauh mungkin, mereka malah mencarinya ke ujung bumi manapun Byan bersembunyi. Sialnya lagi, hati Byan kembali tergores...
