Springpetal

299 36 0
                                        

"Aku... telah berbincang dengan Eiden."

Perkataan Ambrose yang satu itu membuat langkah Nouri dan Lorien terhenti. Saat ini hari sudah gelap, mereka telah melewati perbatasan antara Dawnshade dan Springpetal, telah meninggalkan cahaya matahari abadi milik Dawnshade, digantikan dengan hutan yang berkilauan di malam hari. Seluruh tanamannya memiliki cahaya sendiri sehingga mereka tidak merasa kegelapan sama sekali.

 Seluruh tanamannya memiliki cahaya sendiri sehingga mereka tidak merasa kegelapan sama sekali

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Eiden tidak sedang bersama mereka. Hanya Ambrose lah yang datang untuk melihat keadaan Nouri, terutama setelah mendengar bahwa ia telah lengah dan tidak berada di sisi Tuannya ketika tragedi dengan beruang tadi siang terjadi. Ambrose tidak lagi ingin meninggalkan sisi Nouri setelah mengetahui itu.

Ketiganya telah kembali berjalan ketika Ambrose bertanya, "Aku yakin kau telah mendengar porsi dari ceritaku kan? Bocah Dawnshade?" Ambrose sudah lama meninggalkan formalitas dengan Nouri, dan semakin semena-mena dengan Lorien.

Yang dipanggil hanya mendengus, tidak terbiasa dengan panggilan merendahkan seperti itu. "Ya." Jawabnya singkat tanpa menoleh ke Ambrose sedikitpun.

"Yah, begitulah." Ambrose melanjutkan. "Aku mendatanginya ketika ia sendirian di sungai siang tadi, mungkin waktunya hampir sama dengan kejadian ketika kalian diserang beruang. Lalu aku menjelaskan segalanya, juga meminta maaf. Tapi..." Entah mengapa Ambrose tidak melanjutkan perkataannya.

Nouri melihat ke kiri, ke arah Ambrose yang wajahnya tampak datar, sulit untuk dibaca. "Kenapa?" Desaknya.

"Aku tidak yakin Eiden bisa memaafkanku."

Satu kalimat itu membuat Lorien dan Nouri melirik satu sama lain dari ujung mata, mengetahui apa rahasia Eiden yang tidak Ambrose sadari.

Eiden tidak pernah membenci Ambrose sedikitpun. Tidak sedetikpun. Hingga kini, Ambrose masih menduduki sebuah tahta yang berada di dalam hati Eiden, dan tidak tahu apakah posisinya akan tergantikan atau tidak.

"Tuan." Ambrose merentangkan tangan kanannya, menahan Nouri untuk berjalan lebih jauh dan otomatis menahan Lorien juga. Dalam waktu genting seperti ini, kebiasaan Ambrose kembali ke permukaan, memanggil Nouri dengan sebutan formal itu lagi.

"Ada orang lain di sini." Lorien menajamkan pendengarannya, berusaha menangkap asal suara yang mereka dengar sayup-sayup.

"Hati-hati." Nouri dapat merasakan mara bahaya datang menghampiri. "Kita dikepung." Bisiknya. Memutar tubuhnya untuk bersinggungan dengan punggu Lorien dan Ambrose, membuat tiga pasang mata melihat seluruh isi hutan dengan saksama.

Dalam posisi siaga dan keheningan itu, Nouri dapat mendengar satu anak panah diluncurkan. Tangannya dengan cepat menahan anak panah itu tepat sebelum ujungnya tertancap pada kerangka kepala Lorien. "Sudah ku bilang, hati-hati." Geramnya sebelum meleparkan anak panah itu ke depannya, tepat menusuk jantung seseorang yang hendak datang mendekat.

Lalu pada akhirnya seluruh wujud berpakaian gelap itu muncul. Benar kata Nouri, mereka dikepung.

Waktu sudah menunjukkan pukul dini hari. Tenaga mereka sudah hampir habis setelah digunakan untuk berjalan terus tanpa beristirahat. Lorien masih sanggup, namun ia tidak yakin dengan Nouri yang sedang sakit dan baru saja bertarung dengan beruang besar.

High FaeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang