♡
"Sepertinya semua sudah lengkap"
Seokjin bergumam sendiri sembari mengecek ulang isi kantung belanjaannya. Seokjin baru memarkirkan mobilnya kembali di basement apartemen usai pergi ke pusat perbelanjaan. Gadis itu membeli buah persik yang tampak besar dan matang sejumlah tiga buah. Ia juga membeli sekeranjang kecil anggur sekaligus juga tertarik membeli buah apel yang terlihat begitu merah. Ia membeli pula satu sisir buah pisang yang beraroma harum. Tak lupa juga membeli sebotol minuman anggur.
Semuanya Seokjin beli untuk peringatan hari kematian Namjoon.
Sudah menjadi tradisi di Korea Selatan untuk mengenang kematian seseorang setelah satu tahun berlalu. Seokjin memang bukan bagian dari keluarga Namjoon. Namun, ia juga ingin memperingati kematian Namjoon setidaknya untuk kali ini saja. Seokjin ingin memberikan penghormatan untuk Namjoon dan harapan baik untuknya di masa mendatang. Seokjin ingin mengadakan di apartemennya sendiri bersama Ibunya untuk mengenang Namjoon yang dulu menjadi bagian dari keluarganya.
Bukan berarti Ayahnya tidak mau ikut. Hanya saja, Ayahnya disibukkan dengan urusan lain. Seokjin bisa memahami hal itu. Terlebih usai Ayahnya mengirimkan video harapan untuk Seokjin dan juga ucapan terima kasih untuk mendiang Namjoon.
Tanpa Seokjin sadari, buliran air mata sudah menggenang di pelupuk mata. Ia mendongak sembari menghapusnya sebelum menetes. Ia tersenyum getir menyadari kalau dirinya bisa menangis hanya karena ia menatap makanan untuk peringatan kematian. Kepergian dari Namjoon masih menjadi luka yang dalam baginya meski satu tahun sudah berlalu.
"Letnan Kim akan kecewa jika aku masih saja menangis seperti ini"
Seokjin menggumamkan kalimat itu getir lalu menghapus air pada pelupuk matanya.
tringgg....
Ponsel Seokjin mendadak berdering ketika ia hendak turun dari mobilnya. Layar ponselnya menampakkan bahwa ibunya menelfonnya.
"Seokjin-ie?"
Suara Ibu Negara terdengar di telinga Seokjin begitu ia menjawab panggilan itu.
"Ya, Ibu? Apa Ibu sudah sampai?"
"Ya. Ibu baru sampai. Kau di mana sekarang?"
"Aku sedang menuju ke atas, Ibu"
"Baiklah, Ibu akan menunggumu"
Panggilan itu terputus. Seokjin lalu bergegas turun dari mobilnya sembari menenteng tas belanjanya yang penuh. Ia memasuki lift dan menekan angka lantai unit apartemennya. Seperti biasa kalau Ibunya berkunjung, ada pasukan militer dengan setelan jas hitam rapi berjaga di depan pintu apartemen miliknya. Seokjin sekilas menyapa keduanya dengan senyuman hangat. Ia lantas menempelkan kartu identitasnya ke gagang pintu agar pintu apartemennya terbuka.
"Aku pulang..."
Seokjin berseru dengan suara keras karena ia tahu ada ibunya ada di dalam.
"Selamat datang di rumah, Seokjin-ie" balas Ibu Negara Kim Jinhee dengan gembira.
Seokjin yang semula tersenyum lebar begitu melihat Ibunya tengah duduk di sofa seketika membatu. Di dalam apartemennya kini tidak hanya ada Ibunya saja. Ia menelan ludah saat mendapati sosok lain yang duduk dengan kursi dari meja makan. Seokjin mengerutkan dahi kebingungan tapi ia kemudian tertawa kecil dengan miris sambil menutup wajahnya dengan tangkupan kedua tangannya.
Seokjin berhalusinasi lagi.
Hanya karena hari ini adalah hari peringatan kematian Namjoon, Seokjin menjadi sangat melankolis. Ia memang sangat merindukan sosok perwira militer itu. Namun, yang tidak bisa ia kesampingkan adalah kenyataan jika laki-laki itu gugur dalam tugasnya tepat satu tahun lalu. Herannya, Seokjin saat ini seperti menyaksikan Namjoon duduk di kursi yang berhadapan dengan ibunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rewind [NamJin]
Fiksi PenggemarIn the end I will only come back to you. NamJin GS AU!
![Rewind [NamJin]](https://img.wattpad.com/cover/374037720-64-k808603.jpg)