Brina sudah siap dengan pakaian kelulusannya. Ia juga sudah didandani dengan cantik. Ia hanya perlu menuju aula perhelatan wisudanya kali ini ditemani oleh Sadam. Pihak orang tua Brina juga sidah bersiap untuk hadir. Saat Brina tiba di aula, ia langsung bersiap memakai toganya dan memasuki gedung didampingi sang ayah. Yang lainnya menunggu di luar aula wisuda.
Selama perhelatan, keberadaannya selalu mencuri perhatian. Hal itu dikarenakan mahasiswi seni murni yang memang jumlahnya sangat langka. Ditambah, namanya cukup dikenal seantero kampus karena pekerjaannya sebagai barista kafe yang berada di dekat kampus. Kabarnya akan segera menikah dengan Sadam pun santer terdengar bahkan sempat dibahas oleh rektorat dan mendapat bonus ucapan selamat.
Saat menunggu, keberadaan Arbani dan Sehan mencuri perhatian mahasiswa dan tamu wisudawan. Mereka terkekeh karena tahu mereka diperhatikan karena wajah tampan mereka. Tak sedikit yang mencoba mengajak mengobrol dan mengira keduanya adalah mahasiswa universitas itu juga. Dengan jujur mereka menjawab kalau mereka tidak berkuliah dan hanya fokus mengembangkan usaha kafe milik mereka.
"Wah, ternyata lingkup keluarga kak Sadam enggak bakal jauh dari usaha kafe, ya? Jangan-jangan ... semua kafe yang ada di sekitar kampus ini milik kak Sadam sekeluarga?"
"Tidak juga, hanya Artsy Coffee dan Catroom and Library Coffee." Jawab Sehan.
"Oh? Dua kafe terkenal itu masih satu management?" Perempuan yang bertanya itu terkejut dengan fakta tersebut.
"Yap, dan kami berdua yang mengoperasikan Catroom and Library coffee." Arbani yang kini menjawab.
"Ah, padahal aku sering ke sana ... aku baru tahu kalau baristanya kalian." Perempuan itu terdengar girang mengetahui fakta itu.
"Seringlah mampir, koleksi buku dan kucing kami akan diperbanyak mulai minggu depan." Sehan menutup obrolan itu. Pandangannya tak lepas dari paras perempuan yang mengajaknya bicara. Ia hampir salah tingkah. Sehan akan mengingat wajah perempuan itu jika ia benar-benar datang ke kafenya nanti.
"Jadi, kafe kalian hari ini tutup?" Tanya perempuan lain yang membersamai.
Arbani yang agak terkejut dan mengangguk spontan. Pandangannya juga tak lepas dari perempuan itu. "Yang buka hari ini cuma Artsy Coffee. C&L coffee belum punya cukup tenaga untuk buka setiap hari. Tapi kalau kalian ingin mampir ke Artsy Coffee hari ini, ada promo khusus graduation day. Kami akan ke sana juga setelah kakak kami selesai diwisuda," jawabnya.
"Perempuan pasti suka dengan promo diskon, datanglah." Sehan menyambar.
Arbani dan Sehan berpandangan setelah dua perempuan yang mengajak mereka mengobrol pergi. Ternyata satu persatu wisudawan mulai keluar dari aula. Arbani dan Sehan mengajak Soka untuk mencari keberadaan Brina.
Brina keluar dari aula didampingi sang Ayah. Brina sesekali mengambil foto dengan jasa fotografer yang dibayar oleh sang ayah. Brina akhirnya mengajak teman-temannya berfoto bergantian dan juga keluarganya. Setelah dirasa puas dengan sesi foto itu, Brina mengajak bicara ketiga adik laki-lakinya.
"Kakak udah selesai, kalian terserah mau ngapain hari ini. Sadam bilang tadi Sehan sama Arbani mau mampir ke kafe?" Tanya Brina.
"Ah itu ... iya ... kita ke Artsy dulu yuk kak ..." Sehan menawarkan.
"Boleh deh, makan siang di sana ya? Eh sebentar—Syakira mau ikut kakak?" Brina beralih memperhatikan adik perempuannya.
"Di kafe itu ada es cokelat, kan?"
"Ada dong, kan ayah kalau beliin kamu es cokelat di kafenya kakak. Ikut yuk ..." Brina membujuk adik kecilnya.
"Ayah nyusul sama Bunda nanti. Bunda harus ke toko sebentar. Syakira ikut sama kakak ya? Ditemenin Abang sama mas juga." Ayah Brina pamit pergi terlebih dahulu.
"Yuk, ikut di mobilnya kak Sadam. Kita makan siang yang enak-enak di sana."
Sebelum melangkah menuju tempat parkir, langkah Brina terhenti karena Suthan dan Edgar. Keduanya memberi hadiah khusus untuk Brina. Suthan juga diwisuda hari ini. Edgar masih harus menunggu periode depan karena waktu sidangnya yang dihitung terlambat untuk syarat wisuda periode ini.
"Dibukanya kalau kalian udah sah, ini kita ngasih juga bukan kita yang milih. Tapi cewek kita. Mereka nitip karena ngerasa enggak begitu deket sama lo. Congrats ya? Hadiah yang buat Sadam dari kita besok di pesta nikahan aja," Ujar Edgar bercanda.
"Lo udah ada gandengan, Gar?" Brina terkejut.
"Ada lah ... masih temenan deket juga sama ceweknya Suthan." Jawab Edgar jujur.
"Bilangin ke pacar kalian makasih banget ya."
"Yo'i sama-sama," jawab Suthan.
"Sorry loh gue cuma bisa ngasih pas sidang aja. Udah kepikiran nyiapin sesuatu malah tumbang jadi lupa dan udah ga sempet." Brina tertunduk.
"Lo baik-baik aja sama Sadam itu udah cukup buat kita, Brin." Jawab Edgar santai.
"Ikut yuk, makan siang di Artsy." Brina menawarkan.
"Gue ada acara sendiri sama keluarga gue. Edgar tuh mungkin yang bisa." Suthan menolak dengan halus.
"Gue udah ada janji sama cewek gue setelah mampir ke wisuda kalian. Congratulation, guys. Periode depan gue nyusul." Edgar melenggang pergi terlebih dulu.
Sadam rupanya menunggu di dalam mobil yang sudah siap keluar dari area kampus. Keempat adik Brina pun tampak sudah menunggu di dalam. Brina mengangkat sedikit roknya dan berlari masuk ke mobil.
"Maaf bikin kalian nunggu. Ayo," ucap Brina saat posisi duduknya sudah nyaman.
***
Sadam terkekeh ketika melihat Arbani dan Sehan memilih kursi terpisah dari mereka ketika masuk ke dalam kafe. Alasan mereka agar tak mengganggu waktu berdua antara Sadam dan Brina. Akan tetapi, rupanya baik Arbani maupun Sehan sedang memperhatikan dua perempuan yang sempat mereka lihat. Soka juga ada di kursi yang sama dengan Arbani dan Sehan. Akan tetapi anak itu hanya diam dan sesekali ikut penasaran dengan arah pandangan Sehan maupun Arbani.
"Adik-adikmu itu baru merasakan cinta pada pandangan yang pertama," bisiknya. "Aku lihat mereka ngobrol waktu nunggu kamu keluar dari aula tadi." Sadam membeberkannya secara jelas.
"Mereka masih terlalu polos. Ya ... aku paham sih, mereka belasan tahun hidup dengan wujud kucing. Tapi, rasanya lucu juga karena aku merasa melihat mereka tumbuh dari kecil bersamaku. Aku masih tak percaya kalau mereka juga bisa jatuh cinta." Tanggapan Brina ini mendapat anggukan setuju dari Sadam.
Mereka tak sadar kalau Syakira tidak duduk di samping Brina lagi. Brina agak panik mencari keberadaan adik kecilnya itu sampai ia ingat kalau artsy coffee punya pojok baca yang punya koleksi buku anak-anak dan boneka berukuran besar serta beanbag untuk alas duduk. Brina bernapas lega saat tahu Syakira tengah asyik membaca koleksi buku cerita bergambar milik Artsy Coffee. Brina ingat kalau beberapa buku yang ada di tangan Syakira adalah karyanya.
Saat makanan datang, Brina memanggil Syakira untuk kembali duduk bersama. Brina juga sempat menggoda tiga adik laki-laki yang duduk memisahkan diri.
"Biarin lah kak ... aku yang duduk bareng aja dicuekin begini sama mereka. Asyik ngelihatin cewek cantik di section seberang mereka tuh." Soka menggerutu.
"Jangan keras-keras!" Peringat Arbani setengah panik.
"Udah, makan makanan kalian, keburu dingin nanti kurang enak. Ngobrol bentar setelah itu, baru kita pulang. Kalau masih sempat juga kita nunggu ayah sama bunda dulu. Kalau Ayah Bunda jadi nyusul ke sini, Mama Papa juga mau ikut." Sadam menengahi mereka dengan mengalihkan pembicaraan.
"Kakak ... kalau ayah dan Bunda tidak jadi ke sini, kakak antar Kira pulang, ya?" Syakira agak takut.
"Sudah pasti, sayang. Tapi syaratnya, makan dengan tenang dan habiskan makanan kamu. Okay?" Brina memberi syarat termudah yang bisa adiknya itu lakukan.
"Okay!" Syakira menyanggupi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cat Lucks
FantasyKucing hitam membawa sial? Itu hanya Mitos. Kedatangan kucing hitam di kehidupan Brina dan adiknya mengubah semuanya menjadi lebih berwarna. Banyak kejutan yang dua kucing itu hadirkan di tengah sunyinya rumah kecil itu. Menghadirkan banyak cinta da...
