Kabar Baik

29 4 0
                                        

Soka sudah memberi tahu tentang hasil seleksi nasional masuk perguruan tinggi ke Brina. Brina lega karena adiknya itu langsung menjadi seorang mahasiswa. Brina mengingatkan tentang apa saja yang harus Soka persiapkan untuk daftar ulang atau konfirmasi di kampus impiannya itu. Soka mengatakan kalau semua berkasnya sudah siap dan hanya perlu menunggu jadwal daftar ulang dibuka. Soka sempat agak khawatir dengan biaya kuliahnya nanti. Brina menenangkannya dengan menunjukkan kartu ATM yang kala itu hampir dikembalikan olehnya ke sang Ayah. 

"Ayah telah memberi izin kita untuk memakai kartu ini. Kau ingat kan kalau uang yang ada di sini belum sama sekali diambil? Berapa biaya yang dibutuhkan? Bilang saja ke kakak," ucap Brina.

Soka membuka laptop miliknya untuk mengolah data pra-daftar ulang di kampus impiannya. Ada data diri yng harus dilengkapi secara daring langsung di web resmi kampus. Soka terkejut ketika Bani dan Hani tiba-tiba datang dan berebut duduk di pangkuannya. 

"Hani, mengalah dulu. Bani duduk di sini, ayo." Soka menepuk pahanya dan membersilakan kucing yang mulai kembali mendapatkan bulunya itu duduk di pangkuannya. 

Hani terlihat melenggang pergi dan mengusal di kaki Brina. Brina terkekeh karena Hani benar-benar terlihat marah pada Soka dan Bani. Brina mengangkat tubuh kucing itu dan mengecupinya karena gemas. Hani hanya pasrah menerima perlakuan Brina yang memang menyayanginya.

Soka sempat memandang ke arah Brina. Ia ingin menanyakan apakah mereka perlu mengabari ayah dan ibu sambung mereka. Brina mengangguk. Namun, baru hitungan detik Soka mengambil ponselnya akan menelepon, ada telepon masuk terlebih dulu dan itu berasal dari Bunda, ibu sambung mereka.

"Halo ibun? Ada apa ya?"

"Baik ... Kakak juga, kita berdua sehat kok, Bun." 

"Ah itu, ibun udah tau?" 

"Terima kasih, Ibun."

"Tidak, tidak usah ... Kami masih punya uang dari ayah kok. Itu emang sengaja disimpan untuk persiapan kuliahku." 

"Itu masih lebih dari cukup, ibun ... Tidak perlu."

"Baiklah, sekali lagi terima kasih ... Aku sayang ibun ..." 

Brina menyimak obrolan yang hanya bisa sepotong ia dengar dari sisi Soka. Ia menggerakkan alisnya untuk memastikan apa yang bundanya itu katakan. 

"She just congratulate me. And ask me how much i should pay for the tuition. Akhirnya aku bilang kalau kita emang udah dikasih ayah dengan uang yang ada di ATM itu, but she said she will transfer more ... For our daily pocket money." Soka menjelaskan begitu detail.

"I'll call her back ..."

Brina mengambil ponselnya dan berusaha menelepon sang Bunda. Panggilan hampir tak terjawab karena Brina cukup lama menunggu, beruntung masih sempat diangkat.

"Halo ibun ... "

"Halo Brina, tadi Soka baru aja telepon. Kenapa sayang?"

"Nothing ... I just want to say thank you. Ibun sekarang sehat, kan?" 

"Sehat, baru aja selesai rangkaian kontrol, rawat jalan pasca operasi. Perawatan luka karena sempat ada abses. Tapi enggak apa-apa kok sayang. Ibun udah sembuh. Kamu sendiri gimana? Ibun denger kamu juga sempet ke rumah sakit?"

"Oh, itu cuma periksa. Selebihnya bed rest di rumah. Tapi udah enggak apa-apa kok."

"Semangat buat tugas akhirnya, ya? Ibun janji bakal dateng ke pameran dan sidang kamu. Jangan ditanya kalau wisuda, itu kan wajib." 

"Hahaha, makasih banget ya ibun ... Maafin Brina karena sempat enggak suka sama ibun."

"Yang lalu biarlah berlalu, Brina. Anak ibun udah ada yang lamar ya sayang? Ibun tunggu kabar selanjutnya ya? Enggak mungkin ibun enggak bantuin kamu." 

Cat LucksTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang