Semakin Dekat

19 0 0
                                        

Sadam dan Brina wara-wiri mempersiapkan banyak hal untuk pernikahan mereka yang semakin dekat. Karena gaun sudah terlebih dulu dipesan, mereka hanya memastikan kembali. Sadam dan Brina juga memesan cincin pernikahan mereka yang harus dibuat secara khusus. Brina juga memesan hiasan kepala yang akan melengkapi keindahan gaun pernikahannya nanti.

"Maaf kalau kesannya aku terlalu banyak meminta." Brina sedikit menyesal ketika melihat list persiapan mereka.

"Setidaknya kita diringankan karena venue pernikahan kita tak perlu gedung besar. Hanya dekorasi saja yang menurutku agak rumit. Kamu yakin itu semua sudah seperti yang kamu inginkan?" Tanya Sadam memastikan kembali.

"Kita hanya perlu menggarap sesuatu yang akan jadi ikon di pernikahan kita nanti. Lukisan kolaborasi." Brina sedikit menantang.

"Kerjakan di studio rumah baru kita." Sadam mengajak Brina beranjak untuk membeli beberapa alat lukis baru.

Sadam dan Brina pergi ke toko swalayan alat tulis. Mereka memilih kanvas ukuran besar untuk dijadikan media. Mereka sempat berdebat tentang cat yang akan mereka pakai sebagai pewarna. Setelah dipikir dengan matang, cat minyak adalah pilihan mereka. Mereka akhirnya juga membeli spatula khusus dan juga kuas.

Saat mereka tiba di studio Sadam, Brina dikejutkan dengan kondisi rumah yang hampir rampung direnovasi. Sadam mengatakan kalau proses renovasi rumah itu sengaja Sadam percepat agar saat pesta pernikahan digelar, rumah itu sudah siap untuk ditinggali.

Mereka bekerja sama untuk mendirikan tiang penyangga kanvas. Sadam memastikan tiang penyangga kanvas itu kuat dan siap dipakai. Brina juga mulai memilih warna serta alat untuk memoleskan cat minyak ke atas kanvas. Coretan pertama dibuat oleh Sadam di pinggir kanvas. Sebagai tanda kalau lukisan itu dibuat berdua oleh insan yang saling mencinta.

Diskusi terus berjalan selagi mereka berdua mulai mengoleskan cat untuk membentuk latar lukisan. Karena cat yang mereka pilih adalah cat yang membtuhkan waktu agak lama untuk kering, mereka terkadang berhenti sejenak untuk mengobrol lebih intens. Saat akan menggunakan cat warna merah gelap yang terlihat seperti darah, Brina sempat kesulitan membuka segelnya. Saat berhasil dibuka dan mulai dikeluarkan dari tube-nya, cat merah itu sedikit menyemburkam minyak yang tak tercampur dengan baik. Bahkan ada pigmen yang menyiprat ke kanvas dan membentuk titik-titik seperti cipratan darah.

"Akan kubersihkan ... ini salahku. Aku akan coba tumpuk dengan warna baru." Brina panik.

"Jangan ... biarkan noda itu ada di sana." Sadam mencegah.

"Tapi itu terlihat seperti ceceran darah ..." Brina terdiam saat merasa ada hal yang aneh terbesit dalam otaknya.

Pikiran aneh itu membuat Brina jadi khawatir jika terjadi sesuatu pada Sadam. Ia ingat celetukan salah satu adiknya yang memang sempat khawatir dengan Sadam. Sadam yang sadar akan hal itu langsung memeluk sang kekasih. Ia berhasil membuat air mata ketakutan Brina meleleh begitu saja.

"Ada apa sayang? Ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Sadam khawatir. "Tak perlu takut, sayang tidak akan terjadi apa-apa. Kita akan baik-baik saja." Ucapan Sadam itu justru membuat tangis Brina semakin menjadi.

Sadam memeluk kekasihnya itu erat. Ia mengusap punggung Brina hingga perempuan itu kembali tenang. Ia tak akan memancing Brina untuk membahas apapun yang seketika membuatnya menangis itu.

"Kakak ... kakak janji kan tidak akan meninggalkanku?" Brina membuat Sadam mengernyitkan dahinya.

"Sayang ... aku janji. Aku enggak bakal ninggalin kamu." Sadam kembali memeluk erat Brina.

***
Pre-wedding photograph mulai digarap. Lagi-lagi tema mereka tidak jauh dari kata seni. Mereka mengambil foto pra-nikah mereka di studio seni milik Sadam. Dengan dandanan nyentrik mereka membuat foto mereka berbeda dari yang lain.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 26, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cat LucksTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang