Naura keluar dari mobil ayahnya, dia berjalan ke gerbang sekolah setelah berpamitan kepada ayahnya. Seseorang mengejar Naura hingga berjalan bersama.
" Naura besok free kan?"tanya Ryan yang berjalan di samping Naura.
" Emmm iya kayaknya," jawab Naura tidak pasti.
" Kalau free kita main yuk," ucap Ryan.
" Iya," jawab Naura tersenyum membuat Ryan menggaruk belakang pundaknya yang tidak gatal.
" Ryan, anda kenal dengan Sindy?"tanya Naura.
" Sindy ya, tidak. Sebenarnya, gue juga anak baru. Mungkin setelah ada kasus meninggalnya seorang siswi yang di bunuh ayah nya itu. Baru deh gue masuk ke sekolah ini," jawab Ryan.
" Oh begitu ya," kata Naura.
Ryan menganggukkan kepalanya. Mereka berjalan bersama menuju koridor sekolah dengan candaan Ryan yang lebih dominan.
" Naura, gue mau bercerita, jadi tadi pagi saat gue memakai sepatu. Didalam sepatu gue ada sesuatu yang bergerak . Ya gue buka lagi itu sepatu pas gue liat dalam sepatu itu, tiba-tiba kecoa keluar terus hinggap di muka gue. Otomatis gue teriak dan pembantu yang ada di rumah gue datang melihat. Si kecoa tidak pergi, inisiatif dari pembantu gue, dia bawa sapu. Sapu itu malah dilayangkan ke wajah gue, alhasil wajah gue jadi merah kayak gini," cerita Ryan.
Naura tertawa kecil melihat wajah Ryan yang benar saja wajahnya merah terutama dibagian hidung. Naura kira Ryan sedang flu ternyata bukan.
" Hehe... Ada ada saja," ucap Naura menggelengkan kepala.
" Oh iya, dimana Lyodra?"tanya Naura.
" Si nenek lampir. Buat ngapain nanyain dia?"tanya balik Ryan.
" Bukannya kalian selalu bersama ya?"kata Naura.
" Itu kebetulan aja, ogah banget gue deket sama nenek lampir yang galak,kasar, jelek, gengsian ngak mau ngaku kalau gue ganteng," ucap Ryan yang didengar oleh seseorang di belakang mereka berdua.
" Terus ...jelekin gue, dasar artis genit," ucap Lyodra yang berjalan di belakang mereka.
Mereka berdua pun melihat Lyodra dengan nafas yang memburu dan terus melihat Ryan. Ryan tersenyum melihat kedatangan Lyodra.
" Gue kira setan, tiba-tiba saja muncul di belakang gue," ucap Ryan sembari mengupil.
" Bagus.. hebat, tadi lo jelekin gue sekarang lo hina gue. Awas ya lo gue cubit tangan lo sampai merah," ucap Lyodra.
Ryan yang mendengar itu langsung melangkahkan kakinya untuk berlari, menghindari Lyodra. Ryan takut tangan nya jadi korban kekesalan Lyodra dan itu sangat menyakitkan.
" Naura ingat ya besok," teriak Ryan sembari terbirit-birit di kejar Lyodra.
" Semoga mereka berjodoh, " ucap Naura kembali berjalan.
🔑🔑🔑
Semua siswa dan siswi duduk di bangku masing-masing. Mereka mengerjakan soal matematika di jam terakhir sekolah. Mereka ingin sekali kabur. Namun, apalah daya guru matematika tersebut mengawasi semua siswa dan siswi, apalagi guru matematika ini merupakan guru bk yang ketat.
Sebagian dari mereka hanya pura-pura mengerjakan padahal tidak mengerti. Ada juga yang menghitung setiap suara detikan jam di kelas. Ada juga yang curi curi pandang orang yang sedang mengerjakan soal dengan serius.
" Soraya, tidak ada ya?"tanya guru tersebut.
" Iya pak," jawab mereka serempak.
Dua menit telah berlalu, setelah ucapan guru tersebut. Naura yang telah mengerjakan tugasnya berdiri sembari masih melihat buku tersebut. Begitupun dengan Rasya yang sudah mengerjakan, dia juga sama hanya melihat buku tersebut hingga di depan bangku bangku yang disaksikan teman temannya, tubuh mereka bertubrukan dari arah samping.
" Apaan sih," ucap mereka berdua.
" Dasar aneh," ucap berbarengan lagi.
Naura menatap jijik punggung Rasya yang lebih dulu ke bangku guru. Kemudian, Naura kembali mengatur ekspresi nya.
Keira yang melihat kejadian kesal karena mengingatkan pada masalalu Sindy dan Rasya.
Keira sedang berjalan jalan bersama dengan Rasya di sebuah toko, untuk membeli keperluan mama Rasya yang sedang di rumah sakit. Rasya berpamitan untuk pergi ke toilet. Saat Rasya berjalan dari arah samping seseorang menubruk badan Rasya, hingga menimbulkan barang barang yang akan Sindy bereskan di etalase berantakan. Rasya membantunya. Ada binar di mata Rasya ketika melihat Sindy bahkan Rasya tersenyum. Berbeda saat Rasya bersama dengan Keira.
Dari sanalah Rasya mulai dekat dengan Sindy.
Keira menggepalkan tangannya melihat Naura. Hati Keira terbakar. Keira menghirup nafasnya dalam dalam untuk meredakan rasa kesalnya.
Mereka berdua pun di perbolehkan pulang karena jawaban mereka benar. Akhirnya mereka pulang duluan berpamitan pada guru tersebut. Keira hanya bisa mengontrol perasaannya untuk tidak kesal saat mereka berdua pergi dari kelas.
Naura berjalan di belakang Rasya. Naura ingat dengan sapu tangan Rasya. Sapu tangan tersebut telah dicuci. Dia memberhentikan langkah nya dan mengambil nya di dalam tas tersebut.
" Rasya tunggu," ucap Naura berlari mengejar Rasya.
Rasya menghentikan langkah nya dan melihat ke belakang.
" Ini sapu tangan anda," ucap Naura sembari memberikannya kepada Rasya.
" Ambil aja gue ngak suka," jawab Rasya.
" Kenapa?"tanya Naura.
" Apa ini punya Sindy, saya lihat di sapu tangan ini ada tulisan berinisial S di ujung sapu tangan," duga Naura.
" So tau," kesal Rasya.
" Saya yakin ini punya Sindy kan, ambil aja sebagai kenang-kenangan tidak baik hanya mengenang keburukan seseorang yang telah meninggal. Jangan pernah ambil kesimpulan sebelum cari bukti. Bisa saja Sindy di fitnah," jelas Naura sembari mengambil tangan Rasya dan menyimpan sapu tangan tersebut di tangan Rasya.
Keira melihat tangan Naura menyentuh tangan Rasya membuat nya kesal. Ingin Keira memaki Naura. Tapi, sayangnya Naura langsung pergi tanpa tau ada Keira di belakang mereka. Rasya hanya menatap sapu tangan tersebut dan memikirkan perkataan Naura. Hingga, Keira datang di hadapan Rasya.
" Rasya," panggil Keira. Rasya tersadar kembali dia segera memasukkan sapu tangan tersebut kedalam tasnya. Keira tidak curiga terhadap sapu tangan tersebut.
Naura duduk di kursi depan gerbang sekolah menunggu ayah nya yang janji akan menjemput Naura. Naura terus melihat jalanan. Hingga Naura melihat seseorang memakai jaket kulit hitam, helm tanpa kaca, diganti dengan kacamata hitam menuju Naura.
" Keponakan ku tersayang," ucap pria yang mengendarai sepeda motor Harley Davidson berwarna hitam.
" Kenapa om Arga yang jemput Naura?" Tanya Naura.
" Soalnya om kangen haha," jawab om Arga.
" Aneh," jawab Naura dengan jengah.
" Om hanya ingin lihat kamu sekolah. Jadi, paman jemput aja sekalian. Om sudah minta izin sama ayah kamu," cerocos pamannya.
" Om juga mau ajak kamu berziarah ke makam bunda kamu,"lanjut Om Arga.
" Baiklah," jawab Naura sembari naik ke atas motor dan memakai helmnya.
(☆▽☆)
Jangan lupa vote ya terimakasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Code ( On Going )
Teen FictionNaura selalu bermimpi tentang wanita yang sama setelah dirinya mendapatkan transplantasi ginjal. Ia meyakini mimpinya ingin mengungkap sesuatu. Saat dirinya memasuki sekolah baru, bangunan ruangan dan seragam nya seperti yang ia mimpikan. Hingga d...
