Naura selalu bermimpi tentang wanita yang sama setelah dirinya mendapatkan transplantasi ginjal. Ia meyakini mimpinya ingin mengungkap sesuatu. Saat dirinya memasuki sekolah baru, bangunan ruangan dan seragam nya seperti yang ia mimpikan. Hingga d...
Lamunan Naura saat ia koma menghantuinya, tentang bagaimana dirinya bermimpi tentang bunda nya dan Sindy. Dengan menatap dinding, Naura mengingat tentang mimpinya itu saat ia koma.
Naura berada di halaman sekolah, ia melihat Sindy yang basah kuyup sedang menatap pohon, Naura yang duduk di samping Sindy mencoba untuk menyentuh Sindy. Sayangnya tidak bisa. Naura pun menundukkan kepalanya sembari mendengarkan isak tangis Sindy, tidak berselang lama Naura melihat sepatu seseorang menghadap ke Sindy. Dengan perlahan Naura melihat orang tersebut. " Bunda." Teriak Naura dengan air mata yang akan mengalir. Naura ingin memeluk bunda nya tapi sayangnya itu tidak bisa. Naura hanya bisa menyaksikan Bundanya memakai kan jas pada Sindy. Pandangan Naura berubah, Naura berada di belakang sekolah. Naura melihat bundanya menyerahkan sebuah map resleting kepada Sindy, sekilas Naura melihat di dalam map resleting tersebut ada perekam suara dan dokumen. Naura ingin sekali memeluk bunda nya dari belakang sayangnya hal tersebut tetap tidak bisa. Bunda nya dan Sindy menghilang begitu saja ketika Naura ingin menyentuh bunda. " Bunda, Naura rindu," gumam Naura dengan air mata yang mengalir, Naura memeluk kakinya sendiri. Ia merasakan rasa sesak di dalam dadanya, Naura menundukkan kepalanya. Pandangan Naura berubah secara tiba-tiba berada di sebuah taman, seseorang memegang bahunya dari belakang. " Bunda, " teriak Naura, Naura segera memeluk Bunda. Naura bahagia bisa memeluk bunda nya, Naura menangis di dalam pelukan bunda nya," Bunda Naura rindu Bunda, Naura rindu omelan bunda, Naura rindu usapan bunda, Naura Rindu saat bunda tertawa, Naura rindu masakan bunda. Naura tidak bisa hidup tanpa bunda." Bunda Naura menyentuh bibir Naura dengan telunjuk sembari menggelengkan kepalanya dan tersenyum," bunda bahagia kamu sudah sehat nak, sudah takdir bunda untuk pergi duluan, setiap orang pasti akan tiada, ikhlas atau tidak bagi orang terdekatnya tetap harus menerimanya." Naura tetap menangis, bunda Naura menghapus air mata Naura di pipinya," kenangan bunda dan kamu ada di sini," ucap bunda sembari menyentuh dada Naura. Sindy muncul di belakang bunda nya," terimakasih Naura untuk semuanya. Dia bukan pelaku sebenarnya," sembari memeluk Naura yang di balas oleh Naura. Sindy melepaskan pelukannya. " Bukan saat nya kamu disini," ucap bunda Naura. Pandangan Naura pun berubah menjadi langit langit rumah sakit dan juga wajah ayahnya yang terlihat kacau tetapi menampilkan wajah yang bahagia.
Naura tersadar kembali dengan lamunannya, Naura mengambil foto dirinya dengan bundanya yang berada di lemari kecil dekat kasurnya," bunda," gumamnya sembari mengusap foto bundanya. " Bunda Naura tidak tau siapa pelaku yang di maksud Sindy."
Ke esokan harinya, gosip yang tersebar di website menjadi hanya di sekolah. Rasya yang sedang berjalan menuju kelas harus mendengar perkataan orang-orang yang membuatnya naik darah. " Oh jadi ini alasan Keira yang tiba-tiba pindah keluar negeri karena dia yang dorong Naura sampai amnesia." Salah satu nya pun menjawab. " Pecundang kan!! Bukan minta maaf malah kabur, sekalinya jahat tetap aja jahat. Kemarin itu cuman pencitraan so nangis, peduli, merasa bersalah aslinya jahat tetap aja jahat." Rasya menggepalkan jari jari nya. " Jaga omongan kalian, sebelum gue sebarin aib kalian," mereka pun segera menutup mulutnya dan pergi, walaupun masih terdengar suara, " dasar anak pidana, pedofil. Jangan jangan anaknya juga sama kelakuannya."
Jam pelajaran kedua Naura dan dua bodyguard nya di kelas karena semua orang sedang berada di ruangan olahraga. Kondisi Naura yang belum pulih meskipun lengannya sudah terlepas dari perban tetap saja ia tidak bisa mengikuti pelajaran olahraga. " Om.." panggil Naura. " Iya non," jawab bodyguard salah satunya. " Om bisa tidak gantiin saya menulis?"tanya Naura. " Boleh banget non," jawab salah satu bodyguard nya itu. Naura membisikkan sesuatu kepada para bodyguard nya dan mereka pun setuju. Tak berselang lama Naura keluar bersama dengan salah satu bodyguard nya ," ini kesempatan saya."
Sampai di depan pintu guru, Naura bersembunyi dan bodyguard itu memasuki ruangan guru. Untungnya hanya ada guru piket yang ada di ruangan guru itu. " Selamat siang Ibu guru, saya bodyguard nya non Naura ingin meminta obat sakit kepala, dimana ya ruangan uks nya," ucap bodyguard itu kepada guru. " Ruangan uks itu di gedung B bapak tinggal lurus aja," jawab guru itu. " Bisa anter saya tidak soalnya kepala saya sakit banget," ucap bodyguard itu. " Oh iya boleh," jawab guru itu dengan cepat karena di liat liat wajah bodyguard itu tampan dan kekar apalagi bodyguard-bodyguard nya Naura belum mempunyai pasangan hidup. Bodyguard Naura tersenyum miring dengan jawaban guru tersebut.
Naura tersenyum bahagia ketika bodyguard nya mengacungkan jempol pada Naura di balik punggung," berhasil." Naura memasuki ruangan guru yang sepi, ia masuk kedalam meja guru piket dan mencari handphone seseorang yang telah mendorong Naura. Berhasil Naura mengambil handphone, Naura mendengar suara dua orang guru yang akan masuk. Dengan terburu-buru Naura bersembunyi di bawah meja. Guru tersebut menuju meja piket, Naura bisa melihat kedua kaki orang itu. Naura membungkam mulutnya dengan memegang handphone. " Ini dia, Ibu Yanti kemana sih?"tanya guru laki-laki itu. " Entah," jawab salah satunya. Dua guru itu pun keluar dan pergi, Naura bisa bernafas dengan lega," untungnya."
Naura keluar dan ia memasuki toilet yang dekat dengan gedung A, Naura mencoba untuk menghidupkan handphone itu. Saat membuka kunci handphone itu tidak bisa karena memakai finger pin, Naura mencoba untuk membuka nya yang ternyata menggunakan pin angka. Naura yang sudah tau ulang tahun orang itu mencoba untuk mengetiknya. Untungnya berhasil. Tidak ada yang aneh dengan semua chattingannya. Hingga Naura berhenti untuk menscroll chattingan terakhir yang menurut nya aneh dengan foto profil itu. " Bukannya ini pemilik sekolah ini," gumam Naura. Saat membuka chattingan itu Naura terdiam sejenak.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Apa tujuan nya?" gumam Naura sembari memotret chattingan itu. Sebuah notifikasi dari bodyguard nya berbunyi Naura dengan segera keluar dari kamar mandi dan segera menyimpan handphone tersebut. Saat Naura berbalik, Naura di kejutkan dengan kehadiran guru piket itu. " Sedang apa kamu disini?"tanya guru itu. Bodyguard yang ada di belakang guru itu mengatakan maaf tanpa suara.