26. Flash back

2 0 0
                                        

Keira kembali ke makam Sindy sendirian di pagi hari, ia menangis dan meminta maaf. Ia pun menaruh sebuah buket  bunga dengan bertuliskan
Aku tidak bisa memaafkan tindakan ku yang ke kanak-kanakkan. Semoga kamu tenang disana dan aku akan menerima hukuman ku..
" Sindy maaf dan selamat tinggal."

Berita tentang Keira yang tiba-tiba pindah ke luar negeri menyebar dengan cepat di sekolah, orang-orang kaget mendengar berita tersebut. Rasya duduk di bangku nya sembari membaca buku. Bianca memasuki  kelas bersama dengan helena, wajah Bianca memerah dengan air mata.
" Keira ngak nganggap kita teman apa?!"
" Mungkin Keira ingin bicara cuman ia tidak sempat," jawab Helena.
" Awas aja," kesal Bianca.

Bianca mencoba untuk video call dengan Keira, akhirnya  video call itu menampilkan wajah Keira dengan memakai masker hitam.
" Tega ya lo ngak bilang bilang pindah ke luar negeri," kesal Bianca. Keira senyum di balik masker yang dia pakai," Hehehe... Maaf."
Rasya yang sedang membaca kehilangan fokus, ia pura pura tetap membaca hanya untuk mendengarkan pembicaraan Keira.
" Pindah?? Keluar negeri ??"batin Rasya
" Keira kapan lo balik?"tanya Helena. Wajah Keira menengok ke sebelah kiri dengan jari telunjuknya menyentuh dagu yang terhalang masker, " eemmm 5 tahun lagi atau mungkin lebih." Mata Bianca dan Helena membesar," Itu kan lama sekali," jawab mereka barengan. " Apa ngak akan kangen lo sama kita?"tanya Bianca, helena memanyunkan bibirnya.
" Ngak," singkat Keira. " Udahlah kita matikan saja video call nya," jawab Bianca. " Haha.. gw kan bercanda pasti lah kangennn sama kalian," tawa Keira.
Rasya merasakan perasaan aneh di dalam dadanya, ia mengecek hp nya secara terus menerus, hingga ia pergi keluar sembari membawa tas nya.

Ruangan tengah sebuah rumah dengan segala rahasia yang tersembunyi. Dinding cat di warnai dengan warna abu tua sementara lantainya terbuat dari marmer hitam yang mengkilap di bawah cahaya redup  lampu gantung kristal.
" Kalian yakin tidak ada yang mengikuti kan," tanya seorang wanita.
" Yakin Naura.. oh iya lo juga ngak ada yang mengikuti kan?" Tanya balik Ryan.
" Emm pas saya mau keluar saya melihat seorang pria mengikuti saya, tapi saya berpikir bibi saya untuk memakai pakaian  seperti saya dan pergi keluar akhirnya orang itu pergi," jawab Naura.
" Oke bagus," ucap Sandi.
" Kita bertiga punya bukti bahwa dia adalah orang yang sudah mendorong lo," ucap Lyodra.
Lyodra mengambil sebuah flashdisk dari tas nya dan segera memasangnya ke laptop. Rekaman cctv pun menampilkan seseorang yang dengan sengaja mendorong Naura. Setelah Naura menonton dengan wajah datar," bagaimana kalian mendapatkan rekaman cctv ini?"

Lyodra menceritakan kejadian pada saat itu.

Sandi memasuki rumah sakit, ia bertemu dengan ayah nya Naura dengan wajah yang lembam. " Om ... " Ucap Sandi, secara tiba-tiba Om Arya memeluk Sandi seperti anaknya sendiri. Setelah beberapa detik om Arya melepaskan pelukannya. " Om kenapa wajah om?"tanya Sandi. Om Arya menghirup nafasnya ia mencoba untuk menenangkan hatinya dan perasaannya," tiba-tiba om di serang oleh beberapa orang yang memakai masker." Sandi berpikir, ia mengingat perkataan Naura sebelum kecelakaan itu terjadi bahwa Naura ingin mengungkapkan sesuatu," om ini mencurigakan, ini bukanlah kecelakaan biasa dan penyerangan biasa tetapi ini sudah di rencanakan seseorang, aku akan cari bukti tentang apakah kecurigaan ku benar atau salah." Ayah Naura menundukkan kepala sembari memegang pundak Sandi.

Di malam hari yang sunyi tiga orang berada di sebrang  depan gerbang sekolah. Mereka saling bertatapan melihat cahaya senter yang menyala secara acak. Sandi melihat teropong kecil memfokuskan pandangannya melihat situasi ruangan kecil tempat satpam yang ada di depan gerbang. " Aman, mereka sedang berkeliling kita bisa memasuki ruangan satpam."
Dua orang menganggukkan kepalanya dan mereka dengan segera menyebrang ke jalan dan segera memasuki wilayah sekolah untuknya pintu gerbang tidak terkunci. Ryan masuk kedalam, ia akhirnya berhasil mengambil kunci ruangan cctv, Ryan tersenyum karena setiap kunci ruangan tergantung rapih di dinding  dengan nama ruangan masing-masing, sehingga mempermudah Ryan untuk mengambilnya. Sementara dua orang menjaga situasi luar. " Ryan cepetan, " ucap Lyodra yang berada di pintu. Ryan menganggukkan kepalanya dan keluar tidak lupa ia memegang lengan Lyodra dan Sandi memimpin di depan menuju ruangan CCTV.

Mereka berhasil memasuki ruangan CCTV yang dekat dengan ruangan BK, Sandi duduk di depan layar, meskipun kondisi ruangan gelap sementara Ryan berjaga di depan pintu masuk, Sandi menghapus cctv yang tampilan mereka memasuki wilayah sekolah dan mematikan Cctv bagian mereka yang terlewat untuk pulang. Sementara Lyodra juga duduk di depan Layar yang ada di hadapan Sandi, ia mencari Cctv lantai 3 pada jam istirahat. Setelah menunggu Lyodra tidak menemukan apa apa cctv yang menghadap kearah tangga mati atau mungkin sengaja di matikan. " Cctv yang menghadap kearah tangga mati." Sandi segera menghampiri Lyodra ia melihat rekaman tersebut yang memang tidak menampilkan apa apa. Sandi terus mencari cctv lain, akhirnya ia menemukan CCTV yang agak jauh dari tangga. Lyodra menyipitkan matanya dan Sandi mencoba untuk memperbesar. Mata Lyodra membesar.
" Itukan..." Gumam Lyodra, Ryan merasa seperti mendengar seseorang." Cepetan," buru buru Lyodra memasang flashdisk dan memindahkan rekaman cctv itu. Mereka menunggu hingga 100 persen.
Akhirnya mereka berhasil memindahkan rekaman itu. Saat Lyodra mencabut flashdisk nya suara dua satpam terdengar dengan terburu-buru mereka pergi dari ruangan itu dan melupakan kunci yang tergantung di pintu dengan kondisi pintu terbuka sedikit.
" Perasaan kita sudah mengunci pintu ini," ucap seorang satpam. Mereka mengecek ruangan tersebut dan ruangan itu kosong. " Jangan- jangan hantu," ucap salah satunya.
Mereka bertiga bernafas dengan lega," akhirnya," ucap mereka bertiga yang sudah berada di dalam mobil.

" Untuk itu aku menyuruh kamu untuk pura-pura amnesia," ucap Sandi.
" Dan untungnya pihak rumah sakit dan ayah Naura mengerti," lanjut Ryan. Naura hanya menganggukkan kepalanya." Tapi, apa motif dia mencelakai saya?"tanya Naura. Mereka semua menggelengkan kepala.
" Kita cari tau besok," jawab Lyodra.
" Ngomong-ngomong Sandi ternyata lo cucu keluarga Marcel  ya.. apa rumah ini aman bagi kita?"tanya Ryan.
" Asalkan diantara kalian tidak ember aja sih sama waspada kalau ada yang mengikuti, lagian rumah ini di jaga sama keluarga marcel dan tentunya mereka tidak tau kalau aku cucu keluarga Marcel." Jawab Sandi.
Mereka mengganggukkan kepalanya.

Notifikasi dari handphone Naura, Ryan dan Lyodra  berbunyi. Mereka membukanya. " Gosip apa lagi ini dari akun aneh lagi," ucap Ryan.
" Lo ya ly," lanjut Ryan. Lyodra menatap sinis pada Ryan. " Nggak, gue ngak tau siapa akun aneh ini." Sandi yang penasaran melihat handphone Naura dari belakang Naura. Sandi hanya tersenyum. Sementara Lyodra menatap Sandi dengan tidak enak, " Sandi .... " Sandi menoleh ke arah Lyodra. " Gue minta maaf atas perlakuan gue." Sandi tersenyum dan menganggukkan kepalanya meskipun hatinya masih terasa berat," kadang manusia melakukan kesalahan ketika ia marah dan aku yakin Kak Sindy juga sudah memaafkan." Lyodra tersenyum dan menganggukkan kepalanya," terimakasih."

╮⁠(⁠.⁠ ⁠❛⁠ ⁠ᴗ⁠ ⁠❛⁠.⁠)⁠╭

Secret Code ( On Going )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang