Naura selalu bermimpi tentang wanita yang sama setelah dirinya mendapatkan transplantasi ginjal. Ia meyakini mimpinya ingin mengungkap sesuatu. Saat dirinya memasuki sekolah baru, bangunan ruangan dan seragam nya seperti yang ia mimpikan. Hingga d...
" Kita makan disini saja, ada hal yang ingin gue bicarakan sama kalian," ucap Lyodra kembali.
Mereka berempat duduk dan memesan makanan. Lyodra terdiam, melihat jendela cafe dengan salah satu tangan menumpu wajahnya.
Lyodra duduk di taman sekolah sendirian, dia melamun memikirkan sesuatu, menundukkan kepala. Hingga tanpa sadar Lyodra berucap pelan,"Sindy maafin gue."
" Lyodra," panggil seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelah Lyodra. Lyodra menegakkan badannya, melihat kesamping.
"Lyodra, aku ingin menitipkan sesuatu," ucap Sindy tersenyum dengan wajah yang pucat.
" Telapak tangan kamu tunjukkan," lanjut Sindy dengan tersenyum. Lyodra pun menganggukkan kepalanya dan menuruti perintah Sindy.
Sindy mengeluarkan sebuah kertas yang terlipat dari saku seragamnya,"dengarkan aku, simpan baik baik ya sampai kamu bisa memecahkannya." Lyodra menganggukkan kepalanya dan memasukkan kertas itu ke dalam saku baju seragamnya.
" Sindy maafin gue," ucap pelan Lyodra saat Sindy berdiri dan akan melangkahkan kakinya.
" Aku tidak masalah, aku mengerti keadaan kamu... dan dendam kamu juga tidak salah." Balas Sindy kembali melangkahkan kakinya.
" Apa Sindy tau," Lyodra hanya melihat kepergian Sindy.
Suara Naura menyadarkan Lyodra.
" Lyodra, apa yang ingin anda bicarakan?"tanya Naura. Lyodra menegakkan badannya, dia menghirup nafas nya dalam dalam dan mengeluarkannya. " S-sebenarnya gue punya sesuatu untuk kalian."
Sandi dan Ryan hanya mengangkat sebelah alisnya. " Jadi, dua hari sebelum Sindy meninggal, dia memberikan gue kertas ini," ucap Lyodra sembari mengeluarkan sebuah kertas dari dalam dompetnya dan menaruhnya di meja.
" Gue ngak ngerti. Apa maksudnya," ungkap Lyodra.
Sandi mengambil dan membuka kertas tersebut. Lama Sandi membaca kertas tersebut. " Kenapa kamu baru memberikannya sekarang?" Lyodra menghirup kembali nafasnya dan mengeluarkannya. "Karena setelah gue menerima kertas tersebut gue keserepet motor hingga kaki ngak bisa di gerakin selama satu minggu bahkan gue ngak bisa lihat pemakaman Sindy. Setelah itu gue cari lo tapi ngak ketemu dan lo pindah sekolah. Pihak sekolah tidak memberi tahu kemana lo pindah."
Sandi menganggukkan kepala dia menghela nafasnya. "Ya kamu benar. Pantas saja pas pemakaman kamu ngak ada."
" Boleh saya melihat kertas itu?"tanya Naura. Sandi mengangguk dan memberikan pada Naura.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lama Naura melihat kertas tersebut dengan dahi berkerut, ekspresi Naura mengundang senyum Ryan dan Sandi yang di hadapan Naura.
" Ini sebuah kode," ucap Naura sembari menunjukkan kertas tersebut kepada teman-temannya.
" Gue tidak mengerti Naura semuanya seperti matematika," ungkap Ryan. Naura meletakkan kertas tersebut di meja dengan menunjukkan tulisan, "coba lihat, di sisi kanan ada tulisan S.SM dan di sisi kiri ada tulisan A sama dengan satu per dua dan Z sama dengan tujuh per delapan."
Mereka menganggukkan kepala, meski tidak megerti apa yang di bicarakan oleh Naura. Lain halnya dengan Sandi yang memikirkan sesuatu. Naura mengeluarkan sebuah kertas dan bolpoin.
" S.SM mungkinkah ini Sandi yang selalu ada di pramuka eemmmm mungkin Sandi Semaphore," ungkap Sandi.
" Ya anda benar," jawab Naura yang mulai mencoret kertas.
Sekitar 10 menit menulis dibantu oleh Sandi. Sampai mereka tidak melirik makanan yang sudah terhidangkan.
" Selesai," ungkap Naura sembari menunjukkan kepada mereka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Lemari perpustakaan belakang," gumam Ryan.
" Saya dan Lyodra besok akan ke perpustakaan," ucap Naura yang di setujui Lyodra.
Mereka memakan makanan yang tersaji di hadapan mereka. Setelah selesai, mereka pulang menggunakan taxi kecuali Sandi yang pulang menggunakan Bus.
🔑🔑🔑
Keesokan harinya Naura dan Lyodra berada di perpustakaan mencari sesuatu di lemari yang paling belakang, banyak buku-buku yang rusak dan kotor tertumpuk di tiap barisan lemari. Sesuatu yang menarik perhatian Naura di barisan paling bawah Naura melihat buku berwarna merah terlihat bagus. Naura membuka buku tersebut yang ternyata sebuah dokumen pengeluaran dan pemasukkan di sekolah.
" Lyodra saya menemukan sesuatu," ungkap Naura yang masih membaca dokumen tersebut. Lyodra menghampiri Naura dan membaca dokumen yang di pegang Naura.
" Lihat pemasukkan lebih besar di bandingkan pengeluaran. Lalu kemana uang sebagiannya pergi?" tanya Naura.
" Iya lo bener, aneh rasanya. Gue yakin kalau kepala sekolah melakukan pencurian," jawab Lyodra. Naura menyetujuinya. Apalagi melihat kejadian kemarin-kemarin.
Naura membawa keluar dokumen tersebut tanpa sepengetahuan penjaga perpustakaan karena tiba-tiba tidak ada di tempat. Keributan terjadi, orang-orang berkerumun melihat sesuatu yang membuat mereka berdua penasaran. Mereka melihat ke bawah beberapa polisi mencekal lengan seorang guru yang berjaga di TU. Ryan yang kebetulan ada di samping mereka sembari menggendong sebelah tas nya.
" Kenapa mereka menangkap guru itu?"tanya Naura kepada Ryan.
" Karena di duga jika guru tersebut melakukan pencurian," jelas Ryan.
" Coba lo liat aja di website sekolah," lanjut Ryan.
Naura akhirnya membuka website tersebut di hp nya dan Lyodra juga melakukan hal yang sama. Ada sebuah rekaman video yang memperlihatkan bahwa pria tersebut berada di TU sendirian dan mencari sesuatu. Naura dan Lyodra menutup ponselnya.
" Saya di fitnah, sekolah ini menjebak saya. Asal kalian tau gaji guru pun ada yang tidak di bayar!!"teriak guru tersebut sebelum masuk ke dalam mobil.
Seorang siswa yang berada rooftop sekolah memperlihatkan senyuman miring melihat kejadian tersebut.
" Gue yakin guru tersebut memang di fitnah," ungkap Lyodra.