Naura selalu bermimpi tentang wanita yang sama setelah dirinya mendapatkan transplantasi ginjal. Ia meyakini mimpinya ingin mengungkap sesuatu. Saat dirinya memasuki sekolah baru, bangunan ruangan dan seragam nya seperti yang ia mimpikan. Hingga d...
Di sekolah yang berbeda Sandi sedang menulis materi, suara speaker mengalihkan dirinya yang sedang menulis.
" Mohon maaf kepada ananda Sandi Prince untuk segera ke ruangan kepala sekolah. Terimakasih."
Sandi berdiri dan berjalan menuju keluar kelas. Saat sampai dirinya terkaget dengan seseorang yang tidak dia kenali tiba-tiba memeluknya. Mata Sandi juga melihat seseorang yang selama ini terus mengikuti nya, seseorang yang selalu berpakaian hitam dan bertubuh kekar. " Sandi ini kakek mu," ucap seorang nenek. " Dan saya adalah nenek mu," lanjut nenek itu. " Maaf karena selama ini kami tidak mengakui kalian," ucap nenek tersebut setelah kakek itu melepaskan pelukannya pada Sandi. Sandi kini mengerti siapa mereka dengan berkaca Sandi mengungkapkan kekecewaannya. " Bukannya kalian yang mengusir mama karena mama menikah dengan papah," ucap Sandi. "Dengarkan dulu penjelasan kakek nak... Selama mamah kamu meninggalkan kami, keluarga Marcel menjadi kacau, paman kamu tiba-tiba jatuh sakit dan perusahaan di pegang oleh kakek. Sedangkan, nenek merawat paman kamu di luar negeri. Maafkan kami, kami memang salah," sesal kakek mengingat bagaimana putri nya di usir. Sandi hanya berkaca-kaca, setelah semua kejadian buruk yang harus dia hadapi, tidak ada kakak kembarnya. Dulu kakak nya ingin menemui kakek dan nenek nya, tapi ibu mereka yang melarang keras menemui mereka. Setelah semuanya terjadi bahkan sang kakek dan nenek nya yang datang kakak nya yang tidak ada di dunia. " Kak aku merindukan mu, lihat kan sekarang kita punya kakek dan nenek,"
Setelah diantar oleh ketua OSIS ke lantai 3, Naura masuk ke ruangan gudang yang berantakan dan berdebu. Mula-mula Naura menata setiap barang yang berserakan kemudian menyapu lantai gudang tersebut. Di arah pojok Naura melihat beberapa lukisan yang berserakan, sebelum membereskan lukisan itu, Naura mengambil dus besar yang ada di dekat jendela. Naura terbatuk-batuk membereskan lukisan yang ada di gudang tersebut. Satu persatu Naura masukkan ke dalam dus besar. Tangan nya berhenti di lukisan terakhir. " Ini kan lukisan yang sama tapi ..." Ucap Naura. " Kenapa ada tulisan aneh di bawah nya seperti tulisan kimia," ucap Naura kembali.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Naura mengambil gambar dari lukisan itu. Naura kemudian menekan nomor Sandi. Sandi yang sedang ada di luar kelas mengangkatnya dengan tersenyum.
" Halo," " Sandi, sebenarnya saya menduga kalau Pak kepala Sekolah bukanlah pelaku pembunuhan. Apa anda berpikir seperti itu?"tanya Naura.
" Emmm aku tidak bisa berpikir siapa pelaku sebenarnya, apalagi bukti mengarah kepada kepala sekolah. Emangnya kamu punya bukti tentang dugaan kamu?" tanya balik Sandi.
Naura terdiam karena dia memang tidak punya bukti mengenai hal itu. Lama Naura terdiam membuat Sandi memanggilnya. " Naura." " Akan saya cari bukti nya," tekad Naura. " Sandi, saya menemukan sesuatu yang mencurigakan. Nanti sepulang sekolah saya tunjukkin ya di pusat pelatihan, kalau begitu sampai jumpa" ucap Naura kembali sembari menutup ponselnya.
Belum juga Sandi menjawab, Naura sudah menutup teleponnya membuat Sandi tersenyum. " Mengapa Naura mempunyai dugaan tersebut, dan apa yang akan dia tunjukkan," batin Sandi yang masih melihat ponsel nya.
Tanpa Naura sadari, seseorang mendengar percakapan Naura dengan Sandi. Seseorang tersebut menatap tajam Naura dari pintu luar yang di belakangi oleh Naura dari tadi.
Selesai, Naura dari gudang tersebut dan akan menuruni tangga, Naura berniat untuk mencari Ketua OSIS. Saat Naura sudah melewati tangga ke 3, seseorang mendorong Naura hingga terjatuh. Tangan Naura reflek melindungi belakang kepalanya. Namun tidak menutup kemungkinan rasa sakitnya membuat tidak sadarkan diri dan posisi Naura tengkurap bagian dada yang merasakan rasa sakit, hidung nya pun berdarah, seluruh badannya seperti remuk.
Seseorang menatap nanar Naura dari atas kemudian pergi begitu saja. Ketua Osis yang akan mengecek Naura terkejut melihat Naura yang sudah terkapar di bawah. Ketua OSIS langsung menelpon ambulans jika dia mencoba untuk membawa Naura takutnya cedera yang ada pada Naura semakin parah karena ketua OSIS memperkirakan bahwa Naura jatuh dari tangga. Ketua OSiS pun menelpon guru yang piket dan memberitahukannya.
Ryan yang sedang menelungkup kan wajah nya terkejut mendengar Naura tidak sadarkan diri. Dia berlari menuju Naura ketika Naura sudah di angkut oleh petugas kesehatan dan Ryan pun meminta kepada petugas untuk ikut. Akhirnya semua nya pun menyetujuinya.
Ryan menelpon Sandi, betapa terkejutnya Sandi tentang itu. Bukannya tadi Naura menelponnya. Sandi keluar menuju ke ruangan guru untuk mendapatkan izin agar bisa keluar menjenguk Naura.
Ponsel ayah Naura berbunyi, layar ponsel tersebut menampilkan wali kelas nya Naura, ayah Naura mengalihkan pandangan nya dari komputer. Setelah mendapatkan informasi yang mengejutkan ayah Naura, dengan terburu-buru dan panik ayah Naura mengenakan jas nya dan mencari kunci mobilnya. " Untuk meeting hari ini tunda dulu," ucapnya kepala sekertaris yang kebetulan masuk ke ruangan. " Baik pak," jawab sekertaris yang bernama Dimas.
Ayah Naura mengambil jalan pintas yang sepi karena jalan raya sedang macet. Aneh nya, ayah Naura merasa ada yang mengikuti nya dari belakang, dan benar saja beberapa orang mencegatnya menggunakan sepeda motor. " Woi keluar lo," teriak salah satu. Ayah Naura keluar dia menghadapi beberapa orang yang memakai masker hitam. " Ada apa, kalau kalian ingin merampok, ambil saja ini, " jawab ayah Naura yang mengira jika mereka itu adalah perampok. " Hajar," titah salah seorang. Ayah Naura membalas semua tinjuan yang datang tiba-tiba. Ayah Naura kewalahan karena kalah jumlah. Bibir nya terkena tinjuan dan punggungnya sempat terpukul. " Siapa mereka," gumam ayah Naura sembari menggepalkan tangannya untuk menyemangati diri nya. Sayang nya pertahanan ayah Naura runtuh, ia terbaring. Saat seseorang akan memukulnya dengan kayu. Tiba-tiba suara sirine polisi terdengar. Semua preman itu kabur.
Setelah pergi barulah Lyodra dan ibu nya keluar dari persembunyiannya di balik gedung tua. " Om tidak apa-apa?"tanya Lyodra setelah berada di samping Papa Naura yang terduduk. " Kamu temannya Naura ya, Tidak apa-apa, terimakasih sudah menolong," jawab ayah Naura. Lyodra menganggukkan kepalanya. " Sepertinya saya harus segera ke rumah sakit, kalian mau kemana?"tanya ayah Naura." Rumah sakit, siapa yang sakit om?"tanya Lyodra. " Naura masuk rumah sakit karena jatuh dari tangga," jawab ayah Naura. " Kalau begitu aku juga akan menjenguknya," jawab Lyodra. "mari masuk ke mobil saya," ucap ayah Naura. Lyodra menggelengkan kepalanya. " Tidak, kami juga membawa mobil disana, kami akan mengikuti anda," jawab ibu Lyodra.