21. Autopsi

6 1 0
                                        

Sandi yang mendengar itu menggigit bibirnya tanpa sadar dan hawa panas merasuki tubuh dan wajah Naura.
" Ayah aneh," gumam Naura melihat ke sembarangan arah.

" Sebenarnya jika ingin melakukan autopsi maka harus mendapatkan izin dari ibu kamu Sandi, sekarang coba kamu hubungi dulu ibu mu," ucap Ayah Naura.

" Baik om," ucap Sandi yang mengeluarkan ponselnya dia mulai menghubungi ibunya.

The number you dialed is not in service.

Sandi terus menghubunginya sayangnya tetap tidak bisa.

" Ya sudah biar nanti saja, kalau misalkan sudah dapat izin hubungi Naura, " kata Ayah Naura.

" Iya om," jawab Sandi.

" Pasti ada kan di rumah."tebak Naura. Sandi menggelengkan kepala sembari menjawab," tidak, mamah pergi ke negara Singapore sebagai TKW." Naura merasa bersalah karena asal menebak," maaf..." Sandi menggelengkan kan kepalanya dan tersenyum," tidak apa-apa."

" Ya sudah nanti kalau bisa di hubungi, bilang untuk pulang terlebih dahulu agar bisa menandatangani semua persyaratannya dan kamu jelaskan dengan baik-baik ya," jelas Ayah Naura. Sandi menganggukkan kepalanya.

Ayah Naura sedang membolak-balikkan sebuah dokumen dan menandatangani dokumen tersebut. Suara dering ponsel membuatnya teralihkan, ayah Naura melihat nama pengacara Zergan sialan  teman almarhum Istrinya yang sempat keluar setelah istrinya meninggal.

" Tuan Arya yang terhormat sudah saya bilang akan sulit untuk mengajukan autopsi... " Ucap telepon di seberang sana.

" Saya sudah lelah untuk berhubungan dengan hukum ini, sudah enak saya membuka peternakan ayam dengan seenaknya anda menyuruh saya dan mengancam saya akan membakar peternakan ayam saya jika saya tidak menuruti perintah anda," kesal di seberang sana.

" Banyak omong banget sih anda hah, mau saya bakar semua peternakan anda" kesal balik ayah Naura.

" Ehk jangan dong, jadi gini saat saya mengajukan otopsi awalnya mereka setuju aja, tetapi pas saya sebut nama orang yang akan di autopsi tiba-tiba mereka menolak," jawab Zergan.

" Mencurigakan," gumam ayah Naura yang terdengar oleh Zergan.

Zergan langsung menutup ponselnya karena takut akan di suruh lagi.

" Coba ajukan ke Polda," ucap Ayah Naura.
" ........" Tidak ada jawaban, ayah Naura pun melihat ponselnya yang ternyata emang sudah di tutup.
" Sialan si Zergan," kesal ayah Naura.

Bunyi telepon membuatnya tersenyum, my daughter. Dengan segera ayah Naura membuka ponselnya, " ada apa sayang," tanya ayah Naura langsung. " Mamah Sandi setuju untuk melakukan autopsi dan dia akan pulang besok lusa," jawab di seberang sana. " Baiklah nak," jawab ayah Naura.
" Ayah makasih ya sudah membantu," ucap Naura. " Ingat kata Bunda..." Secara berbarengan mereka berkata," segala kejahatan pasti akan terungkap," mereka tertawa bersama dengan mengingat wajah wanita yang mereka sayangi. " Baiklah nak ayah tutup yang ponselnya." Naura segera menjawab," iya ayah."

Ayah Naura tersenyum melihat foto keluarganya yang ada di depannya nya, jari kanan ayah Naura di rentangkan dan sebuah cincin pernikahannya tersemat di jari manisnya, ayah Naura mengusap cincin tersebut dan tersenyum, " aku merindukan mu, Aily." Tak terasa air matanya berada di ujung mata membuat ayah Naura segera menghapus.

Ke esokan lusanya, autopsi pun di lakukan di rumah sakit atas izin pihak keluarga, pihak penyidik dari Polda,  dan pengadilan berhasil di setujui berkat usaha ayah Naura. Ayah Naura tidak sempat ke rumah sakit karena sedang meeting, dan di rumah sakit hanya ada Naura, Sandi dan ibu Sandi.

Di malam hari Naura berada di kamarnya, ia melihat dokumen dari sekolah. Naura melihat dokumen yang menyatakan ke ganjalan dalam merinci semua biaya dari tahun ke tahun. Di halaman terakhir, Naura melihat sebuah kertas terselip. Naura pun membukanya.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.






Ternyata hanya sebuah lukisan. Yang aneh nya ada tanggal kecelakaan bunda nya pada saat itu.

" Apa ini juga merupakan kode?" Batin Naura bertanya.

Siang hari nya Naura masih di rumah karena sekolah masih di liburkan dan latihan pun libur karena paman Naura sedang membantu ayah di perusahaan yang sempat mengalami serangan scammer. Untungnya, om Arga bisa mengatasinya.

Naura mendapatkan sebuah pesan dari Sandi yang mengatakan bahwa memang Sindy di racuni oleh seseorang. Naura mengajak Sandi untuk melaporkan hal tersebut ke kantor polisi, Sandi menyetujuinya. Mereka kini telah melaporkan keadaan Sindy yang sebenarnya, ada respon yang kurang menyenangkan tapi di bantu oleh om Zergan mereka berhasil melapor.

Naura sendirian  menemui kepala sekolah, sedangkan Sandi dan Zergan  menunggu di luar. Sandi tidak ingin melihat wajahnya dia takut melakukan kekerasan terhadap kepala sekolahnya itu.

" Ada apa kamu ingin menemui saya?"tanya kepala sekolah itu.

" Setelah melakukan pelecehan, apa bapak juga yang menggelapkan uang sekolah dan apa bapak juga yang meracuni Sindy untuk menutupi kebusukan bapak?"tanya Naura secara terang-terangan.

" Jangan asal bicara ya kamu, saya tidak melakukan itu," jawab Kepala Sekolah dengan nada tinggi.

" Bukti dokumen menunjukkan kalau bapak lah yang mengambil uang sekolah," ucap Naura menunjukkan bukti pemasukan kepala sekolah yang ada di dokumen itu.

" Dan saya yakin anda pula yang meracuni Sindy untuk menutupi semua perilaku anda," lanjut Naura yang sempat kesal.

" Jangan kurang ajar ya kamu saya bilang bahwa saya tidak melakukan itu," ucap kepala sekolah dengan menggepalkan jari-jarinya.

" Waktu kalian sudah selesai," ucap salah seorang polisi. Akhirnya, sang kepala sekolah di giring ke sel kembali.

" Bukan saya pelakunya ingat itu saya tidak pernah meracuni atau menggelapkan uang sekolah," teriak Kepala sekolah yang sedang di giring. Naura hanya melihat punggung kepala sekolah.

Seseorang yang memakai jaket kulit berwarna hitam  menyeringai mendengar percakapan mereka berdua.

(⁠☉⁠。⁠☉⁠)⁠!⁠→

Secret Code ( On Going )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang