23. Lukisan

5 0 0
                                        

Di sebuah ruangan dua pria paruh baya yang membelakangi Naura sedang berbincang sembari mengesap rokok." Akhirnya wanita sialan itu tidak ada," ucap salah satu pria paruh baya. " Jangan dulu bahagia karena anak itu mengetahui rahasia kita," jawab salah satu nya.
Tiba-tiba Naura berada di sebuah ruangan melukis, Naura melihat Sindy sedang melukis, seseorang dari belakang Sindy membawa pisau, insting Sindy bagus dia dapat menghindari pisau tersebut. Sindy berlari, dia berhasil keluar dari ruangan itu. Namun, tetap saja orang tersebut mengejarnya. Sindy berlari dengan cepat ke belakang sekolah. Sindy memanjat tembok untuk bisa keluar walaupun lutut dan telapak tangannya lecet, tetapi Sindy berhasil keluar.

Pandangan Naura berubah menjadi langit-langit kamar nya. Naura menjadi frustrasi dengan mimpi tersebut. " Bukankah semua nya sudah selesai? Mengapa dia datang lagi di mimpi," gumam Naura mengacak rambut nya dan menundukkan kepalanya untuk mengingat mimpi itu.

" Bukannya lukisan tersebut sama dengan lukisan yang terselip di dokumen itu," ucap Naura terbangun dan berdiri mencari lukisan tersebut.

" Untung nya lukisan ini tidak di selipkan lagi ke dokumen yang di berikan kepada polisi. Tapi, mengapa ada tanggal kecelakaan bunda," ucap Naura kembali.

Satu bulan berlalu, banyak perubahan terjadi pada anak-anak beasiswa, mereka mendapatkan perilaku adil di sekolah itu, tidak ada lagi diskriminasi terhadap perbedaan status. Kini anak yang berada tidak berani lagi melakukan tindakan pembulian karena hukuman nya adalah di keluarkan sekolah, orang tua yang merasa malu atas perilaku anaknya sebagai pembuli juga ada yang langsung pindah ke sekolah lain dan ke luar negeri untuk mempertahankan nama baik keluarga mereka.

Para siswa dan siswi berbaris rapih di lapangan, upacara pun akan dilaksanakan suara dari pembawa acara membuat para siswa/i terdiam. Ketika pembawa acara mengucapkan pembina upacara memasuki lapangan upacara, bunyi sepatu terdengar dari lorong di dampingi seorang siswa, pria paruh baya keluar menuju lapangan. Suara pelan berbisik terdengar di telinga Naura.

" Itu kan pemilik sekolah," ucap seseorang.
" Iya, kenapa beliau baru muncul?" Jawab seseorang nya lagi.
" Beliau kan sibuk, lo tau dia adalah anggota Dewan Perwakilan, ya kali beliau tidak meluangkan waktu nya setelah kekacauan yang di lakukan kepala sekolah," jawab seseorang nya lagi.
" Iya ya bener juga, ehk dengar-dengar kalau pemilik sekolah itu mempunyai anak tapi siapa ya? Dan katanya pula anak nya sekolah disini juga, tapi siapa? Atau mungkin hanya berita bohong," duga seseorang.
" Heh kalian jangan mengobrol," peringat anggota OSIS yang tiba tiba masuk barisan mereka, hingga mereka pun terdiam.

Naura duduk di kantin sekolah sendirian, dia sangat merindukan temannya yaitu Lyodra. Naura masih mencoba untuk menghubungi Lyodra, sayangnya tetap saja tidak bisa di hubungi, bahkan sosial media nya juga tidak aktif. Seolah-olah Lyodra menghilang dari dunia. Naura mengalihkan pikirannya ke makanan, dia mengambil makanan dan mengunyahnya. Secara mengejutkan Rasya duduk berhadapan dengan Naura. Naura berhenti mengunyah makanan nya dan melihat Rasya yang langsung memakan makanan nya. Beberapa orang berbisik membicarakan Rasya.

" Gak tau malu," ucap seseorang di bangku sampingnya.
" Iya. Pengacara Naura kan yang membela almarhum Sindy dan melawan pengacara kepala Sekolah," jawab temannya.
" Iya, kalau gue jadi dia sih lebih baik enggak keluar rumah," ucap seseorang lagi.
" Hhaha bener juga, malu tau ngak sih. Apa si Rasya ngak punya rasa malu ya,"
" Hahaha," tawa salah satunya.

Rasya marah dengan semua ucapan teman-temannya. Tapi, dia harus menahannya dengan mengalihkan ke makanannya. Naura kembali memakan makanannya dan mengacuhkan Rasya. Naura bukannya tidak mendengar pembicaraan orang-orang hanya saja Naura ingin sedikit membalaskan dendam Sindy pada Rasya, bagaimana di posisi menjadi seseorang yang di benci dan bahan pembicaraan orang-orang tanpa ada seorang pembela.

Keira dan Bianca berjalan menuju kantin, pandangan Keira terhenti ketika dia melihat Rasya bersama dengan Naura. Keira menggertakkan giginya mengingat Rasya yang menuduh nya tanpa bukti. Keira kecewa pada Rasya yang merupakan sahabat kecil dan orang yang dia sukai tega menghilangkan kepercayaannya. Bianca berbalik pada Keira yang sedang menatap Rasya, dengan kesal Bianca berjalan menuju tempat minuman kemudian dia membawa Keira ke bangku Rasya dan secara mengejutkan Bianca langsung menumpahkan minuman tersebut ke makanan yang Naura makan. Semua orang disana terkejut dengan perlakuan Bianca.

" Upssm. Sorry sengaja, haha" ucap Bianca tertawa tanpa rasa bersalah.
" Apaan sih anda?" Kesal Naura berdiri.
" Jadi cewek jangan murahan," jawab Bianca.
" Gara-gara teman lo, Keira jadi mendapatkan fitnah. Terbukti kan bahwa teman lo yang haus ketenaran itu pelaku nya. Hhhh langsung kabur lagi. Dasar pecundang," ejek Bianca.
Dengan nafas yang tidak beraturan Naura menumpahkan makanan nya mengenai pakaian Bianca. " Aaa," teriak Bianca. Bianca yang tidak mengalah mulai menyerang Naura dengan menjambak rambut Naura. Pertengkaran mereka di saksikan oleh beberapa orang.

Secara kebetulan ketua OSIS ada di kantin, melihat keributan tersebut membuat dia berlari menuju ruangan konseling. Melihat kekacauan yang ada di kantin membuat Guru BK menjadi murka apalagi dia melihat Naura berhasil menggulingkan Bianca seorang diri membuat Bianca tiduran di lantai. Keira yang tidak terima menjambak rambut Naura.
" Awwss..," keluh Naura.
" Hentikan kalian," teriak guru tersebut.
" Kalian ini," kesal guru tersebut sembari menjewer telinga Naura dan Keira. Sedangkan Bianca diangkut menggunakan tandu oleh anak PMR.
Selama perjalanan menuju ruang BK, Naura merasakan perih di kepalanya, apalagi dia melihat beberapa helai rambut terjambak oleh mereka berdua.

" Mau jadi apa kalian hah!? Kalian dari kelas mana?"" Tanya guru tersebut. Naura dan Keira hanya menundukkan kepala. " 11 MIPA 1,"
" Apalagi kamu.. kayak anak laki laki saja," tunjuk guru tersebut kepada Naura.
" Maaf pak tapi Bianca yang duluan," jawab Naura.
" Seenaknya dia pak yang membanting tubuh teman saya, dia juga yang menumpah makanan ke baju Bianca.
" apaan sih teman anda yang tiba-tiba datang menumpahkan minuman ke makanan saya, jadi orang jangan playing victim dong," kesal Naura.
" Haha playing victim katanya," jawab Keira bernada sinis.
" Cukup kalian," kesal Guru tersebut sembari memijat dahi nya sembari menghela nafas.
" Orang tua kalian akan saya panggil dan sekarang kalian akan membersihkan ruangan gudang dan halaman sekolah. Untuk kamu ..Nau-ra membersihkan gudang dan kamu Kei-ra membersihkan halaman sekolah, sebelum itu kalian akan memakai ini," ucap kepala sekolah memberikan name tag besar dengan bertuliskan.
'Aku sedang di hukum karena berkelahi dengan teman saya sendiri dan aku menyesal'. Tanpa membantah mereka memakainya.

" Kalian akan diawasi oleh Ketua OSIS," tegas guru Bk. Mereka berdua pun keluar dengan Ketua OSIS.

(⁠☉⁠。⁠☉⁠)⁠!⁠→

Naura terbatuk-batuk membereskan lukisan yang ada di gudang tersebut. Satu persatu Naura masukkan ke dalam dus besar. Tangan nya berhenti di lukisan terakhir.
" Ini kan lukisan yang sama tapi ..." Ucap Naura.


Secret Code ( On Going )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang