Semilir angin menerpa wajah cantik Naura, Sandi melirik wajah Naura yang sedang memejamkan matanya lewat kaca spion. Tanpa sadar Sandi tersenyum.
Setelah beberapa menit mereka telah sampai di pemakaman umum yang tidak asing bagi Naura. Sandi memarkirkan sepeda motor matic nya, Naura yang masih memakai helm langsung berjalan ke penjual bunga. Dia membeli 2 buket bunga. Setelah membeli Naura kembali ke tempat parkiran motor, Naura mencoba melepaskan helmnya dengan bantuan Sandi. Sandi yang lebih tinggi menundukkan kepalanya. Naura bisa melihat wajah Sandi dari dekat, entah kenapa Naura merasakan hawa panas yang menyerang wajah nya.
"Ekhem." Deheman Naura setelah Sandi berhasil membuka helm dan tersenyum pada Naura.
Naura berjalan mengikuti Sandi, tak berselang lama mereka telah sampai di pemakaman Sindy yang terdapat 3 buket bunga. Sandi tidak heran jika mendapati satu buah buket bunga di pemakaman kakanya. Tapi, sekarang ada 3 itu artinya ada 3 orang yang telah mengunjungi makam kakaknya.
Naura berjongkok melihat pusaran Sindy, Naura mengusapnya dan meletakkan satu buket bunga, " terimakasih Sindy. Ternyata andalah orang yang telah menyelamatkan saya. Sekarang saya tau mengapa anda selalu muncul dalam mimpi saya." Setelah itu Naura mendoakan Sindy
" Kak , sekarang nama kamu sudah baik. Tujuan pertama ku sudah selesai sekarang aku akan mengungkapkan siapa orang yang telah meracuni kakak," batin Sandi, kemudian Sandi juga mendoakan kakanya.
Setelah selesai Naura mengajak Sandi ke pemakaman bundanya yang tak jauh dari pemakaman Sindy. Sandi melihat nama pusaran di pemakaman tersebut " Aily Quinza," batin Sandi.
Matahari mulai akan terbenam Sandi mengantarkan Naura, rumah besar Naura membuat Sandi menelan ludah. Apalagi dia melihat di dalam pagar seorang pria paruh baya memelototinya berada di halaman rumah dengan berkacak pinggang.
" Ishh .. kenapa ada ayah," gumam Naura sembari melepaskan helm yang dia pakai.
Ayah Naura menghampiri mereka berdua, tidak ada kesempatan lagi bagi Sandi yang akan kabur.
" Kalian berdua masuk," ucap pria paruh baya.
Sandi masih menelan ludahnya dengan kasar dan Naura mengajak Sandi untuk masuk lewat kedipan matanya yang mengisyaratkan bahwa Sandi tidak boleh menolak. Sandi terus menerus melihat ruangan ruangan rumah itu beserta dengan barang barang yang terpajang di setiap ruangan. Naura mempersilahkan untuk duduk di ruang tamu. Sedangkan ayah Naura entah pergi kemana.
" Anda duduk disini dulu ya," ucap Naura.
" Naura bersihkan dulu badan kamu!" Teriak Ayahnya yang berada di sebuah ruangan.
" Iya!" Jawab Naura berteriak dan berlari menuju tangga.
Mata Sandi menyusuri setiap hiasan rumah Naura. Sandi terpaku pada foto besar keluarga Naura.
" Tante..."
Memorinya mencoba untuk mengingat wajah yang pernah dia lihat.
Sandi baru saja memarkirkan sepeda nya di parkiran, dia melihat seorang wanita dengan memakai jas memasuki mobil.
" Siapa dia?" Batin Sandi.
Di lain hari Sandi juga sering melihat wanita itu keluar dari ruangan kepala sekolah ataupun ruangan lainnya. Wanita itu selalu membawa dokumen yang ada di tangannya, karena rasa penasaran akhirnya Sandi mengikuti wanita itu yang sedang menemui kakaknya. Mereka terlihat begitu akrab.
" Sejak kapan kakak mengenalnya??" Gumam Sandi
Sandi hanya bisa melihat dari kejauhan tanpa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
" Den, tuan menyuruh pergi ke meja makan," suara lembut di hadapannya menyadarkan Sandi.
" Apa?" Tanya Sandi refleks.
" Tuan menyuruh aden untuk ke meja makan," ulang Bi inah.
"Ada apa ini," batin Sandi khawatir. Sandi berdiri dan mengikuti langkah bi Inah.
Lewat tatapan ayah Naura, Sandi tau bahwa dia menyuruhnya untuk duduk. Dengan ragu Sandi menggeser kursi tersebut. Dia melihat tatapan yang tajam terus ke hadapannya. Sandi menarik nafasnya untuk menenangkan rasa gugupnya.
" Mengapa anak saya pulang jam segini?"tanya ayah Naura.
" Emmm i..ni om saya dan Naura berziarah ke makam kakak saya," jawab Sandi.
" Sial kenapa jadi gugup gini." Batin Sandi yang baru sadar jika dirinya berbicara formal.
" Ada hubungan apa kakak anda dengan anak saya?" Tanyany lagi.
" Be...gini.. ja.." belum sempat Sandi meneruskan perkataannya Naura datang dengan memakai pakaian tidur polos berwarna navy.
" Jadi ternyata kakak dia adalah orang yang sudah mendonorkan ginjalnya untuk saya," ucap Naura sembari duduk bersebrangan dengan Sandi.
" Sindy, apa kenapa dia meninggal?" Tanya ayah Naura yang terkejut.
"Kemungkinan Sindy di racuni oleh seseorang. Sayangnya fakta tersebut tidak di benarkan dan sampai sekarang penyebab utamanya karena kekerasan yang dilakukan oleh papahnya," jawab Naura
" Maksudnya?"
" Jadi, pada saat itu Sindy berdebat dengan ayahnya. Tanpa sengaja Sindy terdorong hingga mengakibatkan pingsan. Setelah di bawa kerumah sakit seorang dokter mengatakan bahwa Sindy meninggal karena racun yang ada dalam tubuhnya menyebar. Asal ayah tahu sebelum berdebat Sindy seperti merasakan sakit di kepalanya dan wajahnya pucat, dan saat itu Sindy baru pulang. Kemudian Sandi ingin kakaknya di otopsi, anehnya keesokan harinya dokter yang mengatakan bahwa kakaknya di racuni di ganti oleh dokter lain yang mengatakan bahwa Sindy meninggal karena luka luka yang di berikan oleh papahnya. Otopsi pun gagal dilakukan." Jelas Naura.
" Kemungkinan ada seseorang di balik ini," spekulasi Ayah Naura.
" Iya ayah," setuju Naura.
" Jadi saya pergi berziarah kesana untuk mengucapkan terimakasih bersama dengan Sandi adik kembarnya." Ucap Naura kembali.
" Emmm begitu." Dengan anggukan ayahnya.
" Dulu ayah bertemu dengan Sindy di jalan, saat itu Sindy akan menyebrang jalan dan ayah hampir menyerempet nya karena saat itu keadaan ayah sangat kalut, bunda sudah tidak ada dan kondisi kamu semakin memburuk. Ayah meminta maaf padanya dan memberi tumpangan untuk mengantarkannya kerumah. Akhirnya dia setuju, anehnya dia mengetahui keadaan kamu dan tiba-tiba dia mengajukan donor ginjalnya. Ayah menolaknya karena dia masih remaja dan masa depannya panjang. Tetapi dia memberikan sebuah kertas yang berisikan nomer ponselnya. 3 hari kemudian kondisi kamu semakin parah tidak ada donor ginjal yang cocok untuk kamu bahkan punya ayah atau bunda tidak cocok, tanpa pikir panjang ayah menelpon Sindy. Sindy pun menyetujuinya dan secara kebetulan ginjal Sindy cocok dengan mu. Sindy senang, dia mengatakan bahwa uang dari donornya akan dia bayarkan untuk sekolahnya dan untuk kehidupan keluarganya, terutama adik dan mamanya," jelas ayah Naura.
" Ternyata kamu adik yang Sindy maksud," lanjut ayahnya.
" Ayah akan bantu untuk mengungkapkan kematian kakak kamu nak," ucap lembut ayah Naura.
" Terimakasih om," jawab Sandi yang menundukkan kepalanya.
Naura yang melihat keadaan Sandi yang sedih, dengan senyuman Naura mengajak mereka untuk makan yang sudah tersaji oleh bi Inah.
" Mari kita makan, tidak baik membiarkan makanan ini dingin," ucap Naura. Ayah Naura pun menyetujuinya. Dia mengambilkan makanan untuk Sandi.
Mereka pun akhirnya makan tanpa bersuara, hanya dentingan sendok dan piring yang berisik. Selesai minum ayah Naura melihat wajah Sandi yang sedang melihat anaknya.
" Jadi, apa hubungan kalian? Apa kalian memiliki hubungan spesial?"tanya ayah Naura.
" Uhuk ...uhuk," batuk Sandi yang terkejut dengan pernyataan ayah Naura.
" Kami berteman ayah," jawab Naura cepat.
" Ohh ayah pikir dia pacar kamu Naura, secara dari tatapan Sandi dia menyukai kamu," ucap Ayah Naura.
Sandi yang mendengar itu menggigit bibirnya tanpa sadar dan hawa panas merasuki tubuh dan wajah Naura.
" Ayah aneh," gumam Naura melihat ke sembarangan arah.
(ꏿ﹏ꏿ;)
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Code ( On Going )
Novela JuvenilNaura selalu bermimpi tentang wanita yang sama setelah dirinya mendapatkan transplantasi ginjal. Ia meyakini mimpinya ingin mengungkap sesuatu. Saat dirinya memasuki sekolah baru, bangunan ruangan dan seragam nya seperti yang ia mimpikan. Hingga d...
