Part 10 - The Past?

112 7 0
                                    

******

Hai, update lagi:) Semoga terhibur dengan ceritaku yang aneh dengan konflik yang kadang gak jelas ini. Lagi berusaha nih buat feel yang tepat. 

Jangan lupa vote dan commentnya ya!:D

Aku tidak pernah berhenti untuk meminta kritik dan saran apapun itu, atau sekalian kasih advice buat aku gimana alurnya atau konflik yang sesuai, aku pasti respon;)

Selamat membaca :D

******

"Have you ever been in love? Horrible isn't it? It makes you so vulnerable. It opens your chest and it opens up your heart and it means that someone can get inside you and mess you up."

Neil Gaiman, The Sandman, Vol 9: The Kindly Ones

******

Melody's POV

Orion menjemputku lagi kali ini, aku rasa sikapnya masih sama, dingin, datar walaupun terkadang hangat. 

Semalaman aku tidak bisa tidur karena kata-katanya. 

Pertunangan dan kita akan mengenal lebih jauh.. Bagaimana?

Jikalau dia tidak bisa menerima aku dalam masa pengenalan yang dia bilang, apa dia akan meninggalkanku begitu saja? Bahkan membayangkan itu saja membuat perutku rasanya mual. Tetapi tentu saja akan lebih mudah untuknya meninggalkanku yang tanpa terikat status dengannya seperti halnya sekarang ini. 

"Melamun lagi?" Aku tersentak mendengar suara bass pria yang tengah menyetir di sebelahku itu. Aku menghela nafasku panjang lalu mengamati keadaan kota Jakarta di pagi hari. 

"Papa dan Mama ingin bertemu denganmu" Orion kembali membuka pembicaraan. Aku hanya mangut-mangut, semalaman aku berpikir dan akhirnya memilih untuk bertunangan dengannya, dia berjanji untuk mengenalku, maka aku pegang janji itu, walaupun masih terasa sesak jika mengetahui Orion belum ada rasa apapun padaku. 

"Kau tahu maksudku" ujarnya lagi, aku meringis mendengar nada dinginnya. Tidak bisa kah dia menggunakan nada yang lebih hangat sedikit? 

"Aku sudah punya jawaban, jadi kamu jangan khawatir" jawabku mantap. Dia meminggirkan mobilnya dan berganti menatapku, aku hanya memandangnya risih, tidak pernah aku ditatap laki-laki seintens itu. "Bisakah kau tidak menatapku begitu?" pintaku, dia akhirnya sadar lalu mengalihkan pandangannya. 

"Jadi.."

"Aku setuju" ujarku singkat namun aku menutup mataku, berharap pilihanku tepat. 

"Kamu tidak merasa terpaksa?" tanya Orion, aku membuka mataku dan menatapnya dengan tajam, apakah dia tidak memperhatikan wajahku yang lelah karena tidak tidur semalaman hanya untuk memikirkan dan menimbang-nimbang masalah itu?

"Aku serius" jawabku. Dia menghela nafasnya dan mengangguk. Dia lalu menjalankan mobilnya lagi. 

"Kalau begitu, aku pikir ada satu langkah yang perlu diperbaiki" ujar Orion. Aku meliriknya. 

"Apa?" tanyaku, dia tersenyum kecil, dan sesuatu seperti menggelitik perutku dan jantungku berpacu lebih cepat. Sial, sindrom apa sih ini? Kok bisa begini?

"Panggil aku mas, karena aku lebih tua darimu, ody" ujarnya dengan senyum manis yang tak lepas dari wajah tampannya, dan tentu saja, lesung pipi itu selalu muncul ketika ia tersenyum seperti itu.

Aku memutar bola mataku. "Sebegitu tua kah? Atau sekalian aku panggil om?" godaku, dia tiba-tiba cemberut, aku baru kali ini melihatnya cemberut. Aku kontan tertawa melihat wajahnya cemberut begitu. Dia diam saja walaupun aku sudah berhenti tertawa, aku merasa bersalah juga sih. 

The Melody of UsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang