Ody, ody...
Aku membuka mata dan melihat lorong panjang dihadapanku. Lalu aku melihat bayangan yang makin mendekatiku. Aku berjalan, berusaha menjauh dari bayangan itu, tetapi bayangan itu mengikutiku lebih cepat, cepat dan cepat. Aku berlari, menjauh sebisa mungkin. Aku tidak bisa merasakan tangan atau kakiku.
Tetapi bayangan itu makin membesar, tidak peduli aku berlari secepat mungkin, bayangan itu tidak berhenti mengejarku. Makin lama, semakin menyeramkan, dan sepersekian detik kemudian, aku jatuh ke lubang tak berdasar.
Aku bangun, dengan keringat dingin dan tangan yang gemetaran, mimpi apa itu tadi? Bahkan aku tidak bisa menjelaskan betapa besar rasa takut yang menyerangku. Aku melirik jam.
"Jam 6 pagi" aku menggumam. Aku memutuskan turun dari tempat tidurku dan beranjak ke kamar mandi. Mungkin mandi pagi sekarang akan menghilangkan rasa takut dan mimpi aneh itu.
***
"Wah, udah bangun anak mama?" Mama sedang sibuk dengan peralatan masaknya, sambil tersenyum kepadaku. Aku mengangguk dan mengusap wajahku. "Mimpi buruk, ma" ujarku. Mama mematikan kompor dan berbalik ke arahku yang tengah minum air putih.
"Mimpi apa sayang?" ujar mama. Aku menatap mama, dan menerawang ke arah gelas yang berisi air putih di tanganku. "Entahlah, mimpi aneh yang menyeramkan" ujarku. Ia mengusap kepalaku dan tersenyum. "Mungkin, kamu lagi banyak pikiran. Memangnya kamu mikirin apa?" Aku menatap mama dan menerawang ke arah lain.
Kata-kata Orion benakku.
Entah sejak kapan, lelaki itu kini masuk ke dalam kehidupanku seenaknya, dan membuatku tidak bisa mengeluarkannya dari pikiranku, terutama kata-kata anehnya itu.
Kamu milikku. Aku bergidik dan menggeleng. "Nggak ada apa-apa, Ma" Aku beranjak dari tempat duduk dan mengambil roti dari panggangan. "Kamu gak mau nasi goreng?" tanya Mama, yang mulai menghidupkan kompornya lagi, melanjutkan aktivitas memasakknya.
"Simpenin buat Ody buat nanti siang aja ma" ujarku dari ruang tamu. Aku mengambil tas dan sepatuku, bersiap untuk kegiatan kuliah pagi ini. "Oh ya sayang, Orion nelpon mama semalam, katanya dia yang akan jemput kamu" Aku menoleh menatap mama dengan heran. "Untuk apa?" Mama tersenyum usil, "Dia tuh serius sama kamu, dy. Kamu tanggapin lah, masa selamanya mau sama Andro? Andro kan sekarang juga punya cewek" Aku terkejut menatap mama, bukan kata-kata Orion serius denganku tetapi terlebih dengan penuturan mama akan Andro.
"Yang benar ma?" ujarku, mama mengangguk-angguk sambil tersenyum. "Maksud ody, yang Andro itu punya cewek?" tanyaku sambil mendekat ke arah mama. "Oh, itu asumsi mama aja. Laki-laki kayak dia itu pasti udah ada cewek ody, jangan kamu kekang terus" ujar Mama sambil tertawa kecil. "Kalau kamu serius sama Andro, ya tanggapin dia juga lah. Kasian dia nunggu kamu terus gak ada hasil" ujar Mama lagi. Aku mendengus dan berpamitan dengan mama. "Mama jangan sok tahu lah. Ody, pergi dulu ya." Aku mencium tangan dan pipi mama lalu berangkat ke kampus.
****'
Aku sampai di kampus lebih cepat dari biasanya. Tempat yang kutuju pertama kali adalah taman kampus. Aku melihat jam tanganku. Jam menunjukkan pukul 8, tetapi taman kampus sudah ramai dengan murid yang tengah mengerjakan tugas harian mereka. Tak sengaja aku melihat Andro sedang duduk di pinggir taman.
"Dor!" Andro terlonjak kaget, ia meloncat dan menatapku dengan sengit. "Ody!" Dia duduk kembali, aku tertawa dan duduk di sampingnya. "Maaf ya, lagian kamu serius banget kerja tugasnya" ujarku sambil melirik apa yang tengah ia kerjakan. "Tugas Pak Herman ya?" Ia mengangguk dan memijat pelipisnya. "Tumben kamu pagi banget dateng? Ada angin apa nih? Biasanya juga telat" cibir Andro sambil mengutak-atik laptopnya lagi.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Melody of Us
RomansCerita ini tak ubahnya sebuah cerita cinta biasa. Dengan tokoh yang biasa. Seorang yang dingin dan seorang yang begitu aktif, dipersatukan dalam sebuah keinginan panah sang pemanah cinta. Mereka diikat sebuah cincin, tanpa cinta awalnya. Tetapi p...