Melody's POV
Aku menghela nafasku, sambil mematut diriku di depan sebuah cermin yang lebih besar daripada tubuhku. Mataku menyusuri setiap jengkal kebaya putih yang melekat pas di tubuhku. Pakaian itu begitu sederhana tetapi memberi kesan elegan di saat bersamaan.
Aku menghela nafasku lagi dan lagi. Aku akui, aku cukup tegang.
Ralat. Aku sangat tegang.
Tiba-tiba pundakku di tepuk. Aku melihat mama sedang tersenyum bahagia lewat bayangan cermin.
"Cantik sekali anak mama" puji mama. Aku hanya tertunduk malu. "Kamu gak perlu tegang sayang. Ini baru pertunangan" goda mama. Aku tertawa kecil dan berbalik lalu memeluk mama.
"Mama ingin tahu satu hal" pinta Mama. Aku melepaskan pelukanku dan memandang mama. "Kamu jatuh cinta pada Orion?" Aku menyeritkan dahiku sebentar mendengar penuturan mama.
"Mama..." Mama tersenyum. "Mama tahu kamu sayang" ujarnya. Aku mengalihkan pandanganku dan melirik diriku di dalam cermin. "Aku mencintainya ma. Sepenuh hati." Mataku berkaca-kaca, mengingat betapa sakitnya pertunangan ini terjadi dimana Orion masih mempunyai rasa dengan kak Gita.
"Tapi?" Aku menatap mama lekat. "Mama tahu.. Orion dan Gita.." Sudut bibir mama turun dan mengelus wajahku lembut. "Mama tahu." ujarnya. Dia menggelengkan kepalanya, menandakan aku yang harus tenang dan tidak terbawa emosi, karena jika sekali saja aku terbawa, aku akan mengacaukan pertunanganku ini.
"Tetapi kenapa kamu memilih ya?" Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum. "Dia berjanji untuk tidak bermain-main dan mengenal Ody lebih dekat" ujarku meyakinkan mama. "Kamu serius?" Aku mengangguk.
"Ody akan buat dia jatuh cinta, jadi aku juga akan berusaha, Ma." tekatku pada mama dan pada diriku sendiri. Aku harus membuatnya juga jatuh cinta padaku, tidak membuatnya berusaha sendirian.
"Mama bangga sama kamu. Ayo, semuanya sudah menunggu di luar" tutur Mama.
Aku mengangguk dan mematut diriku untuk terakhir kali di dalam cermin dan menghela nafas lega, lega rasanya mengatakan semuanya pada ibumu sendiri, seperti beban berat yang aku pendam semenjak semalam dan menyulitkanku untuk terlelap kini terangkat sudah.
Aku harus siap.
Senyum ody. Perjuangan cintamu yang rumit akan dimulai.
******
Prosesi tunangan atau lebih tepatnya, lamaran adat jawa dilaksanakan dengan begitu lancar dan khusyuk, walaupun terkadang tingkah papa yang petakilan membuat prosesi tersendat-sendat.
Aku menghempaskan tubuhku ke arah sofa di pinggir ruangan sambil menikmati minuman yang tersedia. Semua yang ada pada saat garden party kemarin datang, kecuali Sheila.
Andro? Aku sempat melihatnya berbincang dengan Reno tetapi kini menghilang. Aku menghela nafasku mengingat sahabatku itu. Bagaimana mungkin aku tega melihatnya begini, aku malah berharap sekali dia tidak datang hari ini. Bukan maksudku egois, tetapi rasa bersalah terus menyekapku seakan aku benar-benar membunuh perasaan orang terdekatku.
"Capek?" Tubuhku menegang mendengar suara Orion telah sampai di telinga kananku. Aku menoleh dan mengangguk. "Cukup" ujarku. Dia hanya terdiam melihatku. Kami tidak pernah berbicara semenjak prosesi tunangan dimulai.
Dan kini suasananya cukup dingin, aku rasa.
"Kenapa mas?" tanyaku risih. Dia menatapku begitu intens. "Tidak apa-apa. Hanya tidak percaya" Aku terkejut dengan penuturannya, membuat pandanganku ke arah pintu, lalu mengigit bibir bawahku sedikit, rasa sesak begitu kurasakan ketika dia bilang, hanya tidak percaya.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Melody of Us
RomanceCerita ini tak ubahnya sebuah cerita cinta biasa. Dengan tokoh yang biasa. Seorang yang dingin dan seorang yang begitu aktif, dipersatukan dalam sebuah keinginan panah sang pemanah cinta. Mereka diikat sebuah cincin, tanpa cinta awalnya. Tetapi p...