Aku berbaring menatap langit-langit dan termenung. Aku pulang lewat magrib, tapi ibuku sedang sibuk dengan laporan keuangan dan telepon dari kantor pusat di Jakarta, jadi aku lolos dengan mudah. Meski makanan "sungguhan" terakhirku sudah lewat lebih dari lima jam yang lalu, aku tidak merasa lapar. Alih-alih, aku memikirkan hal lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan makanan.
Janis.
Aku berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum Janis kabur seperti kelinci yang mencium tanda bahaya. (Dan membuatku membayar semua tagihan; tapi itu tidak terlalu penting sekarang.) Apa aku mengatakan sesuatu yang mengganggunya? Atau aku melakukan sesuatu yang mengganggunya?
Aku tidak mengatakan apa-apa, aku yakin itu. Kali terakhir aku berbicara ia masih baik-baik saja. Berarti...
Aku mengerutkan kening. Apa itu karena aku menggenggam tangannya? Aku menggelengkan kepala. Tidak mungkin. Aku yakin pada saat itu Janis balas menggenggam tanganku. Dan ekspresi di wajahnya saat itu tidak mungkin salah, ya kan?
Ataukah aku salah mengartikan rasa terkejut dengan terpana?
Aku mengusap wajahku sambil duduk di pinggir tempat tidur. Aku merasa kacau. Aku benci bertanya-tanya. Jika aku memang harus tidak bisa tidur karena memikirkan sesuatu aku lebih memilih memikirkan tentang kalkulus dibandingkan hal ini. Setidaknya ketika aku memikirkan Janis malam-malam yang lalu yang kurasakan adalah kebahagiaan. Sekarang rasanya seperti gumpalan kertas yang dicelupkan ke air got dan dipakai untuk bermain sepak bola kertas.
Kemudian diinjak-injak sampai rata dengan tanah.
Mengerang, aku meraih ponsel. Aku butuh teman berbicara. Cass pasti mau menemaniku. Tiba-tiba aku ragu. Maukah dia? Aku melirik jam dinding. Pukul sebelas malam. Aku mengerang lagi. Cass akan menyalak dan menggonggong pada saat ia sedang kesal. Tapi ganggu jadwal tidurnya dan dia akan menggigit putus tanganmu.
(Oke, tidak separah itu. Tetap saja sepupuku mengerikan saat ia sedang atau baru bangun tidur. Yang bisa menghadapinya di saat seperti itu hanya ayahnya, dan sesungguhnya itu hanyalah pertandingan siapa-lebih-ganas-daripada-siapa.)
Aku merapatkan bibirku menjadi satu garis tipis. Aku tidak punya siapapun lagi untuk diajak berbagi.
Seandainya aku bisa cerita pada Ibu, pikirku. Tapi pemikiran itu kusingkirkan dengan cepat. Ini di luar dunianya. Aku tidak akan membawa "eksperimen" ini ke rumah. Atau, setidaknya, ke dalam dunia ibuku yang telah terlampau rumit dan seperti benang kusut. Sebuah nama lain muncul seperti bohlam yang menyala terang dalam kegelapan benakku. Kemudian bohlam itu padam secepat ia menyala. Mana mungkin kakakku yang konservatif itu mau menerima konsep "menyimpang" seperti ini.
Mengetahui adiknya berkenalan dengan seorang wanita transjender itu satu hal.
Mengetahui adiknya jatuh cinta pada wanita trans itu adalah hal lain.
Aku tertawa pelan, miris. Betapa cepat aku menyingkirkan keabsurdan kondisi Janis dan mendeklarasikan bahwa aku jatuh cinta padanya. Hanya saja, sejak aku menemukan istilah panseksual itu membuat segalanya menjadi lebih mudah. Aku tertarik pada orang, bukan jender atau label. Apa Janis bukan masalah. Siapa dirinyalah yang penting.
Bukankah memang sudah seperti itu seharusnya?
Orang-orang boleh mencintai siapapun yang ingin mereka cintai selama yang mereka cintai dalam konsep siapa adalah manusia dan bukannya hewan atau perabotan.
Apalagi Menara Eiffel.
Atau mungkin seharusnya siapapun boleh mencintai siapapun dan apapun yang mereka cintai selama hal itu tidak merugikan orang lain. Terdengar jauh lebih adil.
KAMU SEDANG MEMBACA
[ID] tanya+ | Novel: Finished
Genel KurguDITULIS DAN DIPUBLIKASI TAHUN 2015. ‼️Cerita ini mungkin memuat unsur misinformasi dan/atau representasi keliru mengenai kelompok minoritas Lesbian/Gay, Biseksual, Transgender Biner dan Non-Biner, Panseksual, dan orientasi seksual/identitas gender l...
![[ID] tanya+ | Novel: Finished](https://img.wattpad.com/cover/44105735-64-k929515.jpg)