2 - A:R:T (4)

174 26 3
                                        

Semuanya gara-gara Johan.

Tanya sedang berjalan kembali dari kantin menuju kelasnya yang berada di lantai dua gedung belakang sekolah ketika Johan memanggilnya dari anak tangga pertama di bawah, di samping kolam ikan. Tanya menghampiri saat Johan menggerakkan tangan sambil berkata, "Sini, dong." Tanya berusaha semampunya untuk menyembunyikan cengiran di wajahnya, semua karena Johan adalah satu-satunya hal yang mengisi pikirannya sejak kemarin—itu, dan perkataan Teh Laras. Awalnya Johan dan Tanya hanya mengobrol biasa; rumah kamu di mana? Dari SD mana? Kamu diajar sama guru yang baru gak? Kamu jago matematika? Hobi kamu apa?

Kemudian percakapan ringan yang tak berdosa itu harus dirusak oleh Alfa yang tiba-tiba datang dan merangkul Johan, bau rokok menguar dari seragamnya yang kucal dan tidak dimasukkan ke dalam celana. "Yoooo si Johan ngobrol sama siapa nih?"

Tanya hanya diam, memandangi Alfa dengan tatapan yang menyiratkan ketidaksetujuan. Johan tampak risih. "Fa, jangan macem-macem..."

"Nggak, kok." Alfa melepaskan rangkulannya dari Johan, bergerak mendekati Tanya yang bergeming. "Cuma penasaran aja, kok kamu mau sama dia sih, Jo? Kalau mau cari cewek, aku ajarin, tuh contohnya ada si Arum dari kelas dia juga, bodinya—"

Alfa tidak sempat menyelesaikan perkataannya, karena telapak tangan Tanya yang tidak memegang kotak makan siang melayang dan menampar pipi anak laki-laki itu dengan keras. Sangat keras, bahkan, sampai-sampai Alfa yang tidak siap menghadapi serangan itu oleng dan tercebur masuk kolam ikan. Beberapa orang terkesiap, beberapa lainnya tertawa, beberapa bertepuk tangan. Tapi semua itu berhenti saat Alfa yang murka mendorong tubuhnya berdiri tegak di kolam yang kedalamannya mencapai tulang kering. Johan kehilangan kata-kata menatap mereka berdua, ekspresinya campuran antara kagum dan kaget. Dalam hati, Tanya ketakutan melihat mata Alfa yang menggelap dan berkilat karena marah, tapi gadis itu tetap berdiri tegak layaknya seorang pejuang, dengan kotak makan siang berisi nasi goreng di satu tangan dan tangan gemetar yang terkepal di sisi lain.

"Apa-apaan ini?"

Semua orang menoleh ke sumber suara. Itu adalah Pak Mahmud, guru agama Islam, tampak kesal dan sedang menuruni tangga. Ketakutan Tanya berubah menjadi rasa panik. Sial, sial, oh tidak, sial. Harusnya mungkin Tanya tidak menampar Alfa sekuat itu. Mungkin Tanya seharusnya tidak menampar Alfa saja sekalian. Tapi tapi tapi...

Mereka duduk di kursi panjang yang ada di ruang BK, Tanya menempel di satu ujung dan Alfa di ujung lainnya. Handuk melapisi bagian kursi yang Alfa duduki, hanya saja tidak ada yang bisa melapisi bau amis yang kini menggantikan bau rokok yang menempel pada Alfa. Setengah hati Tanya merasa bersalah, setengahnya lagi merasa bangga. Cowok itu harus diajari satu atau dua hal, dan Tanya lebih dari bersedia mengajarkannya.

Misalnya, Tanya belum pernah tau kalau ternyata menampar seseorang yang mengesalkan bisa terasa begitu memuaskan.

Bu Mardiyati, guru BK mereka, duduk di seberang meja kopi di satu dari dua kursi kecil yang didesain untuk menampung satu orang. Bu Mardiyati hanya duduk bersandar, menyilangkan kaki dan mengunci jemari kedua tangannya di atas satu lutut. Senyum samar tersungging di bibirnya yang penuh. "Jadi? Ayo, ada yang mau bicara?"

Kedua ABG di depannya hanya menekuk wajah, tidak ada yang mengindikasikan salah satu dari mereka akan segera berbicara.

"Ya udah, kalau kalian gak mau bicara, ibu aja yang bicara."

Masih tak ada tanggapan.

"Dengar-dengar, katanya Tanya yang menyerang Alfa duluan, ya? Katanya Tanya nampar Alfa keraaas banget, sampai Alfa nyemplung ke kolam ikan."

Tanya membuka mulut untuk membantah. "Siapa yang bilang gitu, bu? Orang dia kok yang mulai duluan!"

"Heh, jangan macem-macem ya!" gertak Alfa. "Lu yang nampar gua kok gua yang salah!"

[ID] tanya+ | Novel: FinishedCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang