Saat kami kembali ke rumah Rayhan, tangannya berlumuran oli berkat usaha memperbaiki motornya. Aku memasang senyum lebar di wajahku.
"Yooo, sup."
Rayhan menoleh, matanya pertama-tama menatap Janis, kemudian aku. Rayhan berdiri, menyeka tangannya pada kain bekas. "Naha balik deui?"
Pada Janis di sampingku, aku menerjemahkan, "Dia tanya kenapa kita balik lagi."
"Eh, Teh," Rayhan tersenyum pada Janis, membukakan pagar untuk kami berdua. "Masuk dulu, Teh?"
Janis menggeleng, memaksakan sebuah senyum. "Di sini aja."
"Aku cuma mau ngambil motor terus balik." Aku menatap motor Rayhan agak jauh. "Ban depan butuh angin, Han."
"Oya?" Rayhan berdiri di sampingku, dan bersama-sama kami mengamati motor MX miliknya. "Kayaknya iya."
"Dan kayaknya mending kamu ganti rantai deh, daripada berkali-kali benerin sendiri gitu."
Rayhan menodongku dengan tangan terbuka. "Duitnya mana."
Aku menatapnya. "DuitMU."
Kami berdua tertawa, tapi tawaku kosong dan tidak mencapai mataku yang tetap terbuka, menatap Janis dari balik bahu Rayhan. Gadis itu memeluk dirinya sendiri di balik pagar. Aku berbalik masuk ke garasi Rayhan yang terbuka dan dia mengikuti.
"Tan," panggil Rayhan saat kami berada di dalam. "Kamu kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Itu," Rayhan mengedikkan kepalanya ke luar, memaksudkan Janis. "Terus kamu juga."
Aku berkacak pinggang dengan satu tangan sementara tangan yang lain menopang tubuhku di atas motor. "Untuk ukuran cowok kamu tuh terlalu peka for your own good tau Han."
"Taulah," Rayhan menepuk dadanya bangga. "Kan makanya aku selalu get all dem ladies. Dan kamu juga, untuk ukuran cewek kamu terlalu gak peka for your own good."
Kami tertawa lagi, kali ini sambil bertos ria. "Tapi emang kenapa, sih?"
Aku mendesah. "Kamu gak kenal kata lelah, ya."
"Kenal kok kalau disuruh ke botani."
Kami berdua meringis mengingat guru PLH kami yang senang menjadikan siswa budaknya di wilayah kekuasaan Yang Mulia: Botani. Tapi Rayhan cepat melupakan hal itu dan mengembalikan topik pada titik awal. "Jadi, kenapa?"
"Nanti kuceritain," kataku sambil memakai helm. "Kalau menurutku kamu siap."
"Elah," Rayhan mengerang. "Emang 'paan sih?"
"Sulit Han, menyangkut masa depan umat manusia dan hewan."
"Tumbuhan nggak?"
"Di masa depan Tumbuhan adalah pihak yang memerintah dan kita semua dijadikan budak. Nama presidennya Botani."
"Goblog," Rayhan tertawa. "Sana pergi. Hus, hus."
Aku mulai memundurkan motor kemudian berhenti saat setengah badan motor sudah berada di luar garasi. "Eh, jadi gimana bukber teh? Jadi gak?"
"Ya aku mah hayu." Mata Rayhan awas memastikan motorku tidak menyenggol motornya. "Yang lain gimana?"
"Nah itu. Kamu atuh yang ajakin, takut kalau aku yang ngajak teh pada gak mau atau nganggapnya cuma bercanda."
"Ya udah, ntar kamu aku beking," Rayhan menopangkan tubuhnya ke sisi pintu garasi. "Asal jadi aja."
Aku mengeluarkan motor melewati pagar dengan mulus. "Aku kesepian, Han. Butuh ditemani."
KAMU SEDANG MEMBACA
[ID] tanya+ | Novel: Finished
Ficción GeneralDITULIS DAN DIPUBLIKASI TAHUN 2015. ‼️Cerita ini mungkin memuat unsur misinformasi dan/atau representasi keliru mengenai kelompok minoritas Lesbian/Gay, Biseksual, Transgender Biner dan Non-Biner, Panseksual, dan orientasi seksual/identitas gender l...
![[ID] tanya+ | Novel: Finished](https://img.wattpad.com/cover/44105735-64-k929515.jpg)