Apa aku aneh?
Itu satu pertanyaan yang terus terngiang-ngiang dalam kepalaku siang itu. Pertama-tama, aku seolah tersihir oleh seorang perempuan asing berambut biru. Agak-agak mengingatkanku pada Emma dalam film Blue is the Warmest Colour. Yang kedua adalah aku menikmati waktuku bersama Ibu tapi aku selalu menghindar ketika ia seolah ingin mengakrabkan diri lebih jauh secara emosional. Seolah aku mencintainya tapi secara platonis. Aku menyayangimu, tapi jangan katakan kau sayang padaku. Coba kenali aku lebih dekat, tapi jangan terlalu dekat. Peluk aku sesukamu, tapi jangan sentuh jiwaku. Itu daerah terlarang bagimu dan seluruh dunia.
Apa aku satu-satunya yang seperti ini atau adakah remaja lain yang mengalami hal serupa?
Ibuku mengetuk pintu kamar. "Tanya?"
"Iya, Bu?"
Pintu terbuka dan ibuku melongokkan kepala, siap dengan baju kerjanya yang biasa: jaket denim di atas kaus suvenir dari Lombok dan jins hitam. Senyum tersungging di bibirnya. "Aku pergi dulu, ya."
"Ke mana?"
"Kantor. Weni salah input data jadi aku harus mengecek ulang."
"Oh, oke."
Senyum lagi. "Hati-hati di rumah, ya. Kuusahakan malam sudah pulang."
Secara impulsif aku beranjak dari tempat tidur dan memeluknya. "Tiati."
Ibuku balas memeluk dan menepuk-nepuk kepalaku sebelum pergi. Setelahnya, aku sendirian di rumah. Rumah kami tidak besar; bersamaan dengan kakakku pindah bersama suaminya saat itu juga Ibu memutuskan rumah yang lama terlalu besar bagi kami berdua. Jadi sekarang kami tinggal di rumah satu lantai dengan dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Rumah ini bahkan tidak memiliki ruang tamu, karena ruang depan adalah semacam kombinasi dari ruang tamu dan ruang keluarga. Di ruangan itu ada pintu yang mengarah ke kamar ibuku. Kamarku bersisian dengan kamar mandi dan menghadap dapur yang sekaligus juga menjadi ruang makan. Rumah ini kecil, tapi kamar-kamarnya lega dan ibuku memberiku privasi, jadi aku tidak keberatan.
Dan sekarang, karena aku sendirian di rumah sepanjang sore ini, aku melepaskan baju dan mematut diriku di depan cermin di ruang tamu/keluarga. Tubuhku menjanjikan potensi lekuk yang menarik seandainya aku tidak begitu kurus, tapi aku tidak pernah berhasil menaikkan berat badan lebih dari satu atau dua kilogram, itu pun dengan susah payah. Payudaraku bahkan sebegitu kecilnya sampai terkadang aku tidak perlu mengenakan bra dan tidak ada yang tahu. Tapi aku tetap mengenakan bra, karena menurut perkataan ibuku (yang juga didukung oleh artikel di Internet) terlalu sering tidak mengenakan bra dapat memicu pengenduran, dan tidak ada yang lebih tidak menarik dibandingkan payudara yang kecil dan kendur. Atau setidaknya begitulah yang kupikir.
Aku memindahkan laptop beserta sebungkus roti coklat dan sebotol susu kedelai ke ruang tengah tepat ketika ponselku berdering di kasur. "Yellow."
"Tan," kata ibuku di ujung lain sambungan. "Kapan kamu daftar ulang?"
"Juli?" tanyaku.
"Tanggal?"
"Nggak tahu, lupa." Aku mengingat-ingat. "Sekitar tanggal enam atau sembilan?" 69. Hmm.
"Coba tanya lagi sama temanmu yang lain. Biar aku siapkan uangnya."
"Okee."
"Tan."
"Ya?"
"Pakai baju."
Telepon diputus dan aku terperangah. Membuka Google, aku mengetik, kemampuan supranatural seorang ibu. Hasil yang keluar kebanyakan justru membicarakan anak-anak indigo. Kemudian aku teringat sesuatu yang mengetikkan URL blog di URL bar dan tak lama kemudian sebuah blog Tumblr terbuka. Profilnya mengatakan, J.J. Ian | "I believe if we have something that we love to do, that can save our lives. That can get us through." –Laverne Cox. Kebanyakan isi blognya adalah foto dan/atau kutipan-kutipan berwarna-warni dan juga foto Janis sendiri. Tapi ada satu foto yang menampilkan lengan penuh memar disertai keterangan:
KAMU SEDANG MEMBACA
[ID] tanya+ | Novel: Finished
General FictionDITULIS DAN DIPUBLIKASI TAHUN 2015. ‼️Cerita ini mungkin memuat unsur misinformasi dan/atau representasi keliru mengenai kelompok minoritas Lesbian/Gay, Biseksual, Transgender Biner dan Non-Biner, Panseksual, dan orientasi seksual/identitas gender l...
![[ID] tanya+ | Novel: Finished](https://img.wattpad.com/cover/44105735-64-k929515.jpg)