BEWARE long chap! Apa kalian pernah terpikir berandal-berandal ini sanggup melakukan whatevs that thing they do di chapter ini?
----------
Ciwalk, menjelang pukul delapan malam
"Hayu pulang," ujar Sarah. "Udah malem."
"Malem apaan!" Kakak nyaris melemparkan tubuhnya ke depan, mencondongkan badan supaya bisa melihat Sarah. "Masih pagi ini mah."
"Pagimu." Sarah mencibir. "Aku gimana pulangnya ih."
"Kan sama aku kamu mah."
"Oh iya."
"Yee."
"Ini pada bawa kendaraan, kan?" tanya Salsa. "Aku mah sama Al."
"Urang sama Gehu bawa motor, da," timpal Jeki.
"Aku juga," tambah Rayhan.
"Kujuga," tambahku.
"Gua naik mobil sama Ojoh."
"Hum gitu Fa."
Alfa melirik Sarah. "Apasi lu."
"Foto dulu yuk," ajak Al. "Kenang-kenangan, sekalian sama... Johan."
Johan tersenyum tipis. "Ah, gak usah repot-repot..."
Aku dan Alfa bertatapan, kemudian bertukar seringai. Tahu pasti keberatan Johan hanya basa-basi belaka, berharap anak-anak akan membujuknya supaya ikut, berkata mereka ingin foto dengannya, yada yada yada.
Sayang bagi Johan, bukan hanya anak-anak kelasku adalah tipe yang tidak suka memaksa, mereka-atau lebih tepatnya Al-juga sekadar beramah-tamah basa-basi, jadi Al hanya mengedikkan bahunya dan berkata, "Yaudah kalau kamu gak mau."
Perubahan ekspresi wajah Johan memuaskan untuk dilihat.
Aku mendongakkan kepala pada Rayhan. "Kalian udah mau pulang?"
"Aku sih ikut yang lain."
Kemudian aku beralih pada Alfa. "Kamu?"
Alfa mengisap rokoknya untuk terakhir kali, nyaris membakar busa filter. "Lu gila?"
Baru aku tersadar dengan siapa aku berbicara. "Iya juga ya, ngapain nanya kamu."
Tiba-tiba aku mendapat ide bagus. "Main yuk, ke rumah aku. Kalau aku yang ke rumah kalian ibuku pasti gak bakal kasih izin."
Johan melirik kami bertiga.
Alfa mematikan rokoknya di lantai batu, menghembuskan asap menjauh dari kami. "Boleh gak sama ibumu?"
"Hem." Alfa melirikku, kemudian menyeringai.
"Iya ya, ngapain juga gua nanya."
"Ibu aku udah kenal kalian dari kapan, edan," aku menyandarkan kepalaku di lutut Rayhan. "Udah tau banget ibu aku mah. Gak apa-apa, lah."
Jemari Rayhan memainkan rambutku tanpa sadar. "Iya ya, kok ibu kamu gak pernah khawatir gitu, kita suka main ke rumah kamu?"
"Soalnya kalian gak masuk, dan kalaupun masuk pintu ruang depan dibuka dan lampunya dinyalain, jadi gak bakal ada yang curiga. Lagian, ibu aku tau kok aku bisa jaga diri."
Alfa mengelus pipi kanannya. "Hee hee, kalian juga tau, kan? Nah iya makanya itu."
Setengah menggumam pada diri sendiri Rayhan berkata, "Kadang sakitnya masih terasa..."
KAMU SEDANG MEMBACA
[ID] tanya+ | Novel: Finished
General FictionDITULIS DAN DIPUBLIKASI TAHUN 2015. ‼️Cerita ini mungkin memuat unsur misinformasi dan/atau representasi keliru mengenai kelompok minoritas Lesbian/Gay, Biseksual, Transgender Biner dan Non-Biner, Panseksual, dan orientasi seksual/identitas gender l...
![[ID] tanya+ | Novel: Finished](https://img.wattpad.com/cover/44105735-64-k929515.jpg)