2 - A:R:T (3)

230 23 14
                                        

"Ambil, Tan!"

"Ayo, buruan!"

Seseorang terkesiap. "Itu Johan!"

Kesiap itu langsung menyebar seperti wabah. Mendadak tidak ada siswi yang berbicara, hanya menatap punggung Tanya yang berdiri menghadap Johan dan Alfa.

Selangkah demi selangkah, Tanya mulai maju, sengaja memutar dari bagian pinggir lapangan supaya tidak terkena bola sekaligus memperlama perjalanannya menuju sisi lain lapangan. Mata Johan mengikuti gerak-geriknya sementara Alfa berbisik di samping telinga anak laki-laki itu.

Sesampainya di depan Johan, Tanya memandangi sepatunya. "Anu... bola..."

"Ini bola kamu?" tanya Johan ramah. Suaranya yang sudah tiga per empat jalan melewati pubertas seolah bergetar memasuki jiwa Tanya dan tinggal di sana.

Tanya menggeleng. Kemudian mengangguk. "Bukan—eh, iya, sih—maksudnya—itu bola yang aku pake buat olahraga sama anak-anak yang lain."

"Bukan bola yang lain?" Alfa ikut menimbrung, matanya mengamati tubuh Tanya yang kurus. "Kayaknya lumayan kalau bola ini kamu jadiin punyamu."

Tanya yang tak mengerti menatap Alfa heran, kemudian saat pemahaman mulai mengendap wajahnya kembali memerah, kali ini karena marah dan terhina, tapi gadis itu tak berkata apa-apa. "Udah, biarin aja dia mah gak usah ditanggapi," Johan menengahi dengan mulus. Amarah Tanya lenyap nyaris seketika. "Nih, bolanya. Yang semangat ya, mainnya."

Warna merah lagi-lagi merayapi wajah Tanya, kali ini karena Johan. "M - makasih."

Kemudian gadis itu berlari pergi meninggalkan dua orang anak laki-laki ABG itu di pinggir lapangan. Alfa memutar bola matanya. "Ih, jijik. Pasti dia naksir kamu. Suka kesel tau gak liat cewek-cewek kayak gitu."

"Udahlah," Johan menepuk dada Alfa yang masih sempit. "Biarin aja. Anaknya lumayan manis, kok."

Alfa mengerutkan hidung seolah baru mencium sesuatu yang memualkan. "Uh. Kalau aku jadi kamu gak bakal aku ladenin deh. Liat gak dadanya? Rata gitu kayak anak SD."

Johan menatap Alfa memperingatkan. "Suara kamu sendiri masih kayak banci."

"Aku bukan banci," sahut Alfa terhina. "Aku ini laki-laki. Liat aja, bulan depan suaraku pasti udah berat, mungkin lebih berat daripada kamu."

"Terserah kamu aja deh Fa."

***

Tanya memeluk bola di depan dadanya dengan senang, berlari menuju teman-temannya yang kini telah berkumpul di bawah rindangnya pohon, sama sekali melupakan permainan dan tak lagi berkumpul secara beregu. Melihat Tanya, mereka semua menegakkan badan tak sabar. Begitu Tanya sampai ke jangkauan mereka, pertanyaan langsung mengalir.

"Johan ngajak kamu ngobrol?"

"Dia bilang apa?"

"Tadi Alfa bilang apa sama kamu?"

"Iih, jangan bawa-bawa Alfa, Johan aja!"

"Tan, Johan bilang apa?"

Semua pertanyaan itu masuk telinga kiri keluar telinga kanan bagi Tanya, mungkin bahkan tidak masuk sama sekali ketika gadis itu tidak bisa mengontrol ekspresi wajahnya yang tampak jelas senang, mendekap bola voli seolah bola itu adalah Johan sendiri.

***

Solaria, acara buka bersama kelas XII Bahasa (ditambah satu tamu asing)

Dengan dua kursi tambahan yang diculik dari meja lain, Alfa dan Johan duduk di samping Salsa, dengan Alfa yang duduk persis di depanku dan menyilangkan lengan di dada dengan tubuh merosot di atas kursi, wajahnya tampak bosan dan tidak tertarik. Tapi aku tahu diam-diam dia mengamati Johan dan aku, siap menjadi penengah jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Johan sendiri sedang sibuk mengobrol dengan Sarah dan Atalarik. Jeki dan Ade membicarakan rencana mereka untuk backpacking sehabis lebaran nanti. Di sampingku, Rayhan meniru pose Alfa dan terang-terangan menatap Johan.

[ID] tanya+ | Novel: FinishedCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang