2 - A:R:T (13)

163 22 1
                                        

"Mau lewat Plesiran apa Pasupati?" tanya Rayhan di sampingku.

"Plesiran!" jawabku. "Jalan ke Paspati pasti macet."

Rayhan hanya mengangguk dan memacu motornya di depanku, memimpin kami meninggalkan parkiran di lantai dasar Ciwalk, melewati loket tiket parkir mobil dan keluar ke jalan raya. Persis seperti dugaanku, mobil dan motor berjejalan di jalan Cihampelas yang luasnya tak seberapa; suara klakson bersahut-sahutan. Rayhan menghilang di depanku saat menyalip sebuah mobil dan jejaknya langsung tertutupi kendaraan lain yang hendak maju. Sambil berusaha menghindari pejalan kaki dan pedagang di bahu jalan dan mobil di sisi lain, aku menjalankan motorku perlahan dan berbelok memasuki jalan tikus yang tak jauh dari Ciwalk. Meluncur tenang, aku menyusul Rayhan. Kami berkendara bersisian; Rayhan meledek Alfa tentang tidak mengenakan helm dan Alfa balas meledek Rayhan karena rantai motor tuanya yang berisik. Mereka saling bertukar hinaan sementara aku sibuk dengan pikiranku sendiri.

Aku setengah berharap salah seorang dari mereka--entahlah, mungkin Alfa karena dia yang menyaksikan, atau Rayhan karena dia yang biasanya paling peka--bertanya padaku apa yang salah, namun mereka terus saling mengejek (yang sebenarnya cukup menghibur, tapi tidak bahkan video anak anjing dan anak kucing bisa membuatku tertawa saat ini--mungkin). Di satu sisi, aku bersyukur dan di sisi lainnya, aku merasa diabaikan.

Aku setengah memimpin jalan menyusuri jalan Plesiran, masuk ke wilayah Tamansari, dan terjebak macet di dekat Sabuga.

"Tan!" Rayhan menyusulku. "Kamu udah bilang belum sama si Tante?"

"Jesus!" saking kagetnya aku mengerem motor mendadak, membuat kami tersentak. "Belum! Jam berapa sekarang?"

"Tumben bukan pukul, Tan."

Aku mendelik pada Rayhan. "Jam sembilan, Tan," jawab Alfa di belakangku.

Aku mengumpat. "Kira-kira boleh gak ya?"

Motor dan mobil di depan kami mulai bergerak maju dan kami mengikuti. "Nah itu," kata Rayhan. "Takutnya gak boleh, mendadak banget lagian."

"Jadi gimana, dong?" aku mulai panik.

"Kalem. Aku baru mau ngusulin tempat lain. Dekat rumah kamu, kok. Tau lapangan parkir yang di belakang rumah kamu, kan?"

Otakku yang fokusnya terpecah mulai mengikuti arah pembicaraan Rayhan. "Yang sekarang jadi ada gazebonya?"

"Iya."

"Waah, bener!" aku menegakkan tubuh. "Iya, iya, ke situ aja. Ntar Alfa pulangnya dianter Rayhan. Gimana?"

"Ah gua sih tinggal telepon taksi, beres deh."

"Sombong lu, 'njing."

Alfa menunjuk Rayhan. "He coeg, ntar lu gak gua kasih rokok lagi."

"Belagu, anjing."

"Untung anjing ya, yang belagu."

"Apaan sih Tan."

Sebuah celah terbuka di hadapanku. "Apa sih kamu, Han. Coba liat, menang mana, Yamaha apa Honda?"

Kemudian aku menarik gas dan meninggalkan Rayhan memakan kepulan debu motorku serta tawa kemenangan yang--kemungkinan besar--ditambah oleh acungan jari tengah Alfa. Cowok itu berputar kembali menghadap punggungku dan menepuk-nepuk bahuku bangga. "Bagus, Tan, gua bangga sama lu."

"Aku juga bangga sama aku."

Baru ketika kami berbelok di Simpang Dago motor Rayhan kembali menyusul. "Pea! Ninggalin, ya!"

Aku menjulurkan lidah. "Salah sendiri lambat!"

Jalan raya di hadapan kami lebar dan lenggang. "Gak mau tau! Tanding ulang!"

[ID] tanya+ | Novel: FinishedCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang