Aku menatap pria berusia 30, 40 tahunan di hadapanku. Rambutnya cepak, kemejanya polos dan tidak dimasukkan ke dalam celana di atas denim pucat. Tidak satupun hal darinya membangkitkan memoriku kecuali satu hal.
Matanya.
Matanya mirip sekali dengan mataku, bahkan nyaris identik. Tapi aku tidak tahu siapa dia. Saat aku hanya menatapnya, jelas sekali kebingungan, pria itu menaikkan alis, senyumnya sedikit berkurang. "Nggak ingat, ya?"
"Siapa—"
"Om Didi!" ujarnya. "Adik ayahmu!"
Oh. "Ooh, Om Didi!" sahutku saat perlahan ingatanku kembali. "Eh, halo Om."
"Waah, keponakan Om udah besar, ya." Pamanku duduk di sebelahku tanpa menunggu. "Kelas berapa sekarang?"
"Begitu masuk kelas dua belas, Om."
"Dua belas?" Om Didi mengerutkan kening, berpikir. "Kelas berapa itu?"
"Tiga SMA, Om."
"Ooh! Iya, iya, Om baru ingat sekarang. Agak bingung, soalnya kalau dulu kan satu-dua-tiga, ya kan?" Om Didi terkekeh. "Gimana kabar? Sehat?"
"Syukurlah sehat, Om."
"Ibumu?"
"Sehat juga."
"Ooh. Sudah... menikah lagi?"
Aku mengernyit. "Belum, dan kayaknya nggak bakal deh Om."
"Lho, kenapa?"
Mataku memicing pada pamanku yang jelas-jelas tampak gelisah. "Nggak tau juga, sih. Tapi dari gelagatnya kayaknya Ibu hepi-hepi aja menjomblo."
"Begitu, ya?"
Om Didi menarik-narik kerah kemejanya, jakunnya naik-turun dengan gugup. "Om di sini ngapain?"
"Oh, ada pertemuan dengan rekan kerja, biasalah." Om Didi mengedikkan bahu seolah itu bukan masalah besar.
Aku mengangguk-angguk, berpura-pura mengerti apa yang dia bicarakan. "Bisnis, Om?"
"Iya. Kamu sendiri di sini ngapain?"
"Eh... makan, Om."
"Sendirian? Sama teman?"
"Sama... teman, Om."
"Kok jawabnya kayak ragu-ragu gitu? Jadi anak muda harus tegas, dong!"
Aku berdeham. "Sama teman, Om."
"Nah, begitu!" Om Didi menampar punggungku keras sambil tertawa. Aku terkesiap saat udara seolah terempas keluar dari paru-paruku. "Aduh, maaf! Maaf! Om terlalu keras, ya?"
Aku menarik napas tajam. "Gak apa-apa kok, Om."
"Benar?" Om Didi meletakkan tangannya yang besar di antara tulang belikatku, wajahnya tampak khawatir. "Keponakan Om yang lain laki-laki sih, jadi kebiasaan."
"Gak apa-apa kok Om. Aku juga sering nggak dianggap cewek sama teman-temanku," aku memaksakan senyum.
Om Didi tertawa membahana dan aku meringis. Kalau saudara-saudara ayahku memang seribut ini, tidak heran ibuku jarang membicarakan mereka. Aku teringat foto ayahku yang tampak kalem dan tenang. Entah bagaimana aku punya firasat dibandingkan saudara-saudaranya, ayahku adalah si outcast. "Bagus, bagus, jadi anak perempuan harus bisa kuat, mandiri. Jangan termakan nasihat gaya lama anak perempuan harus jadi makhluk lemah yang butuh dilindungi laki-laki. Bisa kacau dunia kalau seperti itu."
Dan tanpa diduga pamanku adalah seorang feminis. "Iya, Om. He he he."
"Mau lanjut ke mana nanti?" Om Didi bersandar ke meja, menopang tubuh dengan sikunya. "Mau kuliah ke mana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[ID] tanya+ | Novel: Finished
Ficción GeneralDITULIS DAN DIPUBLIKASI TAHUN 2015. ‼️Cerita ini mungkin memuat unsur misinformasi dan/atau representasi keliru mengenai kelompok minoritas Lesbian/Gay, Biseksual, Transgender Biner dan Non-Biner, Panseksual, dan orientasi seksual/identitas gender l...
![[ID] tanya+ | Novel: Finished](https://img.wattpad.com/cover/44105735-64-k929515.jpg)