Solaria
"Lapeeeeeeeeeeeeeerrrr."
Sarah menjatuhkan dagunya di meja, matanya menatap seporsi bihun yang menggoda di depannya. Satu per satu pesanan kami datang menjelang azan magrib, dan Sarah termasuk yang pertama. Meja di depanku, Atalarik, Jeki, Rayhan, Salsa dan Al masih kosong. Johan memesan kentang dan chicken cordon bleu yang secara menakjubkan adalah makanan pertama yang diantarkan, bahkan sebelum Sarah. Ade memesan mie goreng baso dan Alfa memilih nasi sapi lada hitam. Pramusaji yang sama datang kembali dengan dua nampan berisi empat piring, dua di masing-masing nampan. Dia menaruh nampan tersebut di atas meja dan mengeluarkan piring-piringnya. "Satu nasi ayam goreng mentega, satu nasi cumi goreng rica-rica, satu nasi goreng Itali, dan satu nasi ayam asam manis." Semua itu untuk Atalarik, Rayhan, Al, dan Jeki. "Chicken mozzarella dan nasi goreng seafood-nya ditunggu sebentar lagi, ya."
"Kok lama sih mas." Aku protes. "Lima menit lagi azan nih, walau saya gak puasa tapi kan lapar."
"Maaf mbak, udangnya lagi dipancing dulu." Pramusaji itu mengedipkan sebelah mata. "Tapi sebelum azan udah diantar kok."
Pramusaji itu berputar di atas tumitnya dan kembali ke wilayah dapur, meninggalkan aku terpana dan beberapa orang temanku tertawa tertahan. "Anjir Tan, maneh digodain sama waiter," sembur Ade.
Begitu aku pulih dari keterkejutanku, aku menoleh pada Ade yang duduk di sisi lain meja dan mengedipkan mata. "Dia mau mancing aku soalnya."
Tawa meledak di meja kami; semua tertawa kecuali Johan. Dia hanya berkonsentrasi menatap ayam yang ada di depannya. Rayhan menggerakkan tangannya seolah memancing Alfa, dan Alfa menggerakkan tangannya terangkat ke atas seolah tersangkut kail pancing. Rayhan memutar tangan kanannya dan tangan Alfa melayang menyeberangi meja beserta tubuhnya, nyaris menumpahkan gelas minuman.
Pramusaji penggoda itu kembali. "Ini chicken mozarella dan nasi goreng seafood yang ditunggu," ujarnya sambil meletakkan piring berisi nasi goreng persis di hadapanku. "Kalau ada yang kurang, panggil saya aja ya."
Melihat keringanan pramusaji itu dalam menggoda kami, Rayhan memberanikan diri bertanya, "Kok mau dipanggil-panggil aja sih mas?"
Mengulum senyum, pramusaji itu menjawab. "Saya kan cowok panggilan, mas."
"OOOHH!"
"Udah ah kalian bikin saya gak kerja. Silakan dinikmati." Pramusaji itu berbalik pergi.
Begitu dia berada di luar jangkauan pendengaran, Al langsung berkomentar. "Si masnya rada kemayu gitu, ya."
"Banci, kali." Jawab Jeki. Aku menatap Alfa.
Bocah itu (jangan bilang pada Alfa aku masih menyebutnya bocah—dia bakal menebas leherku) memainkan cappuccino float-nya. Mata kami bertemu dan dia mengangkat sebelah alis. Apa? Aku mengangkat sebelah alisku dan tersenyum miring, mataku turun sejenak ke arah piringku. Alfa mengikuti arah pandanganku dan tersedak tawa. "Anjir Tan."
"Apa?" aku bertanya tanpa rasa bersalah sementara kami menjadi fokus anak-anak lain. "Aku gak ngapa-ngapain."
"Nasi goreng banget?"
"Hmm beda ya yang punya sejarah sendiri mah," Rayhan berlagu, dengan cepat menangkap mengapa kami tertawa. "Beda yaa."
Aku mencondongkan tubuhku bersandar pada Rayhan yang menopang dagunya di siku yang diletakkan di atas meja. "Aww jangan marah babe."
Al ikut menyenderkan tubuhnya pada Rayhan. "Kalau kamu bosen sama Tanya aku siap menyambut kok."
"Homo anjir."
KAMU SEDANG MEMBACA
[ID] tanya+ | Novel: Finished
Fiksi UmumDITULIS DAN DIPUBLIKASI TAHUN 2015. ‼️Cerita ini mungkin memuat unsur misinformasi dan/atau representasi keliru mengenai kelompok minoritas Lesbian/Gay, Biseksual, Transgender Biner dan Non-Biner, Panseksual, dan orientasi seksual/identitas gender l...
![[ID] tanya+ | Novel: Finished](https://img.wattpad.com/cover/44105735-64-k929515.jpg)