1 - Janis part 12

294 34 11
                                        

"Aku benci, benci, benci berlaku tidak adil," ujar Janis dari balik gigi yang terkatup erat. "Jadi kamu punya kesempatan untuk menjelaskan apa-apaan yang tadi itu."

"Janis, Janis, maaf. Rayhan nggak serius, kok. Dia cuma bercanda. Kami cuma temenan. Janis, please, berhenti dulu."

Janis berhenti mendadak di dekat gerbang Makam Pahlawan. Sama sekali tidak menyangkanya, aku menabrak punggung Janis, tengkoraknya nyaris beradu dengan hidungku. Bahu gadis itu sedikit terangkat dan bergetar, tangannya mengepal geram. Dengan tiba-tiba dia berbalik menghadapku dan mendesis, "Apa kamu sadar seberapa kesal aku sekarang?"

Kepalaku membuat gerakan aneh campuran dari mengangguk dan menggeleng sekaligus. "Tapi aku—"

"Tapi apa?"

Janis tidak berteriak; dia tidak menaikkan nada bicaranya sedikitpun. Tetapi siapapun yang cukup dekat untuk mendengar akan tahu bahwa suara Janis, meski terdengar tenang, sesungguhnya setajam pisau. Dan aku membenci pisau karena aku takut pada kemungkinan tertusuk, tersayat, atau terpotong, jadi aku hanya diam, berharap Janis yang akan lanjut berbicara.

Sayangnya, Janis punya hal lain dalam pikirannya.

"Aku menunggu, Tanya sayang."

Aku meringis, merasa benci, benci, benci sekali nada yang dia gunakan untuk mengucap panggilan sayang itu. Janis menatapku dengan tatapan disabar-sabarkan, melipat lengannya di dada. Aku menelan ludah dan berdeham. "Aku minta maaf," kataku perlahan. "Karena udah bikin kamu salah sangka. Kenyataannya, nggak ada apa-apa di antara aku sama Rayhan. Kami teman, udah gitu aja. Nggak kurang, nggak lebih. Dan kalau kamu memang harus tau, aku adalah penganut monogami. Aku tau usia hubungan kita baru seumur jagung, tapi aku nggak akan pernah, nggak akan pernah main-main  di belakang kamu."

Janis menyipitkan mata menatapku, dan memberanikan diri aku membalas tatapannya. Walau Janis hanya lebih tinggi beberapa senti dibandingkan diriku, di bawah tatapan menyelidiknya aku merasa sekecil seorang anak berusia lima tahun. Keringat mulai mengaliri punggungku, tapi butuh beberapa saat lagi sebelum akhirnya tatapan Janis melunak dan dia melepaskan lengannya yang saling terkunci menyilang. "Oh, Tanya..."

Aku ingin bernapas lega; sungguh ingin, tapi pengalaman mengajariku untuk tidak terlalu yakin dengan cepat pada Janis. "Kenapa?"

"Itu pidato yang benar-benar bagus, tapi kamu tahu kan, bahwa itu juga a complete bullshit?"

Tuh, kan.

"Sekali ini, Janis, aku sama sekali nggak mengerti apa yang kamu omongin."

Janis menepuk-nepuk pipiku dengan sayang, namun kata-katanya menyatakan sebaliknya. "Kamu bakal mengerti, suatu saat nanti."

Kemudian, seolah tidak pernah terjadi apa-apa, Janis menarik lenganku. "Ayo, kita jalan-jalan."

Dan untuk pertama kalinya aku bertanya-tanya apakah aku membuat keputusan yang tepat sore itu.

***

Sejujurnya, setelah dipikir sekarang, aku tidak mengerti kenapa kami bisa menjadi pasangan. Sure, ada prosedur nembak kamu-mau-jadi-pacarku-gak yang diikuti prosedur nerima aku-mau-jadi-pacarmu tapi sejujurnya, kami adalah pasangan yang asing terhadap satu sama lain.

Aku tidak akan pernah mengerti disforia yang Janis alami.

Janis tidak akan pernah mengerti bahwa aku memiliki beberapa teman laki-laki dan tidak satu pun dari mereka menarik perhatianku dalam pengertian romantis.

Aku tidak akan pernah mengerti perubahan mood Janis yang sedemikian cepat.

Janis tidak akan pernah mengerti kecenderunganku untuk menunjukkan kasih sayang tanpa ragu melalui sentuhan fisik seperti memeluk atau sekadar berpegangan tangan.

[ID] tanya+ | Novel: FinishedCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang