1 - Janis part 1

1.8K 55 15
                                        

Namaku Tanya. Usiaku 17 tahun; 18 tahun November nanti. Aku tidak pernah menganggap diriku homo—karena memang tidak. You see, aku bukanlah tipe orang yang suka memikirkan hal-hal rumit seperti itu. Dan karena aku dibesarkan di lingkungan yang menjunjung tinggi moral agama—begitu tinggi sampai aku tidak lagi terlalu peduli—aku tidak pernah mau memikirkan diriku sebagai apapun kecuali straight. Normal. Aku suka cowok. Aku pernah pacaran dengan cowok. Tidak berhasil, tapi banyak orang-orang yang pacaran lalu putus, bukan berarti mereka homo, kan? Aku normal. Atau setidaknya, begitulah pikirku dulu, sebelum bertemu gadis ini, Janis Janet Ian.

(Itu bukan nama aslinya, omong-omong—setidaknya, itu bukan nama yang orangtuanya berikan.)

Janis, Janis, Janis. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya sejak aku bertemu dengannya. Ada apa dengannya? Aku bahkan tidak tahu. Oh, tunggu, aku tahu. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya karena aku jatuh cinta padanya. (Yang, omong-omong, agak konyol untuk diucapkan keras-keras karena waktu itu aku baru sempat mengobrol beberapa lama dengannya. Tapi aku bisa bilang apa; aku ini remaja romantis yang percaya pada cinta pada pandangan pertama.)

Bahkan sekarang, aku tidak bisa tidak tersenyum mengingatnya: kali pertama kami bertemu. Waktu itu pertengahan bulan Juni 2015, libur semester SMA. Tadinya aku mau menonton film Minions bersama ibuku, tapi ada keadaan gawat darurat yang tidak bisa ditinggal di kantornya, jadi aku pergi menonton sendirian di Ciwalk. Aku agak kecewa karena ibuku wanita yang sibuk dan kami jarang menghabiskan waktu bersama sejak aku SMP dan kakakku kuliah, tapi setelah dipikir sekarang, mungkin seandainya waktu itu ibuku ikut bersamaku, kami tidak akan pernah bertemu.

Tiket untuk film Minions hampir habis dan kursi-kursi yang tersisa tersebar di tiap baris, kebanyakan hanya satu kursi kosong. Aku tidak merasa malu membeli satu tiket meski kebanyakan orang-orang yang bergerombol di depan Studio 1 mengobrol dengan satu sama lain. Kemudian aku memesan coklat dingin dengan ekstra whipped cream dan pop corn karamel. Barulah aku masuk ke dalam studio yang sudah mulai penuh.

Aku memilih kursi di barisan tengah agak ke bawah dengan posisi persis di tengah-tengah. Sebenarnya masih ada beberapa kursi kosong yang posisinya di pinggir, tapi kurasa aku memesan kursi ini karena kebiasaan. Mata ibuku sudah mulai bermasalah, jadi tiap kali kami menonton bersama aku selalu memilih kursi yang posisinya di tengah. Bagian depan, belakang, kanan dan kiriku mulai padat kecuali kursi yang letaknya persis di sebelah kananku. Kebiasaan lagi: memilih dua kursi kosong berurutan padahal hanya membeli satu tiket. Lalu saat lampu mulai dipadamkan, seorang gadis di barisan kursiku berjalan melewati tungkai-tungkai yang menghalangi sambil menggumamkan permisi sebelum menghempaskan diri di sampingku. Ia menaruh gelas minumnya di tempat yang disediakan di lengan kursi, tapi di situ sudah kutaruh minumanku. Jadi ketika dasar gelasnya membentur tutup plastik gelasku, ia bergumam, "Oh!"

Yang dilanjutkan dengan, "Sori." Sambil menaruh gelas plastiknya di lengan kursi yang lain.

"Gak pa-pa," aku balas menggumam.

Gadis itu menoleh padaku dan kami bertukar senyum. Lalu para Minion menyanyikan lagu tema Universal Studio dan kami fokus pada layar. 

***

Biar kuberitahu kau sesuatu: kami bersentuhan di dalam bioskop. Yah, memang tidak bersentuhan secara vulgar dan kontroversial, tapi tetap saja bersentuhan. Beberapa kali saat adegan yang membuat seisi studio terpingkal-pingkal gadis itu akan mencondongkan tubuhnya ke arahku seolah kami tertawa bersama, dan sekali bahkan ia memegang lengan atasku dengan akrab seperti dua orang yang telah berteman selama bertahun-tahun. Dan karena beberapa momen akrab itulah ketika credit roll ditayangkan dan beberapa orang mulai beranjak kami tetap duduk di tempat kami dan kembali bertukar senyum.

[ID] tanya+ | Novel: FinishedCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang