2 - A:R:T (9)

139 24 2
                                        

Ciwalk, Bandung

Aku bangkit berdiri dan tangan yang besar dan lebar menggenggam tanganku, meremasnya pelan. Aku berjalan mengikuti Johan dan Alfa melepaskan pegangan tangannya padaku. Kami berjalan menjauhi kelompok cukup jauh, sampai mencapai sudut di mana kami bisa mendapatkan privasi namun pada saat yang sama anak-anak masih bisa mengawasi kami. Terutama Rayhan dan Alfa.

Terutama Alfa.

Aku menatap Johan, bersiap mendengar apapun yang ingin dia sampaikan.

Johan membuka mulut.

***

Gazebo depan kelas VIII-A

Tanya memekik tertahan, tubuhnya secara refleks melompat mundur dan matanya terbelalak lebar. Di seberangnya, Alfa memandangi reaksinya dengan tatapan terhibur. Kemudian, cowok itu tertawa terbahak-bahak.

"Anjir, seandainya lu bisa liat ekspresi lu! Gua udah nunggu lama banget buat ngomong gitu, gila! Reaksi lu persis kayak yang gua harapkan! Bagus, bagus. Hahahahaha...!"

Perlahan, detak jantung Tanya kembali normal, dan rasa terkejutnya berubah menjadi kesal. "Kamu apa-apaan, sih? Dikira lucu, ya? Ngaku-ngaku ho—"

Tatapan tajam Alfa cukup untuk membungkam Tanya.

"Gua nggak mengakui apapun, kok." Alfa melipat satu kakinya naik, menumpukan lengan di atas lutut dan lengan satunya menyangga tubuhnya di atas lantai gazebo. "Gua cuma ngomong, gua suka... Nah apa artinya, itu terserah lu buat ngeartiin."

Tanya memelototi Alfa. Cowok itu cuma mengedikkan bahu tak peduli, bibirnya membentuk senyum pongah seolah dia lebih tinggi dan tak tersentuh oleh orang lain. Dan mengingat status dan reputasinya, hal itu bisa jadi memang benar.

"Jadi kamu suka...?"

Alfa mengedikkan bahu lagi. "Gua pernah naksir Ojoh, waktu masih kecil banget. Gua kira itu cuma suka sebatas suka main bareng dia aja. Pas gua naksir cewek lain, baru gua sadar kalau yang pernah gua rasain buat Ojoh lebih dari sebatas ngerasa punya temen."

Mulut Tanya terbuka, kemudian menutup, dan terbuka lagi, dan menutup lagi. "Aku gak ngerti."

Alfa menggigit lolipopnya lepas dari tangkai, memainkan batangan plastik mungil itu di tangannya. "Lu gak harus ngerti juga, kok. Gua cuma ngomong gitu biar lu tau kalau lu gak sendiri, juga biar lu tau betapa krusial fakta bahwa lu megang rahasia orang, dan bahwa apapun yang terjadi lu nggak seharusnya nyebarin rahasia itu. Kecuali lu mau jadi manusia yang setipe sama Ojoh, dan itu sama sekali nggak gua rekomendasiin."

Alfa bangkit berdiri, menyandang tasnya di satu bahu. "Gua mau pulang dulu, ya. Gua harap lu gak bakal lama-lama galaunya. Gua udah bosen ngeliat si Ojoh mehapein cewek dari zaman SD, mana kali ini lu pula yang jadi korban." Alfa berbalik pergi. "Caw."

Saat Alfa hendak masuk lorong sempit antara gedung kelas IX-I dan bagian belakang IX-C, Tanya memanggilnya. "Alfa."

Alfa berhenti, tubuhnya setengah berbalik dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana.

"Tumben kamu pulang siang?"

Alfa terbahak. "Lu pikir gua mau langsung pulang? Ya nggak, lah!"

Alfa berbalik, mengangkat satu tangannya tinggi sebagai salam perpisahan. "Bye."

Kemudian dia menghilang ke dalam lorong sempit itu, meninggalkan Tanya sendirian bersama jajaran semut yang tak henti menyeberangi lantai gazebo menuju entah ke mana, terpikir bagaimana manusia urakan seperti Alfa bisa tahu kata yang terbilang rumit seperti 'krusial' namun tetap gagal dalam penggunaannya.

[ID] tanya+ | Novel: FinishedCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang