1 - Janis part 9

286 39 5
                                        

tanya?: aku lagi lumayan bokek okay so let's split the bill

Janis Ian: Jangan deh aku yang traktir aja

tanya?: cie yang baru gajian cie

Janis Ian: *kibas rambut* Lagian sekalian itung-itung bayar utang

tanya?: hah utang apaan

Janis Ian: Itu lho, yang waktu aku kabur waktu itu

tanya?: jesus christ masing diungkit2 aja

tanya?: *masih

Janis Ian: Tanya sayang, kan aku udah bilang, that was not right. Jadi aku berniat to make it right this time

tanya?: oke fix

Janis Ian: Fix? :D

tanya?: yep. fix begitu kita ketemu hal pertama yang harus kamu bilang adalah tanya sayang

Janis Ian: Tanya sayaaaaaaaannngg

tanya?: oke too much. stahp.

Janis Ian: Hehe :p mandi sana

tanya?: udah kok

Janis Ian: Oh...

tanya?: r u thinking what im thinking

Janis Ian: Mmmmmmmmungkin?

tanya?: hmm.....

Janis Ian: I'm smiling rn

tanya?: oki

Janis Ian: Oke.

tanya?: see u there

Janis Ian: I'll be there.

Aku menaruh piring kotor di wastafel dapur, membuka kulkas dan mengambil sekaleng susu berkarbonasi. Meminumnya sambil jalan ke kamar, aku membuka lemari dan mulai memilih-milih baju.

Nope. Nope. Uh-uh. Ditolak. Eeh. Nope. Hmm, mungkin. Ew. Astaga, kenapa belum ada orang yang membakar isi lemariku? Seleraku ternyata payah banget.

Menyesap minumanku aku berusaha mengingat-ingat. Kencan pertama kami. Baju apa yang kukenakan?

"Hmm." Aku mendongakkan kepala, memejamkan mata. Aku pakai... t-shirt band warna abu-abu dan skinny jeans hitam. Mungkin aku akan pakai skinny jeans itu lagi. Nggak ada peraturan yang melarang untuk memakai celana yang sama di dua kencan yang berbeda, kan?

Oh my God, bagaimana kalau memang ada?

Janis mengirimiku pesan lagi. On the way Tan.

Shit! Nggak ada waktu untuk memikirkan aturan nggak penting! (Atau mungkin penting! Gimana nih!?) Aku menyambar skinny jeans hitam itu dari rak gantungan di balik pintu lemari dan mengenakan kaos-nyaris-baju-terusan putih yang kulapisi dengan jaket denim biru gelap. Bisa dibilang aku menyeret sniker biruku sambil berjalan ke luar rumah. Mengaitkan bagian tumit sniker ke belakang tumitku, aku berhenti di tengah jalan. Sial! Dompet!

Aku berlari kembali ke rumahku hanya untuk menyadari aku tidak mengunci pintunya. Great job, Tan. Kece banget. Aku meraih dompetku dari laci nakas bersama dengan kunci rumah dan sedang bersiap-siap mengunci pintu ketika teringat satu hal: ponsel!

[ID] tanya+ | Novel: FinishedCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang