2 - A:R:T (6)

188 23 11
                                        

Tanya meninggalkan Alfa di ruang bimbingan konseling dan berlalu bersama Johan, siswa paling populer di angkatannya—tunggu, coret itu; siswa paling populer di sekolahnya—menuju kantin sekolah di mana orang-orang tidak hanya datang ke sana untuk membeli makanan tapi juga untuk bersosialisasi dan bergosip.

Tanya terkikik pelan memikirkan kemungkinan menjadi bahan gosip sekolahnya. Bayangkan keterkejutan teman-temannya saat melihat Tanya bersama-sama Johan! Padahal, Tanya bukan tipe gadis yang senang menjadi bahan pembicaraan atau senang tertawa terkikik. Johan membuatnya seperti itu.

Johan menatap Tanya lucu. "Kenapa?"

Tanya mengulum senyum. "Nggak apa-apa, kok."

Johan menyenggol sisi tubuh Tanya dengan sikunya main-main. "Apa? Kasih tau dong, aku penasaran."

Deg! Jantung Tanya melompat keluar dari dadanya, nyaris berhasil seandainya tak terhalang oleh tulang rusuk. Begitu mereka menuruni tangga dari ruang BK, apa yang Tanya bayangkan sungguh-sungguh terjadi. Banyak anak yang berhenti berjalan dan menatap mereka, beberapa dengan mata terbelalak dan beberapa lainnya dengan wajah melongo tak percaya. Dan reaksi itu semakin heboh ketika Johan menggamit lengan Tanya dan menariknya berbelok di anak tangga terakhir, turun menuju lantai dasar di mana kantin berada.

Wajah Tanya memerah dan mendadak dia teringat kenapa dia benci jadi bahan pembicaraan.

***

Mereka bertukar nomor ponsel sesaat sebelum pulang sekolah. Johan yang mendatangi kelas Tanya, dan mendapati kelas VIII-D belum bubar, dia menunggu di depan pintu kelas.

Begitu pintu terbuka dan para siswa berhamburan keluar, beberapa suara bernada tinggi memekik tertahan. Segera saja Johan dikerubungi para siswi yang entah mengapa mengidolakannya. Johan meladeni mereka semua dengan senyum ramah namun menjaga jarak, dan begitu dia melihat Tanya keluar dari kelas, Johan memanggil namanya. "Tan!"

Tanya mengedipkan mata kaget, sejenak melupakan Derry yang sedang mendiskusikan tentang gerakan tari shufflin'. Melihat Derry, Johan tersenyum menyapanya. "Der."

"Eh, Jo," Derry balas tersenyum. "Tumben ke sini?"

Johan tersenyum simpul. "Mau ke Tanya."

Sekurang-kurangnya sembilan pasang mata menatap Tanya sementara yang menjadi objek tatapan menundukkan kepala, berharap tubuhnya mendadak menciut jadi seukuran semut. "Ooh," kata Derry setelah jeda canggung. "Ya... udah deh ya, Derry tinggal. Daah, Tanya. Nanti Derry ajarin shufflin' ya."

Tanya mengangguk saat Derry berlalu di hadapannya. Para siswi yang tadinya mengerubungi Johan kini membagi diri menjadi dua kelompok yang membukakan jalan bagi Johan dan Tanya seperti Laut Merah saat Musa hendak lewat. Johan mengambil satu langkah mendekati Tanya. "Hai, maaf ya mendadak."

Tanya hanya diam, tidak tahan dengan beban tatapan teman-temannya yang diarahkan padanya. "Jadi gini..." Johan memulai. "Aku... mau minta nomor kamu kalau boleh."

Beberapa orang terkesiap. Tanya menatap Johan tak percaya. "Buat ngobrol aja, gitu." Johan mengedikkan bahu, seolah itu bukan masalah besar. Senyum simpulnya yang khas tidak meninggalkan wajahnya. "Atau siapa tau kita bisa saling bantu kalau ada tugas." Apa Tanya baru saja berhalusinasi atau memang benar Johan baru saja mengedipkan sebelah mata padanya?

"Um..." Tanya berusaha mencari kata-kata untuk menjawabnya. Kasih? Jangan? Kasih? Jangan? Apa Tanya bahkan mau memberikan nomornya pada Johan?

Johan mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Ponsel itu bermodel layar sentuh keluaran terbaru. Melihatnya, Tanya mereguk ludah. Mustahil ibunya bisa memberikan ponsel itu. "Nomor kamu?"

[ID] tanya+ | Novel: FinishedCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang