- 01

2K 191 46
                                        

Aku membawa satu backpack duffel dengan tali pegangan yang agak dipanjangkan, karena aku memikulnya di pundak kanan, sambil menggeret koper nilon. Aku sempat kesusahan, karena salah satu roda pada koperku terlilit rumput, dan berakhir macet. Alih-alih mengangkatnya, aku malah menggotong kopernya di medan menanjak.

Desa itu ada di puncak bukit tinggi, dan dikelilingi pula oleh barisan bukit-bukit dan semenanjung. Agaknya, aku sudah berjalan kaki dari halte bus selama sepuluh menit. Dan sampailah aku di gaba-gaba penyambut dengan arsitektur khas Tibet; bagaimana pun, negri ini tak luput dari imigran Kamboja, Thailand, dan Tibet.

Rumah Kakek ada di ujung sungai. Panorama dataran tinggi yang terjal di seluas mata memandang ditutupi oleh perkebunan stroberi serta teh Assamica, dan aku memergoki sosok tua berpakaian resik berdiri di samping gerobak tanpa tuan berisi kubis-kubis dengan berbagai varietas.

"Selamat pagi," aku menyapa pria tua itu. Dia tergolong sudah kakek-kakek, tapi tubuhnya masih bugar, postur tubuhnya tegap berwibawa, dan dia cukup menjaga penampilannya; dia mengenakan kemeja chambray berkancing di sisi kiri dan kanan yang dijahit rangkap, dan fabrik polosan itu ditutupnya oleh tuxedo sewarna chocolate muffin. Celananya agak kebesaran, makanya dia mengenakan sabuk berselaput. "Kepala Desa?"

Kepala Desa itu, Retak'ka, mengangguk. Dia kenalan lama Kakek. Dan aku bersyukur, Retak'ka membalas pesanku di email, dan dia justru menawarkan diri untuk membantuku menemukan rumah kakek, yang telah lama sudah tidak aku kunjungi, sejak aku beranjak dewasa, dan berkonsentrasi pada karir e-sport.

"Lama tidak bertemu," Retak'ka membalas. "Mari kuantar. Apa kamu juga menginginkan tur?"

"Tur?" Aku melongo.

"Desa ini penduduknya cuma sedikit." Ungkap Retak'ka. "Keberadaan pendatang akan sangat disorot."

"Bisakah aku menyimpan koper dan tas dulu?"

-

Rumah Kakek terletak di pinggir sungai annular yang alirannya lumayan deras, sehingga Kakek memanfaatkannya sebagai penggerak turbin. Turbinnya diaktifkan oleh kincir bambu dengan penangkup air mirip ujung sekop. Tapi turbinnya tak lagi berfungsi, karena katup-katupnya tampaknya sudah rusak, dan oleh sebab mesin generatornya memang dimatikan.

Rumah ini bertonggak tinggi. Bak rumah Upin-Ipin, tapi tidak berwarna hijau, karena dinding kayunya hanya dipelumas, tak sama sekali dicat. Pintu depannya dikunci oleh mata rantai ganda dan gembok. Ketika aku membuka segelnya, aku memergoki suasana rumah yang lengang, dan serba berdebu.

Kenangan-kenangan masa kecil menyeruak masuk ke kanal-kanal otakku. Sebagaimana anak sekolah pada umumnya, setiap kali aku libur semester, aku selalu meminta diantarkan ke rumah Kakek. Tapi itu tidak lagi terjadi ketika Kakek dikebumikan, lima tahun lalu, ketika aku sibuk-sibuknya mempersiapkan ujian nasional dengan bimbel kesana-sini.

Sofa, lemari kaca berisi kerajinan tradisional seperti labu sayong, geluk, belanga, keramik tungku naga Tiongkok, tembikar Sarawak, juga ada lipatan kain songket milik almarhumah Nenek, dan daun mengkuang yang ditenun menjadi tas belanja, tersimpan rapi si penjuru ruangan. Semuanya masih sama.

Aku melangkan kaki ke dalam sana, sehingga keletuk sepatuku terdengar di sejagat ruangan. Lubang ventilasi di atas jendela berteralis dan jendela-jendela itu sendiri sudah mencukupi kebutuhan pertukaran udara, dan aspek pencahayaan. Tapi, aku tetap menyalakan lampu di langit-langit ruangan, sekalian aku mengecek apakah saklarnya bermasalah atau tidak.

Aku menyudahi nostalgiaku secepatnya, dengan menyimpan tas dan koperku di tepi sofa, lantaran aku tahu, Retak'ka menunggu di depan sana. Aku mengunci kembali pintunya, dan mengusap wajahku, menyingkirkan peluh di jidat, dan berusaha tidak tampil jutek di depan orang-orang.

Blaze x Reader | Harvest Moon Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang