Setelah memastikan tanaman-tanamanku sudah disiram dan dipupuk, dengan cara memaksa Maripos mengirimkan video pengerjaannya, aku pun beringsut mendandani anak-anak panti.
Mereka semua memakai pakaian ritualistis berupa jas, kemeja, dasi kupu-kupu, dan celana kain. CEO-CEO kecil, imut, dan manis itu kemudian bercermin dan mengaggumi penampilannya. Dan, oh ya. Kecuali Glacier. Dia malah bersikeras ingin mengenakan jaket berbulu dengan tudung bertelinga beruang kutub. Dia kelihatan seperti anaknya Ice.
Setelah lima menit menyudahi acara make overnya, mendadak Blaze menyembulkan kepala dari ambang pintu, dan lekas bicara, "sudah selesai, Mama (Nama)?"
Aku sedang menyisir rambutku. Sisir itu berhenti di pertegahan jalan karena aku bertanya-tanya, dalam tujuan apa Blaze memanggilku begitu.
"Mama (Nama) cantik sekali," Si Supra, anak kecil yang tidur di antara aku dan Blaze sepanjang malam karena dia takut hantu, menunjukku dengan jari telunjuknya, seakan meyakinkan Blaze akan gagasannya. Sebagai responnya, Blaze memperlihatkan tubuh utuhnya pada kami, para penghuni kamar. Dia tampak sudah rapi. Dia juga memakai kemeja putih, lengannya dilipat sampai ke batas siku, dan kancingnya besar-besar, serta berwarna keemas-emasan.
"Iya, dong. Itu kan istri gue," Blaze manggut-manggut. "Nyarinya susah. Langka. Udah kayak narkoba Metamfetamin."
Aku menerjunkan sisirnya ke bawah, menyudahi aktivitas merapikan rambut, lalu mengarahkan kursi meja rias pada Blaze, "ya ampun. Kamu ada maunya?"
Blaze mengangkat bahu, mempertunjukkan ketengilannya, "enggak, tuh."
"Mhmm ... 'Mama (Nama)', ya?" Sori mengelus dagu. Dia berpikir keras, berusaha menerjemahkan panggilan itu dengan pikiran-pikirannya. "Jadi aku punya Mama?"
Blaze mengangguk, "iya, betul. Itu Mama (Nama)."
"Asik! Kalau begitu, aku punya Mama dan Papa! Mama (Nama) dan Papa Ice!" Sori melontarkan kegembiraannya dengan naik ke kasur, dan merangkak menuju kawanannya. Sekarang, mereka berenam bergerombol.
"Mama (Nama) dan Papa Ice!" Gentar mengulang. Dia terpesona dengan konsep pemikiran itu.
"Heh! Kenapa si beruang malas itu jadi papamu?!" Blaze berlari mendekat pada gerombolan tuyul-tuyulnya Maripos, kemudian dia menangkap Gentar, dan membawanya ke udara. Blaze menginterogasi Gentar sambil mengguncang-guncangnya.
"Kan, Papa Ice bilang, kami boleh menganggapnya sebagai 'Papa'!" Gentar percaya diri menjawab pertanyaan invasif Blaze. Aku jelas tahu kedekatan yang terjalin antara Ice dengan anak-anak panti. Secara logis, Ice guru musik mereka. Sebelum aku datang ke desa Pulau Rintis pun, Ice rutin mengunjungi panti, dan menggurui mereka sejumlah instrumen musik, kadangkala menjadi pendamping tur mereka ke perpustakaan, atau Ice hanya main-main karena dia menganggur.
Dan Blaze malah mengidekan agar anak-anak itu memanggilku 'Mama'. Betapa menyenangkannya dipasangkan dengan Ice. Aku mengulum senyum culas, menyikapi peristiwa insidentil pagi-pagi begini.
"Tidak, tidak," Blaze menggeleng-gelengkan kepalanya, mengelak apa kata Gentar, berupaya memperbaiki kesalahpahaman di antara mereka dengan gelisah menguasai tubuhnya. Seakan kiamat kecil baru saja menerpa tubuh Blaze, Blaze kelihatan kelimpungan, dan panik luar biasa. "Kamu bisa panggil aku 'Papa', ya, Gentar?"
Gentar lumayan terkejut ketika Blaze memintanya demikian. Gentar melamun sebentar, mendiskusikan banyak hal dalam pikirannya. Gentar bimbang. Dia ingin menolak, tapi tidak enak. Semuanya terukir di wajah penuh ketidaksetujuannya. Gentar terlanjur berkiblat pada teori bahwasanya Ice merupakan 'Papa'nya, dan 'Papa' seharusnya berjumlah satu, bukannya dua, apalagi tiga belas. Anak mana yang punya tiga belas ayah? Katakan padaku sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blaze x Reader | Harvest Moon
Fiksi Penggemar|Blaze x Reader| Tadinya aku berpikir, aku hanya akan berkutat di dunia e-sport seumur hidup. Mengurus tim, live streaming setiap hari, sampai dimana aku pensiun karena sudah tua. Tapi nyatanya, kekalahan itu menjadikan aku diistirahatkan, dan untuk...
