Hari ini, aku menemani Ying untuk memuaskan hasrat penasarannya.
Pemilik warung serba ada yang bahkan menjual jasa entrupy tas branded itu meninggalkan pekerjaannya sejenak, karena dia punya keperluan penting.
Semuanya bermuara dari hari Selasa minggu lalu. Waktu itu, Ying bangun dari tidurnya, dan tiba-tiba ditelpon Solar. Solar memesan susu segar yang biasanya dititipkan peternakan Vargoba atau peternakannya Kaizo dan Fang ke rak tokonya Ying. Utamanya, Solar menginginkan susu untuk di antar ke teras rumahnya. Tapi, Solar juga membeli sejumlah bahan mentah dapur, karena katanya, dia ingin masak-masak.
Ying berakhir mengiyakan orderannya Solar, sambil mencatatnya di buku hutang, dengan meletakkan handphonenya di antara pundak dan kepala. Dia menuliskan barang-barang pembelian itu dengan mata masih setengah mengantuk. Ying akhirnya mandi, berpakaian tebal supaya dia tidak menggigil kedinginan karena dia akan mewajahi udara membekukan desa Pulau Rintis, dan kemudian berdandan sedikit.
Ying menyiapkan susunya. Susu itu dikemasnya dalam botol kaca steril yang disumbat oleh gabut sintetis, dan ditata di keranjang besi dengan dudukan bagi botol-botol kacanya. Karena Solar juga membeli telur, Ying segera membawa boks papan kayu dari gudang tokonya, memenuhinya dengan jerami, baru meletakkan telur-telur ayam di sana.
Setelah selesai berkemas, Ying membawa kedua jinjingannya di kedua tangan, dan cepat-cepat berkunjung ke perpustakaannya Solar. Sesampainya di rumah batu bercerobong besar itu, Ying mengetuk pintunya. Namun ketika tangannya menghantam daun pintu, rupanya gerakan itu malahan serta merta mendorong pintunya ke belakang. Pintunya tidak dikunci, dan celahnya melebar.
Ying penasaran, apa yang menyebabkan Solar tidak menutup pintunya. Jadi, Ying melangkah masuk ke dalam, berniat menyapa sobat kutu bukunya, dan menyimpan pesanannya.
Ying menemukan perpustakaan itu tak berpenghuni di lantai satu. Aneh, pikir Ying. Karena biasanya, di jam-jam begitu, selalu akan ada pengunjung. Bisa dibilang, Ying tahu betul kebiasaan Fang, Vargoba, Retak'ka, Pipi, dan anak-anak panti. Di hari rabu pagi, mereka umumnya datang ke perpustakaan, entah untuk meminjam atau membaca buku, atau menemui Solar dan membahas soal pembelian alat tulis kantor yang dikoordinir oleh Solar sebagai penanggungjawabnya, atau hanya berkunjung tanpa alasan—itu benar adanya, beberapa orang tak bertujuan hidup seperti Taufan membenci belajar, apalagi menekuni buku, tapi dia tetap datang ke perpustakaan secara rutin agar dia dapat merecoki Solar dari kegiatannya.
Ying memandangi setiap sisi dari perpustakaan. Dia berdiri di antara rak buku yang menjulang tinggi sampai menempel ke atap, dan meja resepsionis—meja dengan satu komputer jadul. Tidak ada Solar dimana pun.
Ying meletakkan dua keranjangnya di meja resepsionis, lalu dia menyakukan tangan di mantel musim dinginnya. Mantel itu dulunya tidak cocok dipakai di daerah tropis. Tapi sekarang-sekarang ini, perubahan iklim begitu fluktuatif, dan relatif menyiksa kesehatan kulit orang Asia. Terkutuklah pemanasan global dan prahara-praharanya, begitu tutur Ying.
Ying mengkhawatirkan keberadaan Solar. Ying takut, Solar baru saja dirampok dan diapa-apakan. Tapi tidak ada jejak pencurian dimana pun. Semuanya bersih, dan, benda berharga seperti guci Bluett & Sons of Mayfair yang dioper dari dealer barang antik Tiongkok masih tersimpan apik di rak di belakang meja resepsionis. Komputernya pun tak dicuri.
Ying memustukan untuk meninjau lantai atas. Ying menaiki anak tangga reot yang menghubungkan lantai dasar ke lapisan loteng pada perpustakaannya Solar. Setahu Ying, itu bukan area pribadi. Jadi, Ying percaya diri mengeceknya.
Srak!
Solar ada di sana. Dia duduk dengan postur tubuh kifosis, karena dia sedang menelaah buku bacaan di pangkuannya. Dia duduk menyilang kaki, di karpet yang melapisi lantai dari papan pernis. Dia mengenakan kacamata bacanya, dan dia kelihatan serius. Buku di paha Solar bentuknya besar, tebal, dan dijilid manual oleh lakban, paku, dan kertas mika. Buku itu tidak tampak seperti buku-buku berizin edar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blaze x Reader | Harvest Moon
Fanfiction|Blaze x Reader| Tadinya aku berpikir, aku hanya akan berkutat di dunia e-sport seumur hidup. Mengurus tim, live streaming setiap hari, sampai dimana aku pensiun karena sudah tua. Tapi nyatanya, kekalahan itu menjadikan aku diistirahatkan, dan untuk...
