- 24

558 85 29
                                        

"Dengar ya, Yaya, percuma kalau kamu membayar pajak ke pemerintah, tapi kamu menolak ajakan double dateku," Aku mulai melaksanakan prosedur brainwashing pada Yaya, meskipun aku tahu, Yaya tidak akan terdoktrin dengan mudah. "Karena, double date ini bertujuan untuk meringkus penjahat negri, dan membantu aparat sipil. Ya, di lain sisi, barangkali kamu mau memberikan Bagu Gu kesempatan kedua,"

"Kesempatan kedua?" Yaya melongo.

"Ya, kesempatan kedua." Aku mengangguk mengiyakan. "Bukannya, di matamu, dia itu bagaikan pangeran di atas kuda putih?"

"Apa? Najis." Yaya menjawab singkat, dan dia menutup pintu keras-keras, membiarkan aku termangu meratapi nasib.

Aku menelan ludah, dan berpikir keras.

Aku tengah berdiri di pekarangan rumah Yaya. Yaya tinggal di rumah ini ketika musim turnamen belum dimulai, dan dia tidak diwajibkan menginap di game house. Kata Yaya, rumahnya diwariskan ibunya padanya sebab ibunya memilih untuk menetap di daerah urban fringe, mencari ketenangan di kampung nelayan, meninggalkan ibu kota, dan memaksa Yaya hidup mandiri.

Aku menghela napas kesal. Cewek ini susah dibujuk, karena kepalanya lebih keras daripada batu. Karakternya menyulitkan bujuk-rayuku.

Aku merogoh saku, dan mengintip notifikasi e-mailku. Lagi-lagi, Bagi Gi menghubungiku, menggodaku dengan segala prosa puisinya. Diksi dan pengolahan katanya tidak buruk, tapi sebelum aku memujinya, aku mencari tahu bagaimana dia meracik kalimat-kalimat menjijikan itu di e-mail. Rupanya, dia hanya mencontek dan menggubah puisi-puisi Tionghoa. Kupikir dia masih meletakkan ketertarikan padaku, padahal dia jelas-jelas tahu, aku telah bersuami, dan dia sudah dibogem mentah oleh si ayam. Pasti ada alasan di balik semua tindakan. Kepercayan diri Bagi Gi bukannya diperolehnya begitu saja, sekonyong-konyong, tanpa landasan kuat.

Aku sudah meneliti pesan-pesan yang dia kirimkan padaku, mencari tahu apa alasan dari kepercayaan dirinya. Di setiap pesannya, dia menghasutku agar aku tidak terlalu memusingkan status pernikahanku. Dia merasa dia lebih superior dari Blaze. Aku paham sudut pandang itu lumrah digunakannya dalam menyikapi kasusku. Soalnya, dia punya banyak uang, dia terafiliasi ke proyek-proyek triliunan ringgit, dan darisanalah sifat determinannya timbul.

Agaknya, kalau mukanya tertolong, dan aku masih lajang, aku pun akan tertarik padanya. Masalahnya, aspek-aspek itu sama sekali tak terpenuhi.

"Yaya," aku mengetuk-ngetuk pintu rumahnya Yaya, berharap Yaya menyahut. Aku tidak punya espektasi apa-apa. Aku tahu bagaimana Yaya akan bersikap, karena aku sudah mengenalinya sejak lama.

"Ini cuma sandiwara," aku beralibi. Alibi? Tidak juga. Aku tidak berusaha membodohi Yaya.

"Aku tahu kamu diundang ke pesta itu juga, 'kan?" Aku memekik, bermonolog ditemani terpaan angin. Lama-lama, tekanan darahku naik. Kalau bukan karena rasa sayangku pada desa itu, dan aku tidak ingin sumber daya terpendamnya dieksploitasi habis-habisan oleh Reramos dan Panglima Scammer, aku ogah memohon-mohon pada Yaya begini.

Aku tidak bisa menyalahi Yaya. Dia sudah ditipu, dan dia menjadi salah satu korbannya Bagu Gu. Sayangnya, Yaya terlalu cantik untuk ditinggalkan. Jadi, walau kecurangannya telah terekspos, Bagu Gu masih mau-maunya bertekuk-lutut pada Yaya, memohon pengampunan. Kuakui, selera Bagu Gu cukup bagus. Tapi dalam situasi ini, aku tidak akan memujinya.

"Setidaknya bantu aku, sebagai temanmu," sekarang, strategiku berpindah ke arah lain. Aku menjual pertemananku agar dia mau menyambutku, mempersilahkan aku duduk di sofa ruang tamunya, mengajak aku minum teh, dan menerima tawaran brilianku. "Lagi pula, aku sudah bilang, 'kan? Manusia bernama Beliung yang mengaku-aku bekerja di Badan Anti-Korupsi Malaysia itu mau membayar kita, kalau kita kooperatif,"

Blaze x Reader | Harvest Moon Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang