"Kamu ni cacing tanah kah?" Tanyanya. Entahlah siapa orang itu. Dia mengenakan pakaian formal, dan safety helmet warna putih. Anehnya, dia memeluk ayam.
"Matamu kemana!" Aku mencak-mencak. "Ada di dalam alat berat, tapi malah main ayam!"
Apa di kampung ini, ada semacam festival judi ayam? Apa dia salah satu peserta judinya? Atau jangan-jangan, provider ayam petarungnya? Begitu, ya?
"Bukan ayam," Si pria congkak menolak membenarkan pernyataanku. "Ini pokemon lele kesayanganku."
Ayam itu sampai mengarahkan paruhnya ke atas, memandang ke arah pemiliknya, barang kali ayam itu juga berpikir, bahwa pemiliknya lumayan miring, dan tak lebih pintar darinya.
"Oh! Apa kamu cewek kota yang dibicarakan akan meneruskan ladang kakekmu itu?" Seperti selalu, warga desa berhasil menebak identitasku, karena tampaknya Retak'ka betul-betul penyebar gosip handal, karena pengaruhnya besar—bagaimana tidak? Pak Tua menjabat di kursi kepala desa, dan dia kharismatik, jadi sedikit banyak, pasti lisannya sangat didengarkan.
Kalau kata Retak'ka, warga di sini saling mengenal, karena jumlah penduduk mereka tidak banyak. Ketika ada orang asing, contohnya aku, mereka akan tanggap menyadari.
Aku mendengus kesal, dan menepuk-nepuk bagian blouse di lengan kiriku yang terkena noda tanah. Aku tidak bisa menyalahkan orang itu secara sepenuhnya. Karena akulah yang jatuh menggelinding dari atas, sementara si pawang ayam sudah ada di sini sebelumnya.
-
"Maksudmu Blaze?" Retak'ka mengelus dagu, tampak berpikir keras.
"Tidak tahu. Kami tidak berkenalan." Wajahku cemberut hebat.
"Dia anaknya Panglima Pyrapi." Retak'ka menjawab keingintahuanku. "Kakak tirinya Ice."
"Apa?" Aku melongo. Jadi, dia kembarannya Ice? Mereka bukan saudara kandung, tapi setidaknya, mereka masih ada di silsilah keluarga yang sama.
Aku terkejut berat, sebab Blaze dan Ice terlalu berbeda jauh. Ice, guru musik tampan itu, very demure, very mindful, very cutesy, sedangkan kakaknya tidak. Aku rasa khodamnya Blaze cicak racing. Makanya dia berkelakuan begitu.
Kami berjalan ke arah alun-alun, sebidang tanah berbata dengan bentuk lingkaran yang dikelilingi oleh bangunan bersejarah; dan bangunan bersejarah itu difungsikan sebagai kantor kepala desa. Di tengah lingkaran alun-alunnya, dibangunlah sebuah air mancur bertingkat tiga. Air datang dari sebuah patung kuda berotot bagus, mengalir jatuh ke mangkuk-mangkuk di bawahnya.
"Awalnya alun-alun desa tidak sebagus sekarang." Ujar Retak'ka. "Ini dibangun oleh Blaze. Dia arsiteknya."
Aku mengedarkan pandang, mengaggumi bangunan tua di sekitar lingkarannya, dan pepohonan cemara di celah-celahnya.
"Itu kantorku." Retak'ka menerangkan. "Tak ada yang cukup menarik. Tapi kantor kepala desa juga digunakan untuk menyimpan batu-batu cantik."
"Batu cantik?" Kataku.
Retak'ka melihat ke perempatan jalan yang menuntun kami pada alun-alun, anak dari jalan dimana rumah Taufan dan rumah Ying berada. "Bila kamu belok ke kanan, kamu akan menjumpai pegunungan. Lintasi hutan kecilnya. Temukan danau tektovulkanik di antara bentangan bunga beggarsticks. Dan di sebelahnya, ada lubang cebak tak terpakai. Dulunya, kompeni menambang emas dan timah di sana. Tak jauh dari lubang cebaknya, kamu pun bisa melihat tenda parasut milik Duri—dia arkeolog yang kadang-kadang tidur di penginapan Gopal, tapi kebanyakan, dia memilih bermalam di tendanya. Nah, sebagian hasil pertambangan diberikan ke kantor kepala desa. Mereka dipajang elok di kaca akrilik. Dan, Duri pun sering menyumbangkan artefak temuannya pada kami."
KAMU SEDANG MEMBACA
Blaze x Reader | Harvest Moon
Fanfiction|Blaze x Reader| Tadinya aku berpikir, aku hanya akan berkutat di dunia e-sport seumur hidup. Mengurus tim, live streaming setiap hari, sampai dimana aku pensiun karena sudah tua. Tapi nyatanya, kekalahan itu menjadikan aku diistirahatkan, dan untuk...
