Ambulans telah didatangkan dari panggilan darurat.
Aku menyisi di pinggiran pintu aula hotel, dan menonton huru-hara yang sedang dimediasikan. Aku berdiri di sebelah Yaya. Kami mematung, menyaksikan tamu-tamu pesta miras itu satu-persatu diborgol dan dibariskan menuju mobil polisi. Ada begitu banyak wajah tak dikenal, dan wajah-wajah familiar, karena sesungguhnya, kami pasti melihat mereka sesekali di televisi, di baliho pemilu, atau di media sosial.
Setelah semua orang diamankan, datanglah empat perawat laki-laki berseragam putih yang mencengkram masing-masing dari empat pegangan tandu. Seorang dokter ikut mengiringi kehadiran tandunya. Tandu itu berisi tubuh terbujur kaku Bago Go.
Tandu lain datang. Kali ini, tandunya mengangkut tubuh babak belur Baga Ga, dan selanjutnya Bagi Gi, Bagu Gu, lalu Tom. Tandu terakhir mengangkat tubuh bonyoknya Reramos. Reramos mengenakan neck collar di sekeliling lehernya, kedua kakinya dibidai karena fraktur tulang, mulutnya dibuka paksa oleh oropharyngeal airway, nasal kanul menyumbat kedua lubang hidungnya, dan kepalanya diperban oleh kain sampai ke ubun-ubun. Dia babak belur. Lebam membiru menghiasi area matanya, dan noda darah berjejas di sekitar mulutnya.
"Sepertinya Blaze marah sekali." Yaya berkomentar.
"Aku rasa iya." Aku menjawab sembari melamun dan tertegun. Benar kata Yaya. Reramos sampai berakhir separah itu. Reramos terlihat bak korban kecelakaan lalu lintas yang tubuhnya dilindas roda truk fuso, dan tubuhnya terpelanting ke barrier jalan yang terbuat dari beton.
"Ternyata benar," Yaya mendongakkan kepalanya, "mereka ingin emas."
"Bisakah kamu menjaga rahasia, Yaya? Soal emas itu. Aku yakin Beliung pun akan tutup mulut." Kataku.
Yaya menyatukan alis, "desa itu menyulapmu menjadi pribadi yang baru."
"Benarkah begitu?" Aku mengerjap.
"Kamu analyst yang keluar dari game house hanya untuk menerima makanan dari pesanan onlinemu, dan pergi Pavilion jika kamu butuh refreshing." Yaya mengilang tangan. "Tapi semenjak kamu berkenalan dengan alam, kamu berlagak mencintai desa itu. Seharusnya desa Pulau Rintis bukan menjadi urusanmu, selama penggusuran dari pemerintah akan menghasilkan miliaran ringgit sebagai uang ganti ruginya."
"Apa sekentara itu?" Aku bertanya lagi.
Yaya mengangguk, "biar kuberitahu kamu sesuatu. Di turnamen terakhirmu, kamu dan tim andalanmu kalah di grand final. Aku sengaja tidak memberitahu apa kesalahanmu, karena itu bakal menyakiti egomu dan ujung-ujungnya, kamu tidak bisa berpikir jernih. Makanya aku meliburkan kamu, menyuruhmu merenung. Sekarang, aku lihat, kamu telah mengatasi satu-satunya kekuranganmu di posisi game analyst; formulasimu luar biasa, tapi ... kamu tidak mempertimbangkan perkembangan tim dari agensi e-sport lain. Kamu tidak peka terhadap lingkungan di sekitarmu."
Aku melamun sebentar, merasa denial. Tanganku lalu jatuh ke samping tubuh. Yaya tampaknya bicara serius, bukannya mengada-ada. Secara sopan, dia menyampaikan kekuranganku dengan kritik konstruktif. Sebelum merespons, aku mengingat-ingat bagaimana kelakuanku di turnamen sebelumnya. Iya juga. Aku sibuk meracik ini dan itu, aku meremehkan tim yang di season lalu, bahkan tidak mampu lolos ke playoff. Aku mengentengkan draft pick mereka, tidak lekas memikirkan konsekuensi dari lepasnya hero power dari beberapa player di tim lawan. Egoku terlalu tinggi untuk mengakuinya. Aku pikir aku menggenggam dunia, padahal aku hanya seorang manusia di antara luasnya semesta alam.
"Kepedulianmu mulai tumbuh, terhadap desa itu, pada orang-orang di sekelilingmu. Sensor kewaspadaanmu menebal, aku rasa," Yaya meneruskan argumennya. "Semua manusia seharusnya bersikap begitu. Metodeku berhasil. Menendangmu keluar dari e-sport selama satu season ternyata ampuh mengatasi underperfom dalam kinerjamu. Lihat kamu, (Nama). Kamu pergi ke rumah kakekmu, hidup tanpa gadget, bertani, bicara dengan orang lain, menolong dan ditolong, berorganisasi, merasa lelah secara fisik, tinggal di lingkungan non-dinamis. Dan kamu sukses menyempurnakan kepribadianmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Blaze x Reader | Harvest Moon
Fanfic|Blaze x Reader| Tadinya aku berpikir, aku hanya akan berkutat di dunia e-sport seumur hidup. Mengurus tim, live streaming setiap hari, sampai dimana aku pensiun karena sudah tua. Tapi nyatanya, kekalahan itu menjadikan aku diistirahatkan, dan untuk...
