- 22

629 88 28
                                        

Supra bilang, peristiwa itu terjadi beberapa bulan lalu, di panti asuhan.

Mari mereview pengakuan Supra.

Seperti yang aku dan orang-orang ketahui, panti asuhan yang digerakkan oleh yayasan di Kuala Lumpur itu punya banyak cabang. Mereka juga mengelola panti jompo, program penyelamatan orang dengan gangguan jiwa, dan program penanganan bencana alam, serta program bakti sosial lain. Panti asuhan di desa Pulau Rintis menjadi salah satu asetnya. Panti asuhan di desa Pulau Rintis memuat enam anak tanpa orang tua. Latar belakangnya berbeda-beda. Beberapa di antaranya punya asesmen informatif—contohnya Supra dan Sori, karena mereka dikirimkan secara resmi. Asal-muasal mereka tidak tabu. Ceritanya jelas.

Namun, Supra tidak begitu.

Sekitar di pertengahan bulan Mei, Supra sedang menanti-nantikan hadiah yang akan dikirimkan ke panti asuhannya—hadiah-hadiah itu memang selalu diberikan ke panti, dan semuanya berasal dari para simpatisan. Dalam menyambut idul fitri, panti asuhan selalu kebanjiran barang-barang.

Di setiap tahunnya, Supra bakal memperoleh baju baru, dan mainan-mainan. Bahkan tahun lalu, Supra diberikan robot yang kemudian menjadi mainan favoritnya, dan dipajangnya di atas headboard kasurnya. Dan tahun ini, Supra berharap, dia bisa menambah robot lainnya.

Karena terlau bersemangat, Supra tidak bisa tidur. Malam itu, di antara kegelapan kamar, Supra bergelinjang di atas kasurnya, meringkuk di dalam selimut kasmir tebal. Supra tahu, dia harus bangun pagi-pagi sekali untuk sahur, tapi Supra kesulitan tidur. Supra tidak sabar.

Supra menatap ke atas kasurnya Frostfire. Ya, kasur mereka bertingkat dua, dan Frostfire tidur tepat di atasnya. Frostfire sudah tidur, begitu juga dengan Glacier, Sori, Gentar, dan Sopan. Mereka semua kelelahan, karena tadi sore, mereka main hujan-hujanan, mereka basah kuyup, mereka dimarahi Maripos, dan mereka dimandikan Maripos dengan sikat punggung di dalam ember penuh busa. Intermezo, Glacier sempat bersin-bersin ketika pipinya digosok oleh sikat berbusa, dan seluruh tubuhnya ditutupi oleh busa-busa.

Sedangkan Supra entah kenapa tidak lelah. Ketidaksabaarannya menyamarkan linu di kaki kecilnya; selama dia main hujan-hujanan di halaman panti, Supra berlari-lari, terpleset lumpur, berlarian lagi, tersandung akar pohon yang menyeruak keluar dari tanah, kembali berdiri, kemudian kembali berlarian sampai dia menabrak Maripos, dan Maripos baru menyeretnya ke kamar mandi.

Supra memegang jidatnya sendiri, memutuskan apakah dia demam atau tidak. Supra menyadarinya, Supra sering sakit. Setiap kali Supra kehujanan, Supra selalu sakit. Di malam pertama, demam akan datang menyiksanya. Di keesokan harinya, virus memicu produksi lendir di kedua lubang hidungnya, makanya napasnya bakal mampet, dan Supra pastilah menangis. Di malam kedua, demamnya bertambah, dan di pagi harinya, dia biasanya batuk-batuk. Lendir berpindah ke lehernya, dan memicu tubuhnya mengeluarkan reaksi batuk-batuk, agar dahaknya keluar.

Supra hapal betul bagaiamana tubuhnya bekerja. Jadi, sejujurnya dia mewaspadai gejala-gejala demam yang mungkin ada pada tubuhnya.

"Tidak, tidak demam," Supra melepaskan telapak tangannya yang menempel ke keningnya. Dia bicara dengan dirinya sendiri, sembari menghembuskan napas lega.

Namun tiba-tiba, Supra kelaparan. Bunyi halus dari perutnya datang dan mengudara. Supra dapat mendengarkannya. Ususnya minta diberi makan.

Supra mengelus perutnya, tetap berbaring di sana.

Supra akhirnya memaksakan diri untuk bangun. Supra mendesah tidak nyaman. Dia perlu menjangkau dapur yang gelap gulita itu kalau mau memakan makanan di kulkas. Supra takut. Semua lampu telah dimatikan, kecuali lampu di teras panti, dan lampu di kamar mandi. Artinya, panti sedang minim penerangan.

Blaze x Reader | Harvest Moon Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang