"Haiyaaaaa! Lu olang, kalau mau menanam benih, harus tahu pengaturan tanaman per musimnya." Ying memarahi aku, karena di hari-hari begini, aku malah menanyakan stok benih padi. Aku pikir, bagi orang awam seperti aku, menanam padi merupakan hal paling mudah untuk dipraktikkan.
"Padi cuma ditanam dua kali dalam setahun. Panennya lama." Ying mewanti-wanti. "Itu tidak bagus. Lebih baik kamu menanam sayuran yang bisa dipanen dalam enam puluh sampai seratus hari."
Kringg
Bel dari pintu masuk warung kelontong ini dibunyikan karean ada dorongan pada pintunya.
"Selamat datang." Ying menyambut pelanggannya, sesuai prosedur, tanpa beranjak dari kursi malasnya di balik konter.
Tampaklah dua orang laki-laki berpakaian jaket wol. Cuaca di luar memang dingin. Aku sampai memakai syal dari bulu domba Sherland, agar setidaknya, aku tidak kedinginan selama perjalanan, supaya sepulang ke rumah nanti, aku masih cukup berenergi untuk mengurus ladang.
"Oh! Kaizo, Kaizo, kemarilah sebentar," Ying memekik, sambil meletakkan siku tangannya di atas meja etalase. "Lihat orang ini. Katanya dia mau menanam padi di antara anomali musim dingin,"
Seseorang barnama Kaizo menghampiri, dan sosok di sampingnya ikut-ikutan datang ke dekat rak berisi benih-benih yang kebanyakan berbentuk biji-bijian dalam kemasan plastik kedap udara.
"(Nama), ya?" Sosok di belakang punggung Kaizo menebak. "Aku adiknya Kaizo,"
"Kalian pemilik lahan berkebun di belakang penginapannya Gopal," aku menerka. Kebun mereka lumayan luas dan tanaman-tanamannya hampir mencapai panen raya. Kalau kata Adu Du, mereka juga berdiri dengan Kakek dan Vargoba dalam persaingan penjualan produk pertanian dan peternakan.
"Padi?" Kaizo mengulangi apa kata Ying.
Tangan Kaizo masuk ke salah satu keranjang serat tanaman willow yang memuat kentang mentah berkulit penuh tanah—aku heran, menapa Ying tidak menyikat kulit kentangnya dari tanah-tanah itu.
Kaizo menjangkau satu kentang yang ukurannya sedang, tapi kulitnya menghitam, penuh ruam serta cacat, "petani baru seharusnya memulai dari tanaman dengan masa panen empat bulanan saja. Lagi pula basic tanah perkebunan kakekmu tak dibajak, dan tidak diperuntukkan untuk menanam padi. Tanahnya tidak ideal dalam proses tanam-menanam padi."
Kaizo melemparkan kentang itu padaku. Karena aku tangkas, aku behasil menangkapnya dengan satu tangan, dan memerhatikan betapa buruknya selera Kaizo dalam memilih kentang.
"Tomat? Tomat panennya juga cepat." Ying nyeletuk.
"Kamu lebih baik menanam kentang." Kata Kaizo, singkat. "Tapi tomat juga boleh."
"Tapi tomat memerlukan kerangka kayu yang diikat, supaya tumbuhannya bisa berfotonasti, menjalar dan berbuah." Fang menambahkan.
"Seledri, kalau begitu." Ying menimpali.
"Seledri bisa ditanam di lahan apapun, asalkan tanahnya gembur, rajin dirawat, dan tidak ada badai yang menghancurkan akarnya, tapi," Kaizo menilik pada Ying. "Seledri tanaman manja. Mereka ditanam di tanah yang dilapisi karung bolong-bolong. Atau kamu bisa memakai saluran pipa hidroponik."
"Kentang." Aku membolak-balikkan kentangnya. "Baik. Sepulang dari sini, aku akan menanam kentang."
"Jangan!" Fang menukas. "Biarkan dulu kentangnya."
"Biarkan dia bertunas sendiri sebelum dikubur ke dalam tanah ... dan ..." Kaizo melirikku sebentar. "Selagi menunggu kentangnya membusuk dan melahirkan daun-daun mekar, bukankah sebaiknya kamu merapikan lahan perkebunanmu dulu? Apa kamu mau menanam di tanah kekacauan itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Blaze x Reader | Harvest Moon
Fanfiction|Blaze x Reader| Tadinya aku berpikir, aku hanya akan berkutat di dunia e-sport seumur hidup. Mengurus tim, live streaming setiap hari, sampai dimana aku pensiun karena sudah tua. Tapi nyatanya, kekalahan itu menjadikan aku diistirahatkan, dan untuk...
