- 25

744 90 45
                                        

Dengan biji mataku sendiri, aku melihat Reramos meletakkan sebungkus bubuk putih ke meja di depannya.

Kalau mau berpikiran positif, aku akan menganggap, benda itu merupakan micin.

"Berapa harganya?" Seorang manusia bermuka mirip badut bertanya. Dia datang dari meja lain, tak jauh dari meja kami. Dia juga komplotannya Reramos, tapi dia kroco kelas menengah ke bawah; dia terlibat dalam prosesi pembangunan distrik di tanah desa Pulau Rintis, tapi dia hanya memerani tokoh mandor kecil yang menyediakan jasa memijat kaki Reramos atau menjilat telapak kakinya. Namanya ... Jokertu.

"Empat." Jawab Reramos. Empat juta? Micin itu harganya empat juta ringgit per plastiknya? Plastiknya saja sebesar Masako saset! Aku mengucek mata, dan mengedarkan pandang, meninjau wajah-wajah teman dudukku. Yaya menahan geram, Bago Go menerima telpon lagi dan dia memisahkan diri, Bagi Gi menghitung gepokan duit, Bagu Gu merangkul pundak Yaya, Baga Ga memainkan ponsel, dan Tom merokok dengan tenang.

Empat juta itu pemerasan.

"Mahal amat. Kebelet naik haji, lo?" Jokertu memprotes.

Reramos menarik bungkusan micin itu, membolak-balikkannya, dan berkata, "aku menyelundupkannya di dalam dakron boneka. Kemarin, beacukai memergokinya, dan meminta uang tutup mulut. Tentu saja, aku menaikkan harganya, karena ada masalah operasional."

Jokertu mengehela napas. Dia mengelus tenggorokannya, dan mengerluarkan suara sesak. Wajahnya memerah. Pandangannya tidak fokus. Dia tidak berhenti mencuri pandang ke bungkusan micin yang dipegang oleh Reramos.

Yaya melepas rangkulan dari Bagu Gu yang kasmaran, dan dia menggeser tubuhnya ke arahku hingga pundak kami bertabrakan. Yaya kemudian berbisik di telingaku dengan sangat pelan dan hati-hati, "aku tidak nyaman. Ayo pergi. Semuanya sudah direkam, 'kan?"

"Tahan sebentar. Aku masih penasaran." Aku mengelak.

Yaya membersut marah. Dia benar-benar tidak kuat menahan muntah, karena love language Bagu Gu rupanya physical touch, sedangkan love language Yaya adalah physical attack. Mereka tidak sinkron.

"Kalau begitu, kutinggalkan kamu saja, supaya kamu diculik si Reramos." Yaya mengancam.

Aku tersentak akan gertakannya. Itu tidak lucu, mengetahui fakta bahwasanya Yayalah satu-satunya penopang keberanianku.

Aku memincingkan mata, dan menyenggol bahunya, menyadarkannya untuk konsisten terhadap misi bela negara ini, meskipun kami harus menjadi ani-ani gadungan penguras saldo rekening. Aku membalas dengan sengit, "gue aduin ke emak lo, kalo lo nyembah setan."

Krak!

Jokertu membanting meja untuk meletakkan kertas persegi panjang bergaris-garis merah di tepian marginnya. Aku dan Yaya terkesiap kaget, makanya kami segera mencari tahu kenapa Jokertu berbuat demikian. Aku menegakkan punggung demi mencari sudut pengelihatan yang lebih baik untuk mengelidiki apa isi kertasnya.

Kertasnya diterbitkan baru hari ini, berlogokan salah satu bank ternama di Asia, memiliki format biodata nasabahnya—tidak lain dan tidak bukan, Jokertu—dan ditandatangani oleh pengurus bank, dan Jokertu sendiri. Tanda tangannya dicap di atas materai.

Kertas cek.

"Aku membeli satu truk." Jokertu mengumumkan.

Aku mengucek mata saat melihat nominal angka yang dia berikan pada Reramos. Orang kaya sembrono sekali, ya?

Aku menatap Jokertu lagi. Aku salah menebak kepribadiannya. Kukira cupu, ternyata reseller narkoboy. Kira-kira, apa tanggapan Beliung jika aku membeberkan hal lain selain terungkapnya kejahatan Reramos? Aku memergoki Bagi Gi mengakui bahwa dia menjual paracetamol dengan cemaran etilen glikol dan dietelen glikol melebihi batas normal yang mampu menyebabkan pengguna asetaminofen itu mengalami kerusakan ginjal berat sampai harus melakoni prosedur cuci sarah. Juga, dalam bacotnya, Bago Go pun mengungkapkan kebohongan dalam bisnis elektroniknya. Bago Go tidak membayar pajak sesuai penghasilan bruto-nya. Di lain pihak, Reramos menunjukkan sifat aslinya. Reramos doyan cewek, padahal katanya dia cowok baik-baik.

Blaze x Reader | Harvest Moon Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang