"Harusnya kapan-kapan, kita merencanakan double date." Yaya menyarankan. Sebagai seorang head coach, ucapan Yaya selalu didengarkan dan dihormati, karena dia pun kredibel, waras, serta bijaksana. Tapi kali ini, aku malas meladeninya. Dia telah dimabuk cinta, dan pandangannya terbutakan. Dia melihat Mahaguru I Love You dimana-mana. Cinta memblokir akal sehatnya, dan menurunkan kesadarannya akan berpikir logis selayaknya manusia.
Aku mengangguk-angguk berlagak setuju—padahal tidak, dan tolong catat itu, "i-i-iya, d-double date."
Lagi lupa sejak kapan seleranya jadi cringe dan di luar nalar? Kenapa tidak tidak mengidolakan idol Kpop, artis drama Thailand, atau public figure yang ganteng-ganteng itu saja? Jatuh cinta pada karakter anime jadi-jadian bahkan lebih baik daripada keadaannya Yaya di masa kini.
Aku membuang pandangan ke arah lain.
Sekarang hari ketigaku di Kuala Lumpur untuk meninjau proses pembangunan rumahnya Blaze, yang dirancang sendiri oleh Blaze. Setelah dilihat, rumahnya ternyata unik, asimetris, sudut kanan dan kirinya tidak sama, tapi sungguh artistik. Entah bagaimana dia mendesainnya, dan aku tidak tahu seperti apa cara Blaze dalam merancangkan balkon berbentuk segitiga sembarang, dimana balkon itu langsung berhadap-hadapan dengan kolam renang—kolam renangnya bukan kolam renang biasa. Kolam renangnya mengelilingi teras halaman belakang rumahnya.
Kolam renang itu dangkal di bagian tepiannya, dan semakin melangkah ke depan, kedalamannya akan bertambah. Kolam renangnya sempurna dibuat dari granit putih, tanpa ada pola lain. Kolam renangnya tidak bulat sempurna, bentuknya justru mirip cangkang siput, karena konturnya tidak sama—ada sebuah tangga menuju ke sentral kolam renangnya. Tangga membelah kolam bak terowongan anti air. Dan tangganya berujung pada bidang bulat berisi satu meja dan empat kursi panjang di sekelilingnya. Bisa dibilang, Blaze mendirikannya untuk kebutuhan estetika. Unik. Dia seperti pemain Minecraft sepuh.
Aku memikirkan keunikan-keunikan rumah itu sambil merenung, karena melamunkan rumahnya Blaze lebih penting daripada mengurusi Yaya.
Aku dibawa Yaya pergi ke pusat perbelanjaan. Dia ingin belanja, katanya. Untuk kencan pertamanya dengan Mahaguru I Love You, atau sebut saja Bagu Gu. Ya, namanya Bagu Gu. Di akta kelahirannya, disebutkan di sana, dia diberikan nama Bagu Gu. Sebutan Mahaguru I Love You hanya nama panggung, dan Bagu Gu tak ingin Yaya memanggilnya dengan nama palsu.
Yaya berada di retail baju yang desainnya Thailand sekali. Rata-rata baju di sini dijual dalam bentuk dress panjang berjumbai, seperti dress yang sering kutemui di toko oleh-oleh wisata pantai. Serta ada begitu banyak blouse. Yaya sedang mentry on salah satu blouse dengan renda-renda di lehernya, dan rok panjang berlapis-lapis. Itu terlihat bagus asalkan Yaya tidak memakainya untuk mengencani om-om berjambul Syahrini.
"Bagaimana pendapatmu?" Tanya Yaya. Aku menoleh padanya, dan pura-pura menilainya. Aku telah mengidentifikasi penampilannya lewat lirikan ekor mata. Aku tak punya sisa keraguan, pilihannya oke, dan tak ada yang salah dengan seleranya. Hanya saja, aku tak dapat menahan ekspresi ketidaksukaan tiap-tiap kali aku mengingat dengan siapa dia akan pergi berkencan nantinya. Entahlah. Aku punya radar—insting liar. Aku sepertinya kurang menyukai Bagu Gu karena aku cemburu. Padahal, aku tidak menyenanginya karena instingku berkata tidak. Radar ini hanya bekerja pada orang lain. Artinya, aku tak bisa memilah calon pacarku sendiri.
Yaya memilih warna-warna netral. Tapi syalnya warna merah muda. Pilihan set pakaiannya bagus. Jadi aku berkata, "bungkus."
Aku berdiri dari kursi tunggu, dan mulai meraba-raba baju yang ada di display. Sejujurnya aku juga tertarik membeli beberapa, karena aku kemari tanpa membawa banyak baju ganti. Aku mencari piyama—sebab piyama terakhirku sudah dirobek habis oleh Blaze. Tapi aku gelap mata, tangan nakalku mencomot blouse sabrina, dan diam-diam memasukannya ke keranjang, seperti orang mencuri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blaze x Reader | Harvest Moon
Fiksi Penggemar|Blaze x Reader| Tadinya aku berpikir, aku hanya akan berkutat di dunia e-sport seumur hidup. Mengurus tim, live streaming setiap hari, sampai dimana aku pensiun karena sudah tua. Tapi nyatanya, kekalahan itu menjadikan aku diistirahatkan, dan untuk...
