- 12

766 107 61
                                        

Karena Maripos tidak mengabari, aku jadi memelihara enam tikus di rumah. Tubuh mereka pendek, kecil, dan ditidurkan berjejer pada ranjang. Karena tidak muat disimpan di satu ranjang, mereka akhirnya memakai dua kamar. Satu kamar berisi tiga tikus, dan mereka tidur menempel, bersimbiosis mutalisme untuk saling mencari kehangatan.

Dan, di pagi hari ini, satu per satu dari mereka bergantian pergi keluar kamar, mencari kejelasan, memburu sarapan.

"Maripos belum membalas pesanmu?" Ice berjongkok di depan kulkas, mengobrak-abrik isinya, mencari sesuatu.

"Belum." Kataku, mengonfirmasi.

Aku sedang memangku Supra. Dia makhluk yang paling pertama bangun, dan pergi ke dapur, mencari aku untuk menanyakan dimana Maripos.

Ice menarik toples kaca yang isinya bubuk berwarna coklat, dan disumbat oleh tutup berbentuk kubah.

"Kasihan." Ice kemudian menyalakan kompor, hendak memanaskan air.

Aku menengok ke bawah, mengecek keadaan Supra. Supra sudah tidur. Padahal sebelumnya, dia bilang dia tidak mengantuk, dan dia mau ditemani duduk-duduk di dapur.

"Tidak apa-apa. Mereka lucu-lucu. Aku suka tamu yang lucu," kataku. Blaze juga suka. Buktinya, dia langsung meminta.

"(Namaaa)," seperti biasanya, Blaze memanggilku heboh. Dia terlihat datang dari arah lorong menuju ruang tamu. Rambutnya basah karena dia baru saja mandi, dan dia tidak mengeringkannya dengan benar. Bulir air masih menempel di ujung-ujung rambutnya.

Penampilannya rapi. Dia hendak pergi bekerja. Katanya, dia ditelpon oleh koleganya di proyek itu, dan dia disuruh datang untuk merevisi beberapa hal. Blaze banyak bicara. Dia menjelaskan semua detail pekerjaannya, dan masalah apa yang sesungguhnya lumayan menyebalkan baginya. Katanya, arsitek selalu bersitegang dengan orang dari divisi teknik sipil. Arsitek bertugas merancang segala-galanya di muka, merevisinya apabila kliennya punya saran atau masukan, merilis cetak birunya—arsitek kadang berimajinasi seenaknya, tanpa mempedulikan gaya gravitasi, hukum-hukum alam, dan bagaimana bangunannya akan dibuat.

Sedangkan orang teknik sipil, pekerja lapangan yang secara matematis memperhitungkan dan merealisasikan desainnya, seringkali menemukan ketidakmasukakalan-ketidakmasukakalan fisika pada desain asal-asalannya si arsitek. Arsitek tak bertugas memikirkan apakah bangunannya bisa berdiri atau tidak. Arsitek hanya menggambar desain semegah-megahnya, tanpa sudi mempertimbangkan aspek matematika, fisika, dan geografinya. Cuih, peduli amat, begitu kata Blaze.

Namun divisi teknik sipil di proyeknya Blaze nampaknya sedang tantrum, makanya mereka menelpon Blaze dan memintanya berdiskusi. Sayang sekali. Padahal asyik kalau Blaze di rumah, berhubung rumah kami sedang didatangi enam tikus-tikus kecil.

Blaze tiba di dapur. Dia segera menarik salah satu kursi, dan duduk di sebrangku.

"Hari ini aku menerima surat undangan ke acara grand opening kawasan hutan buatan yang di dalamnya, dibangun resor. Beberapa temanku, baik dari agensi pembangunan pemerintah atau swasta, turut andil dalam pembangunannya. Jadi aku ikut-ikutan diminta datang. Pun, pemimpin proyek jalan tol di sebelahnya rumah kakekmu, Tom, juga akan hadir di sana." Blaze bercerita panjang lebar. "Kuharap kamu bisa menemani. Lokasinya tidak terlalu jauh dari desa. Tak harus menginap, jangan khawatir."

"Tapi," aku mengelak. Aku meletakkan daguku di atas kepalanya Supra, dan menoleh pada Sopan yang sibuk menonton kartun di tabletnya. Aku tidak begitu paham soal kartun-kartunan. Aku tidak tahu judulnya, tapi kartun itu bertokoh utama anak TK botak plontos, kembar dua. "Aku tak terbiasa menghadiri acara resmi begitu."

Padahal tentu aku akan ikut. Aku takut Blaze selingkuh di sana. Dan aku juga mau menyelidiki soal proyek lima tahun lalu, bertanya pada seseorang dari jejeran kenalannya Blaze, kenapa Bago Go diganti oleh orang lain?

Blaze x Reader | Harvest Moon Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang