Barusan, aku ikut kerja bakti, membereskan alun-alun setelah festival masaknya selesai.
Tidak semua penduduk ikut. Sifatnya juga tidak wajib. Tapi kalau aku tidak ikut serta, aku pasti kentara memperlihatkan kesedihanku, karena aku kalah telak melawan kontestan masak lain, dan berakhir menangis pada Yaya melalui telpon. Mana pula waktu itu, koneksi internetnya jelek, jadi Yaya mengomeli aku, menyuruh aku membeli provider internet lain, atau memasang WiFi di rumah. Kadang kala, orang itu menyebalkan. Dia pasti tidak tahu, tidak ada agensi WiFi yang merambah kawasan susah sinyal. Wejangannya juga tidak masuk akal. Yaya justru memintaku kembali ke Kuala Lumpur, dan berlibur ke Adventure Waterpark Desaru Coast saja, meluncur di atas perosotan, berenang di kolam dangkal, dan main kora-kora.
Dia memerintahkan aku rehat satu season, dan ketika aku menangisi cookies itu, dia malah menyarankan aku kembali, bukannya menasehati aku, seperti selalu.
"Atau, pergi saja ke sauna—" kata Yaya. Tapi aku keburu mematikan sambungan telponnya sepihak. Sarannya tidak berguna. Aku kepalang memperkenalkan diriku sebagai penerus Kakek di lingkungan ini. Kalau aku pergi tiba-tiba, warga desa bakalan berspekulasi aneh-aneh, menciptakan teori konspirasi yang mana mengatakan bahwa aku menyerah pada pertaniannya, dan kabur dari rumah Kakek untuk menahan malu.
"Dasar," aku memaki-maki Yaya. "Padahal aku belajar masak cookies dari dia. Ilmunya kurang mandraguna!"
Aku memasukkan ponsel itu ke saku celana, dan fokus memerhatikan jalan berkeramik yang di sisi kanan dan kirinya dikelilingi oleh savana rumput, pohon rimbun, bukit, dan ada pun bangunan klinik di pelupuk mataku.
Aku baru saja membuang sampah ke dermaga, supaya sampah-sampah itu bisa diakumulasikan, dan dimobilisasikan oleh Adu Du ke kapal pengangkut sampah daur ulang di luar kota. Pada perjalanan pulang, tentu aku bisa menemukan kliniknya Halilintar, rumah Taufan dan Ying yang bertetangga, penginapan Gopal, baru aku akan sampai ke perkebunan Kakek.
Klinik itu punya satu pohon. Akarnya mencuat keluar dari tanah, umurnya lebih tua dari kakeknya Halilintar, dan kliniknya dipagari oleh pagar pendek. Pagarnya tidak memblokir pengelihatanku. Kliniknya tetap terekspos dari luar, apalagi plang namanya.
Darisini, aku bisa memandang ke arah halaman klinik. Kurasa itu Halilintar. Dia sedang berdiri dan menginspeksi rumput-rumput manis di pekarangan kliniknya, seolah mencari sesuatu. Dia pergi masuk ke klinik, dan keluar dengan gergaji mesin di tangannya. Awalnya aku pikir, dia menilai, dia perlu memotong pohon itu. Tapi ternyata tidak.
Aku mendekat, karena kesanalah jalan ini mengarah, sambil menonton gelagat mencurigakan Halilintar.
Halilintar berjongkok, lalu dia menyalakan gergaji mesinnya. Suara bising dari mesin favoritnya psikopat di film genre gore itu menyamarkan derap tapak kakiku, sehingga aku tidak perlu khawatir, Halilintar mengetahui keberadaanku.
Halilintar mengarahkan gergaji mesinnya secara horizontal, tapi agak menyerong ke atas. Aku tidak percaya, dia rupanya sedang memotong rumput liar. Rumputnya tidak besar. Rumput itu berjenis ilalang, dan memiliki bunga kemoceng yang gampang hancur bila ditiup angin. Jumlahnya tidak banyak.
Aku meneguk ludah, bertanya-tanya kenapa Halilintar memakai gergaji rumput, saat aku melihat, gunting rumput bertengger di tembok depan kliniknya. Bahkan gunting kertas origami jauh lebih masuk akal untuk memotong ilalang lunak semacam itu ketimbang gergaji mesin. Aku juga kaget, dia menyimpan gergaji mesin. Mengapa dia membeli gergaji mesin? Dalam rangka apa? Sekarang aku tahu kenapa anak sepemberani Supra takut disunat Halilintar.
Nada dering ponselku menginterupsi langkah-langkahku. Aku spontan bergidik ngeri, karena deringnya lumayan kencang, dan Halilintar dapat mendengarnya.
Ponsel itu berbunyi ketika aku berada di tengah-tengah pagar kliniknya Halilintar. Dan aku makin mau muntah saat suara gergaji mesinnya berhenti. Setelah itu, Halilintar nampaknya sadar, aku ada di dekatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blaze x Reader | Harvest Moon
Fanfiction|Blaze x Reader| Tadinya aku berpikir, aku hanya akan berkutat di dunia e-sport seumur hidup. Mengurus tim, live streaming setiap hari, sampai dimana aku pensiun karena sudah tua. Tapi nyatanya, kekalahan itu menjadikan aku diistirahatkan, dan untuk...
