Ada beberapa hal yang aku tangkap dari perjalanan tur kemarin.
Yaitu, desa ini benar-benar sepi penduduk, penduduknya saling kenal, dan pernyataan itu tidak dilebih-lebihkan, atau pun diromantisasi. Benar kata Retak'ka. Cepat atau lambat, sepertinya aku akan berkenalan dengan semua penduduk, karena aku sudah bertemu setengah dari populasinya.
Aku menikmati hari ketiga tanpa game. Rasanya aneh. Saraf tanganku terbiasa mengendalikan jariku untuk freetsyle di turret musuh. Tapi sekarang aku malah beres-beres. Iya. Aku menyapu seisi rumah, dan membersihkan setiap sarang laba-laba pada furnitur tuanya. Aku bahkan membongkar lemari pajangan di ruang tamu itu, dan mengelap kerajinan-kerajinan koleksinya Nenek dengan kenebo basah.
Ketika pagi, hujan turun lagi. Jadi aku tidak berencana mengurus teras rumah dan merapikan pot gantung-pot gantung di klasiboard yang tanamannya rata-rata sudah mengering karena tak tersentuh air hujan selama bertahun-tahun lamanya. Aku hanya memperlayak rumah Kakek, agar tetangga tidak bergosip, dan aku bisa tidur dengan lebih nyaman, tanpa menghirup udara apek, dan berbaring di atas sarang tungau.
Untungnya rumah ini layak ditinggali. Pemilik sebelumnya apik menjaga agar perabotnya awet dipakai. Bahkan katel penggorengan punyanya Nenek pantatnya tidak gosong, karena Nenek pandai mencucinya dengan abu gosok dan baking soda. Sofa-sofanya bagus. Tidak kotor, namun debu di lapisan sarung bantalnya tebal. Kamar-kamarnya rapi. Barang Kakek dan Nenek tertata, tidak berserakan, dan masihlah cantik-cantik.
Di kamar Kakek, aku menemukan peti berisi barang lama. Seperti kaleng biskuit yang mereknya tak lagi berproduksi, semir rambut jadul, seikat koran terbitan lama, dan beberapa gaun katun peninggalan Nenek semasa remaja—gaun itu kebanyakan warnanya putih, kancingnya besar dan berulik mutiara atau manik-manik menyerupai berlian transparan, panjangnya selutut, rendanya cukup lebay tapi estetikanya tinggi, dan berkerah kelasi.
Nenek juga mengumpulkan cangkang kerang di kotak perhiasan. Kotak perhiasan dengan ukiran bak candi itu bukannya berisi emas, namun cangkang kerang, seutas paracor, dan pernak-pernik lain. Rupanya Nenek menjadikan cangkang kerangnya sebagai aksesori; sebagian dibuatnya ke bentuk kalung, dan sisanya gelang.
Apa pantai di dekat toko kuenya Gempa itu, menyimpan banyak kerang-kerangan? Kapan-kapan, aku harus kesana dan memeriksa.
Aku sungkan dengan rumah singgah ini. Aku selalu merasa, aku tidak akan kuat bertahan tanpa media sosial, WiFi, MPL, game gacha—judi, game MOBA yang selama ini memberikan aku pundi-pundi uang, dan kamar dimana lightingnya dibuat redup, dan aku bisa leluasa main game-game FPS atau game untuk Playstastion di komputer bermonitor tiga, dan CPU jedag-jedug.
Ini terlalu jauh berbeda, dan ketika aku mengonsultasikan keluhanku pada Yaya, Yaya justru memarahi aku. Yaya bilang, kebiasaanku buruk sekali, dan liburan harusnya terasa menyenangkan, bukan menyiksa begini.
Aku agak keki karena Retak'ka mulutnya ember, sehingga orang-orang desa menganggapku penerus Kakek. Liburanku sudah berantakan, dan karena stigma itu terbentuk, liburannya makin berantakan.
Akhirnya, aku merenungi segalanya sambil menyelesaikan pekerjaanku, hingga lebatnya hujan mulai mereda. Rintik-rintik air setia mendera genteng tanah liat di atas sana, menghasilkan bunyi-bunyian renyah yang cocok didengarkan kalau mau tidur siang.
Setelah dirasa cukup bersih, aku membuang bekas air pel ke area belakang rumah, di dekat dapur.
Rumah Kakek tidak besar. Barangnya sedikit dan retro-retro. Rumah ini berteras lebar. Pintu masuknya dipermanis oleh guci dengan bunga imitasi. Set sofanya terbuat dari anyaman rotan, dan diletakkan di depan lemari besar untuk memajang barang kriya tangan. Ada dua lukisan di sana, satunya lukisan kapal USS Arizona di tengah laut Pearl Harbor, dan lukisan beraliran menyerupai karya-karya Syed Mohd Amin Hashim. Ruang tengah—ruang menonton televisi—dan ruang tamu dipisahkan oleh lorong kecil, yang pada lorong itu, ada pintu dua menuju kamar, dan satu pintu ke dapur. Dapurnya menempel ke kamar mandi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blaze x Reader | Harvest Moon
Fiksyen Peminat|Blaze x Reader| Tadinya aku berpikir, aku hanya akan berkutat di dunia e-sport seumur hidup. Mengurus tim, live streaming setiap hari, sampai dimana aku pensiun karena sudah tua. Tapi nyatanya, kekalahan itu menjadikan aku diistirahatkan, dan untuk...
