Kunyit tumbuh lebih cepat daripada jahe, pasarnya ramai akan permintaan pembeli, dan perawatannya mudah. Fang menunjukkan padaku cara mengembang-biakkan kunyit dari umbinya—dia menyimpannya di wadah berair, membiarkannya mengeluarkan tunas, dan kemudian baru menanamnya di lempung berpasir. Dan, kata Fang, rimpangnya akan menjadi sempurna apabila kunyit-kunyit itu dipanen pada usia delapan bulan.
"Kamu akan membeli?" Tanya Fang sekali lagi, memastikan.
"Aku butuh personal branding, Fang." Aku berkacak pinggang, dan mengedarkan pandang pada sekitar kebunnya Kaizo. Kebun Kaizo tersentralisasi pada rumah manis di tengah-tengah ladang wortel, barisan tanaman teh yang pucuknya telah digunduli, kubis, barn berisi sapi, kambing, serta ayam di sekat terpisah, dan beberapa tanaman pada rak. "Aku harus memperbanyak spesies tanamanku, supaya jika turis melihat ke halaman perkebunanku, mereka akan melipir untuk berkunjung, atau sekadar melihat-lihat."
"Kalau kunyit, okelah, aku setuju," Fang mengendikkan bahu, nampak tak setuju, "tapi tabulampot[1] sulit dipertahankan kesuburannya, karena nutrisi tanaman pot itu terbatas. Hasil panennya juga sedikit. Ibarat kata, tanaman anggur berumur satu tahun di ladang biasa dapat menghasilkan setidaknya 100 dompolan buah sekali panen. Namun, sistem tabulampot berdiameter 60 senti meter bermodelkan halte hanya akan berbuah 10 dompolan per sekali panen. Apa cukup menguntungkan bagimu?"
Kelebihan tabulampot terletak pada seni dan hemat lahan. Dan petani dengan properti lahan seluas mata memandang seperti aku seharfiahnya tidak memakai teknik berhemat-hemat tanah begitu. Hasil panennya bakalan menjadikan aku merugi.
"Tanaman tabulampot lucu-lucu, tahu." Kataku, membela diri. "Benar, mereka tidak akan menguntungkan dari segi komoditas panen. Tapi, Fang, bentuknya lucu, dan di sanalah nilai jualnya. Aku tidak berniat memasarkan buahnya, atau apapun yang nanti dihasilkan oleh tanaman tabulampotnya, melainkan tabulampot itu sendiri."
"Ada banyak orang yang suka mengoleksi benda lucu, seperti sukulen," aku menambahkan. Tanganku meraih jejeran kunyit yang daunnya lebar, kasar, dan tumbuh langsung di tanah pada sepetak lahan dari perkebunannya Kaizo dan Fang. Curcuma longa—kunyit—dipakai sebagai rempah-rempah di Asia Tenggara, laku kalau diperdagangkan secara grosir oleh tengkulak pelabuhan, dan kadang tumbuh secara liar di halaman belakang rumah orang. Aku berniat menambah varietas kebunku dengan membeli beberapa ikat tanaman kunyit sebelum membudidayakannya pelan-pelan, meski aku membutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya.
Dalam ilmu botani, tidak ada yang instan. Tapi karena aku pun mempertimbangkan estetika kebunku, aku jadi akan membeli umbi mentahnya, dan sekaligus tanaman cantiknya. Kebunku diisi oleh segelintir tanaman yang masih terpendam di tanah dalam wujud benih, umbi, dan belum berbentuk kecambah. Mereka baru-baru ini ditanam, dan tak menyuguhkan nilai seni pada lahan kosongku.
Perkebunanku itu tidak ada apa-apanya kecuali gundukan tanah dimana aku menanam bibit tanaman, tanah rata di sekitarnya, dan sudut tanah berhiaskan sukulen. Mengerikan. Tanahku tak terlihat seperti tanah petani yang produktif.
"Ah, begitu, ya. Kalau kamu bersikeras, aku akan mengurus pesananmu. Nanti sore, semuanya akan di antar ke perkebunanmu dengan mobil bak." Fang mengonfirmasi. "Kamu ingin hal lain?"
"Aku mau tanya." Kataku. Aku melirik ke kebun teh yang berdiri dalam naungan kanopi solarflat, dan terdiri dari lima jejer tanaman. "Teh. Kamu punya teh. Kamu memproduksi teh?"
Fang mengangguk, "teh tidak sulit dibuat. Asalkan kamu punya pohonnya, kamu bisa mengolah tehnya sendiri. Biaya produksinya tidak mahal. Itu home industry, kamu tahu."
Fang melangkah menjauh dariku, menuju tanaman tehnya. Kanopi itu bisa dibuka sewaktu-waktu, karena tanaman teh butuh berfotosintesis, dan tanaman teh pun dapat bertahan di suhu tropis. Karena penasaran, aku mengikuti kemana Fang pergi, mencari tahu seperti apa bentuknya pohon teh dengan langsung mengobservasinya dari dekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blaze x Reader | Harvest Moon
Fanfiction|Blaze x Reader| Tadinya aku berpikir, aku hanya akan berkutat di dunia e-sport seumur hidup. Mengurus tim, live streaming setiap hari, sampai dimana aku pensiun karena sudah tua. Tapi nyatanya, kekalahan itu menjadikan aku diistirahatkan, dan untuk...
