- 11

781 114 37
                                        

Maripos harus pergi ke luar kota, untuk mengurusi satu dan lain hal.

Oleh karena itu, Maripos menitipkan anak-anak panti padaku. Bukan masalah besar. Aku memang secara sukarela menerima permintaan tolongnya. Berhubung aku sudah banyak dibantu oleh warga lain, sebagai timbal baliknya, aku mau-mau saja direpotkan, walau hari ini, aku berencana untuk menambah varian tanaman di kebun.

Aku sudah menyiapkan benih kol, kacang tanah, kunyit segar, dan kancang panjang. Semuanya tersegel rapi di bungkus plastik. Kali ini aku membelinya dari Ying dengan harga diskon.

Anak-anak itu pasti senang kalau diajak berkebun. Tapi aku takut mereka mengacau. Aku tidak bisa membersihkan tubuh enam orang anak yang belepotan tanah, dan harus mencuci bajunya dengan puluhan kali gesekan sikat. Jadi, di subuh hari ini, aku mulai menanam benih-benihnya sendirian. Agar ketika fajar tiba, aku sudah siap untuk menyambut bocilnya Maripos.

Menancapkan benih ke tanah yang telah digarap tidak sulit. Justru membentuk reliefnya jauh memakan waktu lebih lama. Tapi untungnya, semuanya selesai tepat waktu.

Rumah Kakek dikelilingi oleh lahan besar di halaman depannya, berbatasan pada tanah yang menjorok ke bawah menuju lokasi proyek jalan tol di sebelah kanannya, bertetangga dengan aliran sungai di sebelah kirinya, dan mengedepani sebuah lahan besar berisi seunit kastel—bekas benteng pertahanan Inggris.

Hal paling hancur yang merusak pemandangan mata terletak pada halaman depannya—perkebunan itu. Ditinggalkan selama lima tahun menjadikan tanah-tanah pertanian milik Kakek melumer karena melalui banyaknya siklus hujan, bekas peristiwa longsor kecil-kecilan pun menyebabkan adanya gundukan tanah tak beraturan. Belum lagi, badai membawa batu besar ke sebagian besar lahannya serta merobohkan pohon berumur puluhan tahun. Semua terlihat makin parah akibat tumbuhnya ilalang berbunga kemoceng, rumput liar bercampur tanaman putri malu, dan flora benalu di sisa-sisa pohon merantinya.

Kurang lebih, alat berat yang waktu itu dibawa oleh Blaze dan pasukannya telah meratakan bidang pertaniannya, mendongkel sejumlah keluar akar pohon di spot-spot menanam. Aku pun bekerja secara manual untuk memindahkan batu-batu metamorf kecil hadiah dari badai-badai musiman masa lampau. Semua rumput liar, tumbuhan epifit—kecuali tanduk rusa pada satu-satunya pohon mangga di kebun—telah aku cicil untuk dibabat.

Aku mulai produktif dengan menciptakan sudut halaman penuh sukulen-sukulen cantik, mengembang-biakkannya untuk dijual. Dan aku menuruti saran Kaizo. Aku berhasil menanam kentang walau masa panennya lumayan lama—kentang relatif laku di pasar, dan komoditasnya tidak mudah busuk apabila didistribusikan keluar desa, jadi, meski ada banyak pilihan sayuran dengan waktu panen lebih pendek, Kaizo tetap menyuruhku memilih kentang saja.

Karena perputaran uang telah terjadi dari penjualan sukulen itu, aku memanfaatkan profitnya untuk membeli benih tomat dan menyusun kerangka media tanamnya. Tomat ditanam di tanah mentah, tapi dia memerlukan kerucut bambu agar daunnya bisa menjalar. Dan segera setelah aku menikahi salah satu anaknya Panglima Pyrapi, aku pikir aku bisa mengekspansi bisnis tanaman-tanamanku lebih jauh; aku tidak takut bangkrut.

Dan di sinilah aku, bergelut dengan benih benih kol, kacang tanah, kunyit segar, dan kancang panjang, memproses semua benihnya satu per satu, dan menyiapkan penutrisinya saat mentari belum muncul di antara awan-awan.

Ketika subuh hari tiba, aku sudah selesai bekerja. Aku mencuci tangan, dan mandi.

Tak lama kemudian, Maripos datang. Dia mengetuk pintu rumahku, dan hadir dengan muka berikeringat dingin.

"Aku akan pulang larut malam," seperti orang kebelet pipis, Maripos menjelaskan. Hari ini, dia tampak lebih rapi. Dia membawa koper tangan, memakai mantel hangat, kemeja berkerah formal, dasi garis-garis, dan topi berhiaskan bulu angsa. Dia bolak-balik melihat ke arah arloji emas di pergelangan tangannya, sambil merapikan keenam anak panti yang semuanya memikul ransel itu.

Blaze x Reader | Harvest Moon Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang