Aku tidak terbiasa tidur di kasur busa. Tapi semua kasur di rumah Kakek terbuat dari busa. Belum lagi, sarung bantal dan gulingnya motifnya norak dan ketinggalan zaman.
Setidaknya aku masih bisa tidur nyenyak walau mimpiku aneh. Aku mimpi dilamar ayam, dan aku menerimanya karena sejumlah pertimbangan.
Aku mengerang sakit, karena pinggangku linu. Aku terlalu banyak mencangkul. Atau sebabnya bisa diasumsikan berasal dari penuaan dini. Aku kurang kalsium karena jarang berpanas-panasan di bawah teriknya mentari. Bagaimana tidak? Aku bekerja di dalam ruangan, jadi keseharianku tidak sehat.
Sembari memikirkan kesehatan tulangku, aku melamun, menatap langit-langit kamar yang kondisinya agak kusam. Aku tidak tahu kenapa sulit sekali rasanya bangkit dari kasur, dan memulai hari, kecuali jika aku punya alasan hidup. Hari ini, aku seharusnya mencicil untuk merapikan ladang, seperti minggu-minggu belakangan.
Di minggu pertama, aku merapikan rumah, dan menyapu sampah-sampah kering, seperti beri-beri yang jatuh dari semak, dan berserakan, atau daun kering dari pohon-pohon di ladang. Setelah sampah-sampah pengganggu kecil berhasil disingkirkan, aku baru memotong ilalang, dan mengangkut batuan metamorf supaya ladangnya bisa digarap. Batu berukuran sedang dapat kutendang menuju jurang, hingga batunya menggelinding dan jatuh ke lokasi proyeknya Blaze. Tapi batu besar akibat badai tak bisa aku apa-apakan. Batu besar semacam itu mesti dipukul dulu hingga retak, dan pecah, baru bongkahan-bongkahannya bisa dipindahkan.
Aku punya palu. Martil. Tapi palunya copot dari gagangnya, dan kondisinya sudah tidak layak. Jadi aku tidak bisa memanfaatkannya untuk menggerus batu, kecuali aku membeli martil baru dari tokonya Kuputeri dan Taufan.
Aku bingung setengah mati, memikirkan batu besar perusak estetika di ladang kakek, yang tidak bisa aku pindahkan sama sekali, karena aku hanya analyst Mobile Legends yang sehari-harinya sibuk live streaming, push rank, menonton pertandingan MPL negara lain, dan menghadiri stage ketika timku bertanding.
Tenagaku tidak banyak, energiku cepat habis, kemampuanku tidak mumpuni. Makanya aku bete luar biasa.
Sejurus kemudian, aku mendengar gedebuk pelan dari luar rumah. Kurasa ada buah mangga madu yang jatuh ke tanah lagi. Buah yang jatuh biasanya sudah buruk, dan penuh luka karena digerogoti codet brengsek, jadi aku jelas tidak diuntungkan dalam fenomena ini.
Aku melenguh malas, kemudian menyibak selimut nyamanku, dan bangun dari kasur, atas semangat untuk menyeduh teh dari Filipina di pagi hari. Teh itu harganya lima puluh ribuan per boksnya, isinya ada banyak, rasanya macam-macam padahal tidak jauh berbeda kalau sudah diseduh air panas—hanya lemonlah yang menguarkan rasa kecut lebih banyak, dan perbedaannya cukup kentara dari teh-teh manis murni lainnya—dan dikemas dalam bungkusan plastik, selayaknya permen.
Tehnya tidak begitu enak, tidak sampai aku harus repeat order. Tapi aromanya menyegarkan, dan mengingatkan aku pada game gouse yang selalu menyetok teh Filipina untuk roster-roster dan tim belakang panggungnya. Itu karena CEO agensi e-sport kami menikah dengan wanita Filipina. Jadi selalu ada teh, buko pie dan asinan mangga di dapur game house.
Motivasi terbesarku untuk tetap hidup dan bangun dari kasur pagi ini, yaitu teh Filipina, persediaannya hampir habis. Artinya aku perlu menahan diri untuk tidak meminumnya, membeli secara online tapi harus pre-order, atau kembali ke Kuala Lumpur hanya untuk teh tidak jelas.
Aku mendengus pelan sambil menyalakan kompor. Apinya biru. Kualitas kompornya masihlah bagus. Aku menyimpan panci rebusan air di atas kompornya, menunggu airnya memuntahkan gelembung-gelembung pendidihan.
Setelah selesai, aku menyeduh airnya ke mug, dan duduk-duduk di ruang televisi, sambil merenungi hidup. Apa yang bisa aku katakan? Hidupku akhir-akhir ini sungguh berbeda, dan berat rasanya untuk tidak berkeluh kesah. Biasanya pagi-pagi begini, aku akan menyentuh keyboard, log in ke game FPS sampai larut malam, menikmati dunia virtual, tanpa keluar dari kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blaze x Reader | Harvest Moon
Fanfiction|Blaze x Reader| Tadinya aku berpikir, aku hanya akan berkutat di dunia e-sport seumur hidup. Mengurus tim, live streaming setiap hari, sampai dimana aku pensiun karena sudah tua. Tapi nyatanya, kekalahan itu menjadikan aku diistirahatkan, dan untuk...
