Tanaman sekulen itu ternyata tumbuh liar di belakang rumahku. Organnya menebal, berdaging, dan membengkak biasanya untuk menyimpan air di iklim atau kondisi tanah kering, mereka tumbuh bergerombol, dan berbentuk sangat cantik. Kurang lebih, dagingnya mirip dengan struktur lidah buaya.
Aku sempat melihat orang di Kuala Lumpur yang juga berjualan sukulen, di toko bunga punyanya ibu-ibu pecinta holtikultura. Tanaman ini banyak diminati sebagaimana kaktus mini. Dan ketika dipasarkan, umumnya mereka dikemas dalam pot kecil-kecil, dan bentuknya macam-macam. Nyatanya, sukulen tumbuh secara tak terbatas di belakang rumahku, karena sukulen bisa berdaptasi pada musim kekeringan, atau pancaroba.
Fang membantuku memunguti sukulennya dengan mencungkil gundukan tanah itu memanfaatkan sudip kayu, kemudian menyimpannya ke kaleng belas kastengel keju.
"Ini bentuknya mirip bunga mawar. Tapi struktur kelopaknya berdaging tebal, isinya air, dan warna tepalnya pink." Aku berkomentar pada sukulen yang baru saja aku ambil. Aku memandanginya berulang-ulang, meyakini bahwa sukulen itu perlu diapresiasi dengan dipandangi berkali-kali.
"Sukulen dapat ditemukan di setiap benua, kecuali Antartika. Dia bukan tumbuhan langka." Fang memasukkan satu lagi sukulen ke wadah kalengnya, menjejalkannya di antara sukulen berwujud mirip kepala nanas, sukulen aloe polyphylla, sukulen lidah buaya imut kecil nan lucu, Burro's Tail dan lusinan sukulen kaktus. Wadah kaleng itu diisi oleh tanah, untuk menyimpan dan memobilisasikan sukulen-sukulen kami ke media tanam lain, dan kini wadah kalengnya telah penuh. Sukulen layak dijual, tapi di desa ini, tidak ada target pasarnya. Aku hanya memanen sukulen liar karena Fang bilang, sudut perkebunan yang sudah aku rapikan, akan bagus bila ditanami tumbuhan imut, mungil, dan manis, seperti sukulen.
Sudut rapi itu dipagari seperti sudut siku-siku oleh batu bata merah yang disatu-satukan dengan semen, tingginya sedengkul, dan hanya berdiri sepanjang seratus senti meter saja di setiap bentangannya. Dan di tengah-tengah sudut sembilan puluh derajat pada temboknya, aku menggunduk tanah, hasil mencangkul dan membenahi kontur kebun di sisi lainnya. Bisa dikatakan, aku membuang semua kelebihan tanah ke tembok itu. Tapi karena Fang orangnya kreatif sekali, dia malah mengusulkan untuk menanami gunungan kecil tanahnya dengan sukulen-sukulen cantik.
Akhirnya, Fang membawa wadah kalengnya ke halaman depan rumahku, sedangkan aku hanya memeluk-meluk sukulen warna merah muda—ini spesial, karena sukulen lain rata-rata warnanya hijau, atau kuning kehijauan! Aku memboyong sukulen favoritku, dan aku berencana untuk menancapkannya di sentral formasi sukulen-sukulen itu. Kata Fang, namanya sekulen echeveria, merupakan genus besar tanaman berbunga dalam keluarga Crassulaceae, kadang warnanya hijau murni, atau seringkali ditemukan memiliki semburat merah muda di ujung tepalnya, atau berwarna merah muda sepenuhnya. Sekulenku komplit berwarna merah muda, gemuk, bentuk besarnya menyerupai kembang kol mekar-merekah, tapi tetap menggemaskan.
"Aku sangat berterimakasih, sungguh," kataku, ketika Fang mendaratkan wadah kalengnya ke tanah, dan mulai menanami sukulen-sukulennya ke gundukan tanah. Rasanya seperti sedang menghias dasar akuarium dengan terumbu karang, batu karang, batu serpih aquascape, onyx, dragon stone, alga-alga sintetis, dan anemon tiruan dari karet.
"Percaya atau tidak," Fang menjungkit sekop kecilnya, menciptakan ruang untuk umbi di bawah tanaman sekulen agar bisa menyerap air sebanyak-banyaknya dari unsur hara tanah. "Kami terbisa saling membantu. Kemarin, karena aku luang, aku pergi ke panti asuhan untuk mengajak anak-anak panti itu memanen di kebun Abang. Tapi sebagai timbal baliknya, aku pun sering ditolong warga lain. Contohnya, saat panen raya, banyak yang datang membantu, bahkan Retak'ka."
Tradisi itu rupanya cukup populer di desa. Bantu-membantu. Aku tidak terlalu terbiasa membantu orang. Di apartemen atau rumah susun, aku jarang berkomunikasi dengan tetanggaku. Kenal wajahnya pun tidak. Aku cuma tahu gosip yang mengatakan bahwa payudaranya tetanggaku kendur karena operasi pengeluaran silikon, dan dia sempat menjadi simpanan bos tambang di Kalimantan. Kami tidak punya susunan organisasi; aku tidak tahu siapa ketua rusunnya, siapa penanggungjawab kebersihannya, siapa pemungut kas untuk patungan air torennya, siapa hansipnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blaze x Reader | Harvest Moon
Fanfiction|Blaze x Reader| Tadinya aku berpikir, aku hanya akan berkutat di dunia e-sport seumur hidup. Mengurus tim, live streaming setiap hari, sampai dimana aku pensiun karena sudah tua. Tapi nyatanya, kekalahan itu menjadikan aku diistirahatkan, dan untuk...
