Majalah. Lama tidak membacanya. Majalah bukan lagi hal yang aku koleksi seperti sewaktu masa SD dulu.
Berhubung aku menemukan banyak majalah di gudangnya Laksamana Pyrapi, aku jadi iseng menelaah apa isinya. Tumpukan majalah itu disimpan di atas kardus bekas packaging oven listrik. Dari penampilannya, kurasa majalahnya kurang menarik.
Aku biasanya menemukan majalah anak-anak, majalah dengan cover girl Ariana Grande, atau majalah berkedok katalog Tupperware, dan semuanya dibuat berwarna-warni, supaya visualnya eye-catching bagi si pembeli. Tapi majalah yang kutemukan di gudang agaknya sedikit berbeda. Sampul majalahnya tak dirancang bombastis, fontnya membosankan seperti font skripsi orang, dan tata letak gambarnya begitu-begitu saja. Monoton.
Setelah menyelidiki isinya, aku baru tahu ternyata itu majalah musik klasik. Para penggemar musik klasik era Medieval membentuk perserikatan hobi, dan mereka menerbitkan majalah. Mereka merangkum informasi tentang berita para musisi, lokasi lomba orkestra, hingga mencantumkan nama-nama pemenang audisi musikal di televisi.
Karena sedang bosan, aku punya waktu untuk membaca sedikit banyak mengenai suasana geopolitik musisi-musisi klasik di Malaysia. Mereka memainkan ulang lagu dari tokoh-tokoh besar seperti Mozart, Bach, Beethoven, dan Haydn, sedikit menggubahnya, dan menampilkan permainan instrumennya di atas panggung. Semua profil pemain musiknya diperkenalkan di setiap majalah mingguan, sesuai pada giliran tampilnya di Malaysian Philharmonic Orchestra Gerard Salonga.
Karena majalahnya banyak diisi oleh gambar dan elemen-elemen grafis menarik, tidak seperti covernya yang memuakkan kalau dilihat lama-lama, aku jadi betah membacanya selama kurang lebih tiga puluh menit. Aku bukan kritikus musik, pemain musik, atau ahli musik. Aku tidak mengerti komposisi musik, namun aku bisa menikmatinya dengan indera—aku tidak memahami musik secara konseptual, aku hanya mengpresiasinya, dan merasa tertarik pada paragraf-paragraf di majalahnya.
Beberapa intermezo menginterupsi info-info penting pada majalahnya. Isinya kadang menarik, dan orang awam seperti aku tentu saja tak bisa mengkhayatinya.
Aku telah menuntaskan tiga majalah untuk diselesaikan. Bukan perkara sulit, karena majalahnya terdiri dari banyaknya gambar-gambar cantik, dan sedikit narasi informatif. Aku sungguh tertarik pada audisi yang ditampilkan di majalah. Para kontestannya rupanya orang terkenal, dan aku memergoki kehadiran mereka di turnamen e-sport sebagai penonton di cat paling depan; tak jarang aku menemukan artis, Brand Ambassador produk lokal, reviewer makanan, dan sosok-sosok terkenal lain di tribun turnamen e-sport. Namun, aku tetap tidak menyangka, manusia eksotik berselera musik tinggi ternyata juga menyukai e-sport dan menjadi supporter di salah satu agensi kami.
Saat aku menarik halaman terakhir, aku menjumpai wajah Ice dipotret oleh media. Dia ditangkap kamera dalam posisi sedang memainkan piano. Pakaiannya formal, sopan, dan ritualistis. Jarinya menekan tuts piano. Dia duduk menyamping dari penontonnya. Lightning panggung menyorotnya secara tunggal. Dia sentral dari keramaian studio.
Aku mengulas senyum. Aku tidak mengira, karir Ice melaju sebaik itu. Kupikir dia guru musik biasa di desa, tapi rupanya, dia melebihi espektasiku. Dalam marka sebuah kompetisi nasional, Ice tampil di Auditorium Dewan Bandaraya Kuala Lumpur. Itu sejenis lomba bermusik tunggal. Alat musik yang dipakai cukup beragam. Tapi Ice memilih memainkan piano. Aku hanya melihat gambar tidak bergerak. Tapi gambarnya seolah menyimpan betapa indahnya permainan piano Ice. Aku tahu. Aku tahu karena aku sering mendengarkannya berpiano. Dia cenderung senang melantunkan lagu berirama cepat.
"(Nama)," Blaze menepuk pundakku. Aku menoleh padanya, memerhatikan bagaimana dia berpakaian hari ini. Katanya dia mau membantuku di perkebunan.
Secara teknis, aku pergi ke rumah Kakek dua kali sehari, untuk menyirami tanaman-tanamannya, dan menjenguk Kimbab, Sushi, serta Lontong. Di pagi dan sore hari. Kadang aku pergi sendiri, dan di kunjungan sore, aku seringkali ditemani Blaze, atau ditengok Blaze saat Blaze sedang mengurusi proyek jalan tolnya; kantor ayam itu berada tak terlalu jauh dari perkebunan Kakek. Dia bahkan bekerja memantau mandor yang mengerjakan pengerukkan tanah di bawah bukit dimana perkebunanku dibangun. Tak sulit menjumpai wajahnya. Sungguh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blaze x Reader | Harvest Moon
Fanfiction|Blaze x Reader| Tadinya aku berpikir, aku hanya akan berkutat di dunia e-sport seumur hidup. Mengurus tim, live streaming setiap hari, sampai dimana aku pensiun karena sudah tua. Tapi nyatanya, kekalahan itu menjadikan aku diistirahatkan, dan untuk...
